Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Jejak Kolonial di Balik Berdirinya Istana Kedatuan Luwu

Jejak Kolonial di Balik Berdirinya Istana Kedatuan Luwu
Kedatuan Luwu di Kota palopo, Sulawesi Selatan. (IDN Times/Lia Hutasoit)
Intinya Sih
Timeline
5W1H
Gini Kak
Sisi Positif
  • Istana Kedatuan Luwu di Palopo dibangun tahun 1920 oleh Belanda setelah Raja Andi Kambo menandatangani perjanjian Korte Verklaring dan mengakui kekuasaan kolonial.
  • Bangunan bergaya kolonial ini tetap mempertahankan identitas lokal dengan ornamen khas Luwu, simbol pajung, serta koleksi pusaka dan foto para Datu Luwu di dalamnya.
  • Saat ini Kedatuan Luwu dipimpin Datu ke-40, Andi Maradang Mackulau Opu To Bau, dan istananya menjadi destinasi sejarah serta wisata edukasi bagi masyarakat.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?
Share Article

Palopo, IDN Times - Di tengah Kota Palopo berdiri sebuah bangunan tua bercat putih dengan halaman luas yang bernuansa tenang. Bangunan itu adalah Istana Kedatuan Luwu atau yang dikenal sebagai Langkanae, simbol sejarah panjang Tanah Luwu yang pernah menjadi salah satu pusat peradaban tertua di Sulawesi Selatan.

"Ini adalah tempat yang telah dibangun oleh kolonialisme Belanda pada tahun 1920 setelah rajanya yaitu Andi Kambo, mengakui pemerintah Belanda sebagai rajanya, yaitu Ratu Wilhelmina," kata Jemma Tongeng atau Juru Bicara Istana Kedatuan, Andi Abdullah Sanad Kaddiraja, saat IDN Times berkunjung, Jumat (22/5/2026).

Andi Kambo mengakui kekuasaan Belanda dan menandatangani perjanjian Korte Verklaring (Perjanjian Pendek) pada tahun 1907. Dia terpaksa tunduk setelah Belanda mengancam akan menghancurkan Kerajaan Luwu menyusul perlawanan rakyat.

1. Tak campuri pelaksanaan pemerintahan saat ini

Kedatuan Luwu di Kota palopo, Sulawesi Selatan.
Kedatuan Luwu di Kota palopo, Sulawesi Selatan. (IDN Times/Lia Hutasoit)

Kedatuan Luwu adalah salah satu kerajaan Bugis tertua dan pusat peradaban paling berpengaruh di Sulawesi Selatan. Wilayahnya yang dikenal sebagai Tana Luwu meliputi Kabupaten Luwu, Luwu Utara, Luwu Timur, dan Kota Palopo.

Kedatuan ini sangat dihormati sebagai tanah leluhur orang Bugis dan latar utama mahakarya sastra dunia atau naskah epik I La Galigo sebagai salah satu wilayah penting dalam sejarah masyarakat Bugis.

Andi mengatakan, eksistensi Dewan Adat Sembilan atau dikenal dengan Ade Asera masih aktif secara sosial, tetapi tak mencampuri pelaksanaan pemerintahan yang ada saat ini.

"Secara sosial kami masih aktif kami masih punya perangkat adat yang menganut aturan adat sembilan," kata dia.

2. Istana bergaya Eropa dengan identitas lokal

Kedatuan Luwu di Kota palopo, Sulawesi Selatan.
Kedatuan Luwu di Kota palopo, Sulawesi Selatan. (IDN Times/Lia Hutasoit)

Saat pusat pemerintahan dipindahkan ke Palopo pada abad ke-16, kawasan ini perlahan tumbuh menjadi pusat politik, budaya, dan penyebaran Islam di wilayah timur Sulawesi Selatan. Bangunan istana yang berdiri saat ini dibangun sekitar tahun 1920 pada masa pemerintahan Datu Luwu Andi Kambo.

Sebelumnya, istana lama berbentuk rumah panggung kayu. Versi sejarah menyebut bangunan lama itu hancur terbakar sebelum diganti bangunan permanen bergaya kolonial oleh Pemerintah Hindia Belanda.

Meski bergaya Eropa, istana ini tetap menyimpan identitas lokal. Ornamen khas Luwu, halaman luas, hingga simbol pajung atau payung kebesaran kerajaan masih menjadi bagian penting dari bangunan tersebut. Di dalamnya tersimpan berbagai benda pusaka, foto para Datu Luwu, serta jejak perjalanan kerajaan yang pernah disegani di jazirah Sulawesi.

3. Dipimpin Andi Maradang Mackulau Opu To Bau

Kedatuan Luwu di Kota palopo, Sulawesi Selatan.
Kedatuan Luwu di Kota palopo, Sulawesi Selatan. (IDN Times/Lia Hutasoit)

Istana Kedatuan Luwu kini menjadi salah satu penanda sejarah utama di Palopo. Di tengah perkembangan kota, bangunan ini tetap berdiri jadi pengingat Luwu bukan hanya cerita masa lalu, tetapi juga bagian dari identitas masyarakat yang masih hidup hingga hari ini.

Kini, Kesatuan Luwu dipimpin oleh Andi Maradang Mackulau Opu To Bau. Dia menjadi Datu Luwu ke-40 yang dinobatkan pada Desember 2012, melanjutkan estafet kepemimpinan dari kakaknya, Andi Luwu Opu Daengna Patiware Petta Mattinroe Ri Alebirenna.

4. Istana Datu Luwu punya denah persegi panjang

WhatsApp Image 2026-05-22 at 10.18.56.jpeg
Kedatuan Luwu di Kota palopo, Sulawesi Selatan. (IDN Times/Lia Hutasoit)

Istana Datu Luwu memiliki denah persegi panjang dengan pola menyerupai huruf H dan atap limasan berbahan sirap kayu ulin. Bangunan ini terdiri dari empat bagian utama.

Ruang depan yang paling luas kini difungsikan sebagai museum koleksi kerajaan. Bagian tengah digunakan sebagai ruang Datu Luwu dan tempat penyimpanan arajang atau pusaka kerajaan yang dihubungkan lorong dan dilengkapi kamar mandi.

Sementara bagian belakang dipakai sebagai ruang makan, kamar tidur, gudang, dan fasilitas lainnya. Istana tersebut memiliki 17 jendela bercorak klasik dengan perpaduan warna hijau dan kuning. Pintu dan jendelanya berbentuk segi empat dengan ornamen krepyak dan beberapa dilengkapi terali besi.

5. Wisata edukasi anak-anak

Kedatuan Luwu di Kota palopo, Sulawesi Selatan.
Kedatuan Luwu di Kota palopo, Sulawesi Selatan. (IDN Times/Lia Hutasoit)

Dari pantauan IDN Times tak sedikit masyarakat yang mengunjungi Istana ini. Sejumlah anak sekolah juga tampak melaksanakan wisata edukasi di istana yang bersejarah tersebut.

Kunjungan ke Istana Kedatuan Luwu merupakan bagian dari perjalanan IDN Times dan beberapa media dengan Kantor Imigrasi Kelas II Non TPI Palopo. Kepala Kantor Imigrasi Palopo, Yogie Kashogi, mengatakan, pihaknya tak sekali dua kali melakukan koordinasi dengan Kedatuan Luwu.

"Karena sejatinya kami ini di Imigrasi Palopo membawahi Luwu Raya serta Luwu Utara, jadi kami pun senantiasa berkoordinasi dengan Kedatuan. Alhamdulillah ada beberapa kesempatan kami sempat bertemu dengan Datu Luwu di sini, waktu kemarin ada kegiatan Hari Perlawanan Rakyat Luwu di sini," kata Yogie.

Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Deti Mega Purnamasari
EditorDeti Mega Purnamasari

Related Articles

See More