Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

KSAD Targetkan 5.000 Jembatan Rampung di Akhir 2026

KSAD Targetkan 5.000 Jembatan Rampung di Akhir 2026
TNI resmikan 2.500 jembatan di berbagai wilayah Indonesia. (IDN Times/Imam Faishal)
  • TNI AD meresmikan 2.500 dari 3.008 titik jembatan yang dikerjakan di Indonesia, termasuk jembatan di Desa Rodomanah, Cibarusah, Kabupaten Bekasi.
  • KSAD Jenderal Maruli Simanjuntak menargetkan 5.000 jembatan selesai pada akhir 2026, dengan pengerjaan harian dapat mencapai lebih dari 50 hingga hampir 100 jembatan.
  • Pembangunan menjangkau wilayah sulit seperti NTT dan Ogan Komering Ilir; jembatan Kali Cilodong di Bekasi memudahkan warga mengangkut hasil panen.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Bekasi, IDN Times - TNI Angkatan Darat (AD) meresmikan sebanyak 2.500 jembatan di berbagai wilayah Indonesia, Kamis (13/8/2026). Salah satu jembatan yang diresmikan berlokasi di Desa Rodomanah, Kecamatan Cibarusah, Kabupaten Bekasi.

Kepala Staf TNI Angkatan Darat (KSAD) Jenderal TNI Maruli Simanjuntak mengatakan pembangunan tersebut merupakan bagian dari upaya membuka akses masyarakat di berbagai wilayah.

Maruli mengatakan, hingga saat ini TNI AD telah mengerjakan pembangunan di 3.008 titik jembatan. Dari jumlah tersebut, sebanyak 2.500 jembatan telah diselesaikan dan diresmikan.

"Kita meresmikan jembatan TNI dan Polri. Kami dari TNI Angkatan Darat sudah menerjakan 3.008 titik jembatan. Dan juga per hari ini kita selesaikan 2.500 jembatan di tempat ini," kata Maruli di Bekasi, Kamis.

  1. 1. Target 5.000 jembatan rampung akhir tahun

    IMG_20260813_111937.jpg
    Kepala Staf TNI Angkatan Darat (KASAD) Jenderal TNI Maruli Simanjuntak. (IDN Times/Imam Faishal)

    Maruli menargetkan pembangunan jembatan terus dikebut hingga mencapai 5.000 jembatan yang selesai pada akhir 2026.

    "Saya kira itu yang saya sampaikan. Dan ini memang selalu diperlukan kerja sama dari masyarakat. Jadi kehidupan bergotong rayong itu hal yang penting," jelasnya.

    Menurutnya, proses pembangunan saat ini dapat berlangsung lebih cepat. Dalam sehari, pengerjaan bahkan bisa mencapai lebih dari 50 hingga hampir 100 jembatan.

    "Memang setiap hari sekarang ini bisa selesai, kadang bisa sampai di atas 50, hampir 100. Itu karena memulainya berbeda-beda," jelas Maruli.

  2. 2. Pembangunan menyasar daerah dengan akses sulit

    IMG_20260813_101609.jpg
    Jembatan di atas Kali Cilodong, Desa Rodomanah, Kecamatan Cibarusah, Kabupaten Bekasi. (IDN Times/Imam Faishal)

    Maruli mengatakan pembangunan jembatan tidak hanya dilakukan di wilayah yang mudah dijangkau. Pihaknya juga mengerjakan jembatan di sejumlah daerah dengan kondisi geografis dan akses yang sulit.

    Salah satunya di wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT). Karena keterbatasan perlengkapan di lokasi, TNI harus mengerahkan kapal laut untuk membawa peralatan pembangunan.

    "Jadi kita harus bawa semua alat. Sekarang kita buat di NTT, karena perlengkapan di sana tidak ada, kami mengerahkan kapal laut ke sana. Sampai 2 kapal karena kita membuat 4 jembatan besar di daerah Kupang," ujarnya.

    Kondisi serupa terjadi di Ogan Komering Ilir. Di wilayah tersebut, pembangunan jembatan menghadapi kondisi rawa sehingga membutuhkan konstruksi beton yang kuat dan pengiriman material menggunakan ponton.

    "Demikian juga di daerah-daerah lain, tadi yang saya sampaikan di daerah Ogan Komering Ilir itu rawa sehingga betonnya harus betul-betul kuat. Dan juga dropping-nya harus pakai ponton," kata Maruli.

  3. 3. Jembatan sangat dibutuhkan masyarakat

    IMG_20260813_112512.jpg
    Jembatan di atas Kali Cilodong, Desa Rodomanah, Kecamatan Cibarusah, Kabupaten Bekasi. (IDN Times/Imam Faishal)

    Di Kabupaten Bekasi, jembatan dibangun di atas Kali Cilodong, Desa Rodomanah, Kecamatan Cibarusah. Jembatan sepanjang 80 meter itu menghubungkan kampung Cilodong dengan lahan pertanian warga.

    Salah satu warga sekitar, Maman (38) merasa bersyukur dengan adanya jembatan tersebut. Sebelumnya, warga harus menggunakan rakit bambu untuk membawa hasil panen dengan menyeberangi kali.

    "Alhamdulillah, adanya jembatan ini jadi mempermudah kami untuk membawa hasil panen. Soalnya kalo kali sedang naik, kita engga bisa bawa hasil panen. Harus nunggu kali surut dulu," jelas Maman.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More