Menguak Ancaman di Balik Ledakan Ikan Sapu-Sapu Kuasai Sungai Jakarta

- Pemerintah DKI Jakarta membentuk tim khusus PJLP untuk menangkap ikan sapu-sapu yang telah mendominasi lebih dari 60 persen biota sungai dan mengancam keseimbangan ekosistem perairan.
- Hasil uji laboratorium menunjukkan tingginya cemaran bakteri E. coli di Sungai Ciliwung dan Pintu Air Manggarai, menandakan pencemaran biologis serius meski kadar logam berat masih dalam batas aman.
- Pakar IPB menegaskan pengendalian ikan sapu-sapu harus terpadu melalui pencegahan, penangkapan fisik, kontrol biologis, serta regulasi perdagangan ikan hias agar populasinya tidak kembali meledak.
Jakarta, IDN Times - Kondisi sungai di sejumlah titik Jakarta menyimpan ancaman yang tak selalu terlihat di permukaan. Beberapa hari lalu, di atas ponton biru yang mengapung di Kali Kodamar, Jakarta Utara, Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung berdiri di tengah kerumunan. Jaket merah, putih, hitam yang dikenakannya kontras dengan warna air kali yang gelap.
Di bawahnya, petugas gabungan berjibaku di dalam air keruh. Aba-aba terdengar bersahutan, jaring ditarik perlahan. Satu per satu ikan sapu-sapu terangkat ke permukaan.
Pramono mengambil dua ikan hasil tangkapan petugas Sekilas, ia menyebut ikan itu tampak “lucu” lemas saat dipegang, seolah tak berdaya. Namun kesan itu segera berubah.
Di balik bentuknya yang dianggap tak berbahaya, ikan sapu-sapu justru menjadi ancaman serius bagi ekosistem sungai Jakarta. Populasinya disebut telah mendominasi lebih dari 60 persen biota air, menggeser spesies lokal dan merusak keseimbangan lingkungan. Ia menyebut ikan ini sangat adaptif dan mampu bertahan di berbagai kondisi air, sehingga mendominasi populasi.
"Ini berbahaya, karena biota air di Jakarta diperkirakan sudah di atas 60 persen adalah ikan sapu-sapu ini dan harus secara masif mulai dikurangi supaya normal kembali," kata Pramono saat menangkap Ikan di Kelapa Gading, Jakarta Utara, Jumat (17/4/2026).
1. Bentuk tim khusus untuk berantas ikan sapu-sapu

Pramono menambahkan, ikan sapu-sapu berasal dari Amerika Selatan dan di habitat asalnya pun telah menjadi persoalan serius hingga dilakukan pemusnahan terbatas. Di beberapa tempat, ikan tersebut bahkan dimanfaatkan sebagai pakan ternak setelah melalui proses pengolahan.
"Ikan ini cukup membahayakan. Dalam rapat tadi, kami sudah memutuskan bahwa di lima wilayah akan diadakan kegiatan untuk mengurangi populasi ikan sapu-sapu. Namun, kegiatan ini tidak semata-mata hanya untuk ikan sapu-sapu, tetapi juga mengangkut sedimen serta memperbaiki saluran air," katanya
Pramono mengungkapkan bahwa kadar residu pada ikan sapu-sapu rata-rata telah berada di atas 0,3, yang dinilai berbahaya. Karena itu, pemerintah daerah memilih untuk fokus pada upaya pengendalian populasi.
“Maka kami melakukan tindakan untuk mengurangi populasi ini semaksimal mungkin, karena kalau dibiarkan sebentar saja, dominasinya pasti akan kembali,” ujarnya.
Karena itu, Pramono menegaskan penanganan harus dilakukan secara masif, termasuk dengan mengubur hasil tangkapan agar tidak kembali ke perairan.
“Harus mulai dikurangi secara besar-besaran supaya ekosistemnya bisa kembali normal,” katanya.
Tak main main, Pramono bahkan akan mengatakan akan membentuk tim khusus dari petugas Penyedia Jasa Lainnya Perorangan (PJLP) untuk menangkap ikan sapu-sapu di Jakarta.
"Kemudian PJLP yang bertugas khusus nanti kami akan tugaskan untuk merawat ataupun mengambil ikan sapu-sapu yang ada di selokan di sungai-sungai yang seperti ini dan sebagainya," katanya.
2. Hasil lab kandungan ikan sapu-sapu di Sungai Ciliwung dan Pintu Air Manggarai

Berdasarkan dokumen hasil uji laboratorium yang dikeluarkan PT Mutuagung Lestari Tbk (Mutu International) lembaga pengujian, inspeksi, dan sertifikasi ikan sapu-sapu dari aliran Sungai Ciliwung hingga Pintu Air Manggarai menyimpan persoalan yang tak terlihat yakni cemaran bakteri yang tinggi.
Pada sampel kedua yang diambil dari aliran Sungai Ciliwung, hasil uji menunjukkan adanya kandungan bakteri Escherichia coli (E. coli) sebesar 24 MPN/gram. Angka ini melampaui ambang batas aman yang ditetapkan, yakni kurang dari 3 MPN/gram.
Kehadiran E. coli dalam jumlah tinggi umumnya berkaitan dengan kontaminasi limbah domestik, seperti buangan rumah tangga atau kotoran manusia. Artinya, air yang menjadi habitat ikan tersebut telah tercemar secara biologis.
Dari sisi logam berat, kandungan merkuri (Hg) dalam sampel tercatat sebesar 0,166 mg/kg. Nilai ini masih berada di bawah batas maksimal 0,5 mg/kg, namun menunjukkan adanya paparan zat pencemar di lingkungan perairan.
Selain itu kondisi yang lebih mencolok ditemukan pada sampel ketiga yang diambil dari kawasan Pintu Air Manggarai.
Hasil uji menunjukkan kandungan E. coli mencapai 350 MPN/gram atau lebih dari 100 kali lipat di atas batas aman. Lonjakan ini menandakan tingkat pencemaran biologis yang jauh lebih tinggi dibandingkan titik sebelumnya.
Di sisi lain, kandungan logam berat di lokasi ini masih berada dalam batas aman. Kadar timbal (Pb) tercatat sebesar 0,118 mg/kg (batas maksimal 0,3 mg/kg), sementara merkuri (Hg) sebesar 0,082 mg/kg (batas maksimal 0,5 mg/kg). Kandungan kadmium (Cd) juga terdeteksi rendah.
Dalam laporan yang dipublikasikan, kandungan bakteri Escherichia coli pada salah satu sampel di Sungai Ciliwung mencapai 24 MPN/gram, melampaui ambang batas aman. Di titik lain, yakni Manggarai, angkanya melonjak hingga 350 MPN/gram lebih dari 100 kali lipat dari standar.
Sementara itu, kandungan logam berat seperti merkuri dan timbal memang masih berada di bawah batas aman. Namun tingginya cemaran bakteri menjadi penanda lain: kualitas air yang terus tertekan oleh limbah, terutama dari aktivitas domestik.
3. Pakar ungkap pengendalian ikan sapu-sapu harus terpadu

Ledakan populasi ikan sapu-sapu di sungai-sungai Jakarta kian meresahkan. Di tengah Pemprov DKI Jakarta memperluas penangkapan massal, pakar IPB University mengingatkan bahwa pendekatan tersebut belum cukup efektif jika dilakukan secara tunggal.
Pakar ikan dan konservasi ikan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB University, Charles Simanjuntak, menegaskan bahwa pengendalian populasi ikan sapu-sapu harus dilakukan secara terpadu.
“Cara yang paling efektif adalah menggabungkan beberapa metode secara terpadu. Mulai dari pencegahan, penangkapan, hingga kontrol biologis,” ungkapnya dikutip dalam siaran pers IPB.
Ikan sapu-sapu (Pterygoplichthys pardalis) merupakan ikan asing introduksi yang dikenal sebagai spesies invasif dengan kemampuan reproduksi sangat tinggi. Dalam satu siklus, seekor betina mampu menghasilkan hingga 19.000 telur dan dapat berkembang biak beberapa kali dalam setahun.
“Satu ekor ikan jantan dapat membuahi dua ekor ikan betina. Ikan jantan akan menjaga telur di dalam liang yang mereka gali sampai menetas sehingga sintasan (persentase kelangsungan hidup) bisa mencapai lebih dari 90 persen,” paparnya.
Tak hanya itu, ikan ini mampu bereproduksi pada ukuran yang masih kecil (23,9–28,99 cm untuk jantan dan 13,0–25,98 cm untuk betina), sehingga mempercepat siklus invasi.
Ikan ini juga bersifat omnivora dan memiliki kemampuan adaptasi tinggi terhadap berbagai sumber makanan. Di habitat asalnya di Sungai Amazon, Amerika Selatan, predator alami ikan sapu-sapu adalah ikan Common Snook (Centropomus undecimalis), ikan Tarpon (Megalops atlanticus), buaya Spectacled Caiman (Caiman crocodilus), dan burung Neotropic Cormorant (Phalacrocorax brasilianus).
“Tidak adanya predator spesifik di ekosistem seperti Sungai Ciliwung menjadi alasan utama mengapa ikan ini sangat sulit dikendalikan,” jelasnya.
Untuk itu, ia menekankan pentingnya kombinasi tindakan pengendalian: pencegahan, penangkapan secara fisik, dan kontrol biologis. Dari sisi pencegahan, Dr Charles menyarankan,
“Pemprov Jakarta perlu memperkuat regulasi perdagangan ikan hias dan meningkatkan kesadaran masyarakat agar tidak melepas ikan sapu-sapu ke perairan alami, baik sengaja maupun tidak.”
Selain itu, teknologi pemantauan dini seperti environmental DNA (eDNA) dinilai efektif untuk mendeteksi keberadaan ikan sejak awal sebelum populasinya meledak.
4. Pembenahan harus berkelanjutan

Sementara Ketua Komisi D DPRD DKI Jakarta Yuke Yurike mengingatkan, pengendalian ikan sapu-sapu harus diiringi penataan lingkungan sungai secara menyeluruh. Sehingga hasilnya efektif dan berkelanjutan.
Ia menilai, langkah penangkapan ikan sapu-sapu perlu berlanjut dengan pembenahan saluran, kali, sungai, hingga kawasan daerah aliran sungai (DAS).
Sedimentasi di sejumlah titik juga harus menjadi perhatian. Sebab berdampak pada lingkungan dan pengendalian banjir.
“Saluran, sungai, kali, sampai kawasan DAS harus menjadi perhatian,” kata politikus PDI Perjuangan itu.
Yuke juga meminta kaji ulang penataan vegetasi di bantaran sungai. Hal itu seiring perubahan kawasan akibat pembangunan. Langkah tersebut untuk menjaga keseimbangan lingkungan.
5. Kementerian KKP akan revisi aturan

Ancaman nyata ledakan ikan sapu-sapu membuat Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) RI bergerak. KKP akan merevisi aturan Peraturan Menteri Nomor 19 Tahun 2020 untuk mengendalikan populasi ikan sapu-sapu.
Direktur Jenderal Perikanan Budidaya KKP RI, Haeru Rahayu, mengatakan pengendalian ikan sapu-sapu perlu dilakukan karena populasinya sudah sangat besar.
“Kenapa ikan sapu-sapu ini wajib kita kendalikan? Karena populasinya sudah begitu dahsyat. Banyak cara sebetulnya, secara biologis kita belum ada predator yang langsung memakan. Kalau pun ada, nanti akan menjadi persoalan selanjutnya,” ujarnya.
Ia menjelaskan, pendekatan secara kimia juga berpotensi menimbulkan masalah bagi lingkungan. Karena itu, hingga saat ini metode yang paling efektif adalah cara konvensional, seperti penangkapan langsung.
KKP saat ini sedang menyiapkan perangkatnya dalam bentuk Peraturan Menteri. Sudah ada yang Nomor 19 Tahun 2020 dan saat ini sedang dilakukan revisi supaya bisa lebih aplikatif dalam rangka pengendalian populasi ikan sapu-sapu ini,” ujarnya.

















