Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Awas DVT! Dokter Haji Bagikan Trik Bebas Kram Saat Terbang ke Saudi

Awas DVT! Dokter Haji Bagikan Trik Bebas Kram Saat Terbang ke Saudi
Jemaah haji Sumatera Selatan kloter 2 bersiap berangkat ke Tanah Suci dari Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang menggunakan pesawat Saudia (Dok. Kemenhaj untuk IDN Times)
Intinya Sih
  • dr. M. Kadhafi mengingatkan jemaah haji agar menjaga hidrasi dengan minum sedikit-sedikit selama penerbangan panjang untuk mencegah dehidrasi tanpa sering ke toilet.
  • Jemaah disarankan rutin melakukan peregangan kaki dan tangan setiap dua hingga tiga jam di pesawat guna mencegah kram serta risiko Deep Vein Thrombosis (DVT).
  • Setibanya di Arab Saudi, jemaah diminta menyesuaikan aktivitas dengan kondisi tubuh; terutama yang tiba di Jeddah disarankan istirahat sebelum menjalani umrah wajib.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Madinah, IDN Times – Perjalanan panjang menuju Tanah Suci kerap memicu kelelahan ekstrem dan risiko gangguan kesehatan bagi jemaah haji Indonesia. Waktu tempuh perjalanan darat dari daerah asal menuju embarkasi, ditambah waktu tunggu 24 jam, serta penerbangan udara yang memakan waktu sembilan hingga sepuluh jam, menuntut jemaah untuk cerdas menjaga kebugaran fisik.

Petugas Kesehatan Daerah Kerja (Daker) Bandara PPIH Arab Saudi, dr. M. Kadhafi, menyoroti kebiasaan keliru jemaah saat berada di dalam pesawat. Banyak jemaah yang sengaja menahan haus demi menghindari toilet pesawat.

"Rata-rata jemaah itu takut minum karena takut kencing di pesawat. Tipsnya minumnya jangan langsung banyak. Jadi, minumnya sedikit-sedikit karena kapasitas dari kantong kencing kita tuh terbatas," imbau dr. Kadhafi.

Dokter yang bekerja di RS H. Badaruddin Kasim, Tabalong, Kalimantan Selatan ini menjelaskan bahwa meminum air dalam jumlah banyak sekaligus akan membuat tubuh langsung membuangnya melalui urine. Sebaliknya, jika diminum sedikit demi sedikit secara berkala, cairan tersebut akan diserap optimal oleh tubuh, sehingga status hidrasi jemaah tetap terjaga dengan baik tanpa harus bolak-balik ke kamar kecil.

1. Bahaya DVT dalam perjalanan panjang

Petugas kesehatan Daker Bandara PPIH Arab Saudi mengenakan seragam krem dengan latar belakang logo Makkah Route bergambar ikon perjalanan haji.
Petugas Kesehatan Daerah Kerja (Daker) Bandara PPIH Arab Saudi, dr. M. Kadhafi (IDN Times/Yogie Fadila)

Selain menjaga asupan cairan, pergerakan fisik di dalam kabin pesawat adalah hal yang mutlak dilakukan. Duduk terlampau lama dalam penerbangan jarak jauh, terutama bagi jemaah yang memiliki riwayat kencing manis atau diabetes, berisiko memicu Deep Vein Thrombosis (DVT). Penyakit DVT ini merupakan kondisi terjadinya sumbatan pada pembuluh darah akibat darah yang relatif lebih kental.

Dr. Kadhafi memperingatkan dampak fatal dari kondisi tersebut. "Nah, DVT ini kalau sudah kena itu nyeri banget kakinya, ototnya itu bisa bisa jadi kayak papan dan untuk mencegah itu harus stretching," tegasnya.

2. Tips mencegah kram di pesawat

Infografis berisi panduan peregangan bagi jemaah haji di pesawat, termasuk gerakan leher, bahu, kaki, dan pergelangan kaki untuk menjaga kenyamanan selama penerbangan.
Infografis dari Kementerian Haji dan Umrah RI menampilkan tips peregangan bagi jemaah haji di pesawat. Berisi panduan gerakan sederhana seperti peregangan leher, putaran bahu, dan kaki untuk menjaga sirkulasi darah serta mencegah kekakuan otot selama penerbangan jarak jauh.

Untuk mencegah kram dan DVT, jemaah dianjurkan melakukan peregangan setiap dua atau tiga jam sekali. Salah satu cara termudahnya adalah memanfaatkan waktu berjalan ke toilet, atau sekadar berjalan ringan di lorong kabin saat lampu tanda sabuk pengaman sudah dimatikan.

Jika enggan beranjak dari tempat duduk, jemaah tetap bisa melakukan peregangan statis. Berdasarkan arahan dr. Kadhafi, jemaah cukup memutar pergelangan kaki ke arah luar dan ke arah dalam, serta menggerakkannya ke kanan dan kiri. Untuk bagian atas tubuh, jemaah bisa melakukan peregangan tangan biasa. Gerakan-gerakan ringan ini sangat praktis, tidak akan mengganggu penumpang lain di sebelah kursi, dan pelaksanaannya akan dipandu langsung oleh tenaga kesehatan kloter di pesawat.

3. Tantangan saat menempuh perjalanan darat

Petugas polisi Arab Saudi memeriksa visa penumpang di dalam bus dengan pencahayaan biru, memastikan dokumen perjalanan sesuai aturan.
Seorang polisi Arab Saudi melakukan pemeriksaan visa terhadap penumpang bus dari Jeddah tujuan Makkah. Proses pemeriksaan dilakukan secara ketat dan berlapis untuk memastikan keabsahan dokumen perjalanan para penumpang. (Dok. MCH 2026)

Tantangan fisik jemaah tidak berhenti saat pesawat mendarat. Terdapat perbedaan perlakuan kesehatan yang sangat bergantung pada lokasi pendaratan jemaah, yakni antara Madinah (gelombang pertama) dan Jeddah (gelombang kedua).

Bagi jemaah yang mendarat di Madinah, kondisinya relatif lebih aman karena jarak dari bandara menuju hotel hanya sekitar 15 kilometer dan dapat ditempuh dalam waktu 15 hingga 20 menit. Setibanya di hotel, jemaah sangat dianjurkan untuk langsung beristirahat.

Terkait jemaah yang kerap memaksakan diri langsung menuju Masjid Nabawi demi mengejar ibadah Arbain padahal baru saja mendarat, dr. Kadhafi menyarankan agar jemaah mengukur kemampuan tubuh. Jika datang pada waktu Zuhur, lebih baik beristirahat terlebih dahulu di kamar dan menjamak salat. Barulah pada waktu Magrib jemaah bisa memulai aktivitas di masjid. Namun, jika tubuh dirasa benar-benar fit dan usia masih muda, hal tersebut diperbolehkan, asalkan jemaah lansia tetap memprioritaskan istirahat.

Kewaspadaan tingkat tinggi justru ditujukan bagi jemaah gelombang kedua yang mendarat di Jeddah. Jarak tempuh dari Jeddah menuju Makkah mencapai 100 kilometer. Meski dalam kondisi normal bisa ditempuh dalam satu hingga dua jam, kemacetan lalu lintas bus saat musim haji bisa membuat durasi perjalanan membengkak hingga 12 jam.

Setibanya di Makkah, jemaah gelombang kedua memiliki kewajiban langsung melaksanakan umrah wajib, yakni Tawaf dan Sa'i. Di sinilah titik kritis kelelahan kerap terjadi. Dr. Kadhafi mewanti-wanti agar jemaah tidak langsung menuju Masjidil Haram begitu tiba di lobi hotel.

"Saran saya ketika kita sampai di hotel jamaah harus istirahat dulu. Taruh barang di kamar. Istirahat di kamar tidur barang 1-2 jam baru melengkapi syarat untuk umrah wajibnya. Jemaah-jemaah tua dipaksakan untuk tawaf sai itu resikonya sangat besar. Kalau pas baru datang langsung tawaf sai," pungkas dr. Kadhafi memberikan peringatan.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Yogie Fadila
EditorYogie Fadila
Follow Us

Related Articles

See More