Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Menhan Jepang Sambangi Kemhan, Ingin Tingkatkan Kerja Sama Pertahanan

Menhan Jepang Sambangi Kemhan, Ingin Tingkatkan Kerja Sama Pertahanan
Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin (kanan) ketika menyambut kedatangan Menhan Jepang, Shinjiro Koizumi di kantor Kementerian Pertahanan, Jakarta Pusat. (IDN Times/Santi Dewi)
Intinya Sih
  • Menhan Jepang Shinjiro Koizumi berkunjung ke Kemhan RI dan menandatangani Pengaturan Kerja Sama Pertahanan (DCA) bersama Menhan Sjafrie sebagai langkah memperkuat hubungan pertahanan kedua negara.
  • Sjafrie menyebut pertemuan ini sebagai babak baru kerja sama pertahanan Indonesia-Jepang yang berlandaskan saling menghormati, saling menguntungkan, serta mencakup kolaborasi di bidang kemanusiaan dan penanggulangan bencana.
  • Kunjungan Koizumi bertepatan dengan kebijakan baru Jepang yang menghapus batasan transfer peralatan dan teknologi pertahanan, membuka peluang bagi Indonesia memperoleh alutsista dari Negeri Sakura.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Jakarta, IDN Times - Menteri Pertahanan Jepang Shinjiro Koizumi menyambangi kantor Kementerian Pertahanan, Jakarta Pusat pada Senin (4/5/2026). Ia tiba di Kemhan usai sebelumnya bersama Sjafrie menghabiskan hari Minggu di Pulau Bali.

Shinjiro tiba di Bandara Soekarno-Hatta, Banten pada Minggu sore kemarin. Ia lalu diajak Sjafrie naik Boeing 737-800 menuju ke Pulau Dewata. Koizumi dan Sjafrie saling mengenalkan budaya kedua negara selama 12 jam berada di Bali.

Pada Senin pagi, Sjafrie mengajak Koizumi kembali ke Jakarta dengan pesawat yang sama. Lalu, turun di Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur.

Koizumi mengucapkan terima kasih kepada mantan Pangdam Jaya itu dan jajaran Kemhan atas sambutan yang hangat di dalam kunjungan perdananya ke Jakarta. Ia pun sempat menyinggung undangan dari Sjafrie untuk menghabiskan waktu sejenak di Bali.

"Kemarin atas undangan Bapak Menteri Pertahanan, saya ke Bali dengan pesawat khusus yang disediakan oleh Beliau. Secara pribadi dalam waktu yang singkat, saya dapat mengenal lebih jauh kekayaan kuliner dan budaya tradisional Indonesia," ujar Koizumi ketika memberikan keterangan di kantor Kemhan, Jakpus dalam Bahasa Jepang yang diterjemahkan ke Bahasa Indonesia pada Senin (4/5/2026).

"Hal ini bisa mempererat persahabatan dengan Beliau di tengah keindahan alam yang luar biasa. Saya merasakan, siapapun orangnya pasti suka dengan Bapak Sjafrie karena keramah tamahannya," imbuhnya.

1. Jepang ingin bawa kerja sama pertahanan dengan RI ke level lebih tinggi

Sjafrie Sjamsoeddin, Shinjiro Koizumi
Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin (kanan) ketika menyambut kedatangan Menhan Jepang, Shinjiro Koizumi di Bali. (Dokumentasi Kementerian Pertahanan)

Lebih lanjut, Koizumi mengatakan perjumpaan dengan Sjafrie di Jakarta bukan momen pertemuan perdana. Pria berusia 45 tahun itu sudah pernah bertemu Sjafrie pada November 2025 lalu. Bahkan, pada April lalu, Koizumi turut berbincang dengan Sjafrie di Bandara Narita ketika ia hendak ke Jakarta dari perjalanan dinas di Amerika Serikat (AS).

"Dalam pertemuan pada November 2025 lalu saya menyampaikan keinginan untuk membawa hubungan kedua negara ke level yang baru bersama Menteri Sjafrie. Beliau memberikan dukungan yang sangat kuat terhadap hal tersebut," kata Koizumi.

Sjafrie pun menyambut keinginan Negeri Sakura dengan mengusulkan penyusunan Pengaturan Kerja Sama Pertahanan (DCA) sebagai kompas besar yang akan menunjukkan arah kerjasama pertahanan kedua negara di masa depan.

"Hari ini kami menandatangani kesepakatan tersebut. Ini merupakan tonggak sejarah yang sangat krusial bagi hubungan pertahanan Jepang dengan Indonesia," tutur dia.

2. Sjafrie sebut kunjungan Menhan Koizumi jadi babak baru kerjasama pertahanan RI-Jepang

Sjafrie Sjamsoeddin, Shinjiro Koizumi
Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin (kanan) ketika menyambut kedatangan Menhan Jepang, Shinjiro Koizumi di Bali. (Dokumentasi Kementerian Pertahanan)

Sementara, Sjafrie mengatakan pada Senin (4/5/2026) menjadi penanda babak baru karena mengadakan pertemuan perdana Menhan Jepang-Indonesia tahun 2026. Ini menunjukkan kerja sama yang dibangun oleh kedua negara berdasarkan kepentingan bersama.

"Hal ini menunjukkan bahwa kami melakukan (kerja sama) dengan mutual respect, mutual benefit, dan mutual advantage di antara Jepang dan Indonesia, khususnya Kementerian Pertahanan kedua negara," katanya.

Ia mengatakan kedua pejabat tinggi akan melakukan pertukaran pandangan secara konstruktif mengenai pembangunan pertahanan kedua negara. "Kami juga akan saling bekerjasama dalam hubungan kemanusiaan untuk penanggulangan bencana alam," tutur dia.

3. Momen kunjungan Menhan Koizumi bersamaan dengan kebijakan baru di bidang pertahanan

Sjafrie Sjamsoeddin, Shinjiro Koizumi
Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin (kanan) ketika menyambut kedatangan Menhan Jepang, Shinjiro Koizumi di Bali. (Dokumentasi Kementerian Pertahanan)

Kunjungan Menhan Koizumi ke Jakarta dilakukan tak lama usai Negeri Matahari Terbit itu menghapus batasan kategori transfer peralatan pertahanan dan teknologi kepada 17 negara, termasuk Indonesia. Kebijakan ini membuka peluang bagi Indonesia untuk memperoleh alutsista seperti jet tempur, rudal, dan peralatan militer lainnya dari Negeri Sakura dengan lebih mudah.

Kuasa Usaha Ad Interim Kedutaan Besar Jepang di Indonesia, Myochin Mitsuru, mengungkapkan sebelumnya Jepang hanya mengizinkan transfer untuk lima kategori terbatas, yaitu penyelamatan, transportasi, peringatan, pengawasan, dan perlindungan.

"Pada masa lalu sebelum hari ini, Jepang telah membatasi transfer peralatan pertahanan dan teknologi menjadi lima kategori, yaitu penyelamatan, transportasi, peringatan, pengamatan, dan perlindungan. Kami membatasi diri hanya untuk lima alasan itu," ujar Myochin di kantor Kedutaan Besar Jepang, Jakarta Selatan, Kamis (23/4/2026).

Lebih lanjut, Myochin mengatakan, aturan sebelumnya dinilai tidak praktis. Ia mencontohkan jika Jepang menyediakan rudal pesisir ke Indonesia dengan syarat hanya digunakan untuk perlindungan, maka secara operasional hal itu sulit diterapkan.

"Karena jika kita menyediakan rudal ke Indonesia dengan pesan tolong gunakan hanya untuk perlindungan, itu tidak berfungsi secara praktis. Jadi kami menghilangkan restriksi ini,"  katanya.

Menurut Myochin, di dunia saat ini tidak ada negara yang mampu melindungi dirinya sendiri tanpa dukungan mitra. Maka itu, Jepang membutuhkan negara mitra yang memiliki pemikiran sama untuk berbagi teknologi dan peralatan pertahanan.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Anata Siregar
EditorAnata Siregar
Follow Us

Related Articles

See More