Menkes: 152 Puskesmas di Sumatra Rusak Berat, Tiga Berhenti Operasi

- 152 puskesmas di Sumatra mengalami kerusakan berat akibat bencana, tiga di antaranya harus menghentikan operasional sementara.
- Puskesmas yang rusak dialihkan sementara ke gedung lain untuk melayani ratusan ribu pengungsi di lebih dari seribu titik pengungsian.
Jakarta, IDN Times - Menteri Kesehatan (Menkes), Budi Gunadi Sadikin, mengatakan, pemulihan puskesmas menjadi tantangan yang lebih berat di wilayah terdampak bencana di Sumatra. Jumlah fasilitas yang terdampak jauh lebih banyak dibandingkan rumah sakit.
Berdasarkan hasil pendataan, terdapat 867 puskesmas terdampak bencana di tiga provinsi, yakni Sumatra Barat, Sumatra Utara, dan Aceh. Dari jumlah tersebut, 152 puskesmas mengalami kerusakan berat hingga harus menghentikan operasional sementara.
"Sampai awal Januari 2026, tinggal tiga (puskesmas) lagi yang belum bisa beroperasi,” kata Menkes dalam Konferensi Pers Update Penanganan Bencana Sumatra di Graha BNBP, Jakarta, Rabu (7/1/2025).
1. Paling parah puskesmas di Aceh

Ketiga puskesmas tersebut adalah Puskesmas Rusip Antara di Aceh Tengah, Puskesmas Jambur Lak Lak di Aceh Tenggara, dan Puskesmas Lokop di Aceh Timur. Menkes menjelaskan, Puskesmas Lokop mengalami kerusakan paling parah akibat tertimpa kayu besar hingga bangunannya hancur.
“Yang (di) Lokop ini benar-benar sudah hancur, jadi sekarang sedang kita bangun baru,” ujar dia.
2. Puskesmas juga harus melayani ratusan ribu pengungsi

Untuk memastikan layanan tetap berjalan, operasional puskesmas yang rusak dialihkan sementara ke gedung lain, seperti kantor dinas atau fasilitas pemerintah setempat.
Menkes mengatakan, peran puskesmas sangat vital, tidak hanya memberikan pelayanan kesehatan harian bagi masyarakat, tetapi juga dalam melayani ratusan ribu pengungsi yang tersebar di lebih dari seribu titik pengungsian.
3. Seluruh RSUD di Sumatra sudah kembali operasi

Budi memastikan, seluruh rumah sakit umum daerah (RSUD) yang terdampak bencana di Sumatra telah kembali beroperasi.
“Dari 87 rumah sakit yang terdampak pada saat bencana ini terjadi, ada sembilan yang benar-benar harus berhenti beroperasi,” ujar Budi.
Sembilan rumah sakit tersebut terdiri atas satu rumah sakit di Sumatra Utara, yakni RSUD Tanjung Pura di Kabupaten Langkat, serta delapan rumah sakit di Aceh. Untuk mempercepat pemulihan, Kementerian Kesehatan membentuk Pusat Krisis Kesehatan atau Health Emergency Operations Center (HEOC) sejak 1 Desember 2025.
“Alhamdulillah, kita bekerja sama dengan bantuan TNI, Polri, BNPB, dan pemerintah daerah. Dalam dua minggu, sembilan rumah sakit ini berhasil kita operasikan kembali melayani pasien,” kata dia.


















