Pakar Soroti Keberhasilan Pemerintah Atasi Kelangkaan BBM saat Lebaran

- Pemerintah dinilai sukses menjaga pasokan BBM selama Lebaran berkat pengalaman tahunan dan pola konsumsi masyarakat yang lebih terkendali.
- Ary mengingatkan ketahanan energi Indonesia masih lemah karena cadangan BBM hanya cukup untuk 20–28 hari, jauh di bawah negara tetangga.
- Pemerintah berencana menambah kapasitas penyimpanan BBM hingga 90 hari serta memperkuat program biodiesel untuk mengurangi ketergantungan impor.
Jakarta, IDN Times – Peneliti dari Lab Rekayasa Termal dan Sistem Energi (RTSE) Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Ary Bachtiar Krishna Putra, menyoroti keberhasilan pemerintah menjaga pasokan BBM saat momentum libur Hari Raya Idul Fitri.
Dia menilai, kondisi tersebut tidak lepas dari pengalaman Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) dalam mengelola kebutuhan energi saat periode mudik Lebaran yang terjadi setiap tahun.
Dia menyinggung kekhawatiran publik soal ketersediaan operasional BBM yang bisa bertahan selama 20 hari di tengah tensi geopolitik global yang memanas. Publik pun menghitung estimasi cadangan BBM nasional akan habis bertepatan dengan momentum Lebaran 2026. Namun kenyataannya ketersediaan energi aman hingga saat ini.
“Ya, memang karena sudah event tahunan. Artinya, secara pasokan mungkin pemerintah sudah punya jam terbang untuk menjamin keterisian dan harga dari BBM,” ujar Ary dalam keterangannya, Rabu (25/3/2026).
1. Pola konsumsi BBM saat bisa diprediksi karena berlangsung dalam waktu terbatas

Menurut dia, pola konsumsi BBM saat Lebaran sudah cukup terprediksi karena berlangsung dalam waktu terbatas, umumnya hanya sekitar satu pekan selama arus mudik dan balik. Hal ini membuat pemerintah lebih mudah mengantisipasi lonjakan permintaan.
“Kalau Lebaran kan memang penambahan karena mudi,k ya, itu juga dalam kategori mungkin semingguan, artinya dari berangkat sampai pulang,” kata dia.
Selain itu, dia menilai perilaku masyarakat yang lebih bijak dalam menggunakan BBM juga turut berkontribusi terhadap stabilitas pasokan. Kekhawatiran terhadap potensi kelangkaan membuat masyarakat cenderung menahan konsumsi yang tidak perlu.
“Kalau masyarakat sudah mulai mengendalikan diri untuk tidak terlalu menghambur-hamburkan, manfaatnya terasa. Saya lihat di beberapa daerah, kondisi sudah tidak terlalu antre BBM,” ujar dia.
2. Kapasitas cadangan BBM relatif terbatas dibandingkan negara lain di kawasan

Meski begitu, Ary mengingatkan, secara fundamental ketahanan energi Indonesia masih memiliki tantangan, terutama terkait kapasitas cadangan BBM yang relatif terbatas dibandingkan negara lain di kawasan.
Dia mengatakan, cadangan energi nasional saat ini masih berada di kisaran 20 hingga 28 hari, jauh di bawah negara seperti Jepang dan Singapura yang mampu menyimpan cadangan hingga berbulan-bulan.
3. Rencana pemerintah menambah kapasitas penyimpanan BBM hingga 90 hari

Oleh karena itu, Ary menilai langkah pemerintah untuk menambah kapasitas penyimpanan BBM hingga 90 hari merupakan kebijakan strategis yang perlu segera direalisasikan guna memperkuat ketahanan energi nasional.
“Kalau bisa 90 hari sudah luar biasa. Artinya kalau harga pasar naik turun, kita masih punya waktu dan cadangan dari pengadaan sebelumnya,” ujar dia.
Lebih jauh, dia juga menyoroti peran program biodiesel seperti B50 yang dinilai telah membantu mengurangi ketergantungan terhadap impor solar, meskipun untuk bensin Indonesia masih bergantung pada pasokan luar negeri.
Dengan kombinasi pengalaman pemerintah, pola konsumsi yang terprediksi, serta dukungan kebijakan energi yang berjalan, Ary menilai keberhasilan menjaga pasokan BBM selama Lebaran tahun ini menjadi indikator positif dalam pengelolaan energi nasional.


















