"Terjadi sekitar lima ledakan. Kemudian, kami mulai mengumpulkan jenazah," kata seorang perwakilan komunitas di sekitar area pengungsian yang terlibat dalam proses penguburan korban serangan, seperti dilansir The New Arab. Ia menambahkan, 36 orang lainnya yang terluka imbas serangan tersebut kini sudah mendapatkan perawatan di rumah sakit yang ada di Kota Hayk.
Drone Hantam Kamp Pengungsian di Ethiopia, 15 Orang Tewas

- Serangan drone menghantam kamp pengungsian di Amhara, Ethiopia, menewaskan 15 orang dan melukai 36 lainnya yang kini dirawat di rumah sakit Kota Hayk.
- Warga menyebut drone telah terlihat sejak 28 Oktober sebelum menghantam kamp tiga kali pada 29 Oktober, membuat penghuni tidak sempat menyelamatkan diri.
- Pelaku dan motif serangan belum diketahui, meski TPLF diduga terlibat di tengah konflik kembali memanas dengan pemerintah Ethiopia setelah gencatan senjata 2022.
Jakarta, IDN Times - Serangan drone dikabarkan menyasar kamp pengungsian yang ada di wilayah Amhara, Ethiopia. Kabar tersebut disampaikan oleh dua sumber yang terlibat dalam proses evakuasi korban pada Jumat (30/10/2026). Salah satu dari sumber tersebut mengatakan, serangan ini telah menewaskan 15 orang.
1. Seorang warga menceritakan kronologi serangan

ilustrasi serangan ke markas militer Amerika Serikat (pexels.com/Edu Raw) Menurut seorang warga anonim, serangan ini terjadi pada Kamis (29/10/2026). Namun, ia mengaku sejumlah drone tidak dikenal sudah berkeliaran di sekitar area pengungsian sejak Rabu (28/10/2026). Kemudian, pesawat tidak berawak tersebut menghantam sejumlah area di pengungsian sehari setelahnya secara tiba-tiba. Hal ini membuat warga tidak sempat menyelamatkan diri hingga akhirnya tewas di tempat.
“Lalu, drone itu akhirnya menghantam kamp (sebanyak) tiga kali. Potongan-potongan tubuh mereka berserakan di mana-mana. Kami mengumpulkan dan mengubur potongan-potongan tubuh mereka,” cerita warga tersebut dilansir Internazionale.
2. Dalang dan motif serangan belum diketahui

ilustrasi belum diketahui (pexels.com/Pixabay) Hingga saat ini, belum diketahui siapa dalang dan apa motif dari serangan mematikan tersebut. Namun, serangan ini diduga berasal dari Front Pembebasan Rakyat Tigrai (TPLF). Sebab, kelompok separatis tersebut sempat terlibat bentrokan sengit dengan angkatan bersenjata Ethiopia bulan lalu.
Dilansir Council on Foreign Relation (CFR), perang saudara yang terjadi antara TPLF dengan Pemerintah Federal Ethiopia sebetulnya bukan hal baru. Sebab, kedua pihak sebelumnya sudah pernah berperang pada November 2020. Itu merupakan kali pertama perang saudara pecah di Ethiopia. Perang tersebut dikenal dengan sebutan Perang Tigray.
3. Perang sempat mereda pada 2022

ilustrasi perang saudara (unsplash.com/Duncan Kidd) Ketika itu, perang saudara antara Pemerintah Ethiopia dan TPLF menewaskan banyak orang. Selain itu, perang tersebut juga memaksa warga sipil Ethiopia mengungsi untuk mencari tempat yang lebih aman. Namun, perang akhirnya mereda usai militer Ethiopia dan TPLF menyepakati gencatan senjata pada 2022.
Namun, perang saudara ini kembali terjadi pada Februari lalu. Puncaknya terjadi pada September. Ketika itu, TPLF melakukan pemberontakan untuk menggulingkan Abiy Ahmed dari kursi Perdana Menteri. Eritrea disebut mendukung upaya tersebut. Sebab, mereka diduga telah memberikan bantuan dana ke TPLF untuk menggulingkan Pemerintahan Ethiopia.





















