Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Prabowo Beberkan Alasan Gaji Guru Susah Naik

Prabowo Beberkan Alasan Gaji Guru Susah Naik
Presiden Prabowo Subianto menghadiri penutupan Musyawarah Nasional Alim Ulama (Munas) dan Konferensi Besar (Konbes) Nahdlatul Ulama (NU) 2026 yang digelar di Institut Agama Islam (IAI) Syaichona Mohammad Cholil (Youtube.com/NU Online)
Intinya Sih
Gini Kak
  • Presiden Prabowo menjelaskan gaji guru dan pegawai negeri sulit naik karena adanya kebocoran anggaran akibat praktik korupsi yang masih terjadi.
  • Prabowo menyoroti arus kekayaan nasional yang keluar dari Indonesia selama puluhan tahun, menyebabkan lemahnya nilai rupiah dan keterbatasan anggaran negara.
  • Data PBB menunjukkan praktik under-invoicing dalam perdagangan internasional membuat Indonesia rugi hingga Rp15 ribu triliun, dengan kebocoran ekonomi sekitar Rp2.500 triliun per tahun.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Jakarta, IDN Times - Presiden Prabowo Subianto mengungkap alasan gaji guru hingga pegawai negeri susah naik. Menurutnya, itu karena ada kebocoran anggaran yang dikorupsi.

Hal tersebut disampaikan Prabowo dalam pidato penutupan Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama (Munas-Konbes) NU 2026 di Bangkalan, Jawa Timur, Selasa (23/6/2026).

“Saya ingin sampaikan dalam forum ini, karena saya ingin saudara-saudara NU sebagai pemimpin, sebagai ulama, sebagai guru, sebagai pembimbing rakyat. Harus mengerti, kenapa gaji guru tidak bisa baik? Kenapa gaji pegawai negeri tidak bisa baik? Kenapa anggaran selalu kurang? Iya kan. Karena uangnya gak ada, diambil terus,” ujar Prabowo.

Prabowo mengaitkan kondisi tersebut dengan arus kekayaan nasional yang keluar dari Indonesia dalam jumlah besar selama puluhan tahun. Presiden menyebut, kondisi itu tercermin dalam data perdagangan internasional.

“Kalau sekarang ada yang mengatakan rupiah kita lemah ini dan itu, ya karena kekayaannya keluar. Kalau darah kita, tiap hari darah kita keluar, di ujungnya badan kita collapse, mati. Begitu kayanya Republik kita. Tiap tahun kekayaan kita diambil keluar, kita masih berdiri. Saudara-saudara sekalian, jadi kita lihat dari neraca itu, inflow outflow. Kita lihat di sini selama 22 tahun, uang yang keluar itu 343 miliar (dolar AS). Jadi keuntungan 436 (miliar dolar AS), yang keluar 343 (miliar dolar AS), yang tinggal adalah sedikit sekali dibandingkan yang keluar,” kata Prabowo.

Prabowo menyampaikan temuan yang merujuk pada data Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) terkait praktik perdagangan yang dinilai merugikan negara. Ia menyinggung praktik pelaporan transaksi yang tidak sesuai kondisi sebenarnya.

“Ternyata sekali lagi dari PBB, yang terjadi adalah yang disebut under-invoicing atau laporan palsu. Para pengusaha itu bohong. Katanya dia jual 1.000 ton, dia lapor hanya 500 ton. Artinya apa? Artinya negara rugi. Setelah kita hitung, ini angka kembali lagi dari PBB. Kita telah rugi 908 miliar (dolar AS) selama 34 tahun. Atau Rp15 ribu triliun. Rp15 ribu triliun,” ucap dia.

Dalam kesempatan itu, Prabowo mengatakan, estimasi kebocoran ekonomi yang terjadi setiap tahun dalam skala besar.

“Kebocoran kita, kita hitung, para ahli hitung sekarang adalah kurang lebih 150 miliar dolar AS tiap tahun, Rp2.500 triliun tiap tahun,” imbuh Prabowo.

Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Rochmanudin Wijaya
EditorRochmanudin Wijaya

Related Articles

See More