APJII Perluas Akses Internet 3T, Penetrasi Capai 81,72 Persen

- APJII menegaskan komitmen memperkuat kedaulatan digital melalui pemerataan akses, infrastruktur nasional, dan kolaborasi lintas sektor.
- Penetrasi internet Indonesia tercatat naik dari 79,5 persen pada 2024 menjadi 81,72 persen pada 2026.
- Komdigi berharap provider di bawah APJII turut mengawasi penggunaan internet dan mendukung konektivitas berkualitas.
Jakarta, IDN Times - Di usianya yang ke-30 tahun, Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) menyatakan komitmennya untuk memperkuat kedaulatan digital Indonesia melalui pemerataan akses internet, penguatan infrastruktur nasional, serta kolaborasi lintas sektor. APJII menggelar perayaan HUT bersamaan dengan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) APJII dan Internet Days 2026 yang mengusung tema "Koneksi Baik untuk Negeri.
Ketua Umum APJII, Muhammad Arif menyampaikan, internet telah berkembang menjadi infrastruktur strategis yang menentukan daya saing bangsa. Pembangunan konektivitas tidak lagi hanya untuk menghadirkan jaringan, tetapi lebih jauh lagi, untuk memastikan seluruh masyarakat Indonesia memperoleh akses internet yang cepat, berkualitas, dan terjangkau.
"Tema 'Koneksi Baik untuk Negeri' merupakan komitmen kami untuk memastikan manfaat internet dapat dirasakan secara merata oleh seluruh masyarakat Indonesia. Selama tiga dekade, APJII terus berupaya membangun ekosistem internet nasional yang semakin kuat, terbuka, dan kolaboratif,” ujar Muhammad Arif, dalam keterangannya, Jumat (7/8/2026).
1. APJII berkomitmen perluas akses internet ke wilayah 3T

Menurut Arif, APJII akan terus mendorong pertumbuhan ekosistem digital nasional yang inklusif, termasuk memperluas akses internet hingga ke wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).
APJII akan terus memperkuat sinergi dengan pemerintah, termasuk mendukung berbagai program strategis Kementerian Komunikasi dan Digital, seperti Kampung Internet, serta mendorong terwujudnya layanan internet berkecepatan tinggi hingga 100 Mbps yang semakin terjangkau bagi masyarakat.
"Ke depan, tantangan kita bukan lagi soal perluasan akses. Ke depan, tantangan kita adalah menghadirkan konektivitas yang berkualitas sebagai fondasi transformasi digital Indonesia," kata dia.
2. Penetrasi internet meningkat selama dua tahun ini

Komitmen tersebut diwujudkan melalui berbagai inisiatif strategis yang telah dilaksankan APJII. Salah satunya pengelolaan Indonesia Internet Exchange (IIX) sebagai titik interkoneksi nasional yang memungkinkan lalu lintas internet domestik tetap berada di dalam negeri sehingga lebih efisien, cepat, dan andal.
Hasil Survei APJII mencatat peningkatan penetrasi internet Indonesia tiga tahun terakhir. Pada 2024, penetrasi internet mencapai 79,5 persen atau sekitar 221 juta jiwa. Angka tersebut terus meningkat hingga pada 2026 mencapai 81,72 persen, setara dengan sekitar 235 juta pengguna internet di seluruh Indonesia.
Arif menilai, capaian tersebut menunjukkan bahwa internet kini telah menjadi kebutuhan dasar masyarakat sekaligus motor penggerak pertumbuhan ekonomi digital nasional.
"Peningkatan jumlah pengguna internet harus diikuti dengan peningkatan kualitas layanan, pemerataan infrastruktur, keamanan siber, dan penguatan kapasitas digital masyarakat. APJII akan terus berkolaborasi dengan pemerintah, industri, akademisi, dan seluruh pemangku kepentingan untuk memastikan transformasi digital Indonesia berjalan secara inklusif dan berkelanjutan," katanya.
3. Komdigi harap provider di bawah APJII ikut awasi penggunaan internet

Sekretaris Jenderal (Sekjen) Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) turut hadir dalam acara peringatan HUT APJII. Dalam pidatonya, ia berterima kasih terhadap APJII atas 30 tahun kontribusinya dalam pembangunan internet di Indonesia. Kualitas koneksi internet selama ini menjadi prasyarat dalam banyak aktivitas masyarakat karena tanpa koneksi memadai, publik tak akan mengenal konten, kreativitas, hingga AI.
"Jadi ini adalah prasyarat yang dibangun oleh teman-teman (APJII). Dan kalau begitu saja pemerintah enggak bisa apresiasi, keterlaluan," kata Ismail.
Ismail juga menyampaikan, pemerintah berharap APJII bisa membantu agar Indonesia menjadi tuan rumah di negeri sendiri dalam hal konektivitas. Pemerintah tak ingin Indonesia hanya menjadi pasar bagi perusahaan global.
Selain itu, Ismail berharap agar para layanan provider di bawah APJII bisa ikut mengawasi penggunaan internet. Pemerintah ingin agar internet berkualitas dalam pemanfaatannya.
Konten di internet dipenuhi oleh unsur negatif sehingga memengaruhi generasi masa depan. Sebab, penetrasi konten negatif di internet berujung pada perusakan budaya.
"Ini satu hal yang sangat berat. Enggak bisa ditangani pemerintah sendiri. Hanya bisa kalau bersatu-padu di antara elemen-elemen urusan digital ini," kata Ismail.

















