Indonesia-Korsel Bangun Pusat Pengendalian Karhutla di Sumsel

- Indonesia dan Korea Selatan membangun Indonesia Forest and Land Fire Management Center di Daops Manggala Agni Sumatera XVII/OKI, Sumatera Selatan.
- Kerja sama pengendalian karhutla akan diperluas karena asap kebakaran dapat melintasi wilayah administratif dan batas negara.
- Kedua negara telah berbagi teknologi, pengalaman, dan praktik terbaik selama lima tahun dalam pengendalian kebakaran hutan.
Jakarta, IDN Times - Indonesia dan Korea Selatan (Korsel) memperkuat kerja sama dalam pengendalian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) melalui pembangunan Indonesia Forest and Land Fire Management Center di Daops Manggala Agni Sumatera XVII/OKI, Sumatra Selatan (Sumsel).
Menteri Kehutanan (Menhut) Raja Juli Antoni sebelumnya telah bertemu dengan Menteri Korea Forest Service (KFS) Park Eun-Sik dalam kunjungan kerja ke Korea Selatan pada April lalu, membicarakan progres kerja sama. Pertemuan itu merupakan rangkaian kunjungan Presiden Prabowo Subianto ke Jepang dan Korea Selatan.
“Banyak inisiatif yang akan kita kerjasamakan, tapi salah satunya memang memfinalisasi Forest and Land Fire Management Center yang baru saja kita lihat ini. Mudah-mudahan nanti Bapak Park datang ke Indonesia untuk memperpanjang kerja sama, sekaligus meresmikan Forest and Land Fire Management Center yang ada di sini,” kata Menhut dalam keterangan tertulisnya, Jumat (7/8/2026).
1. Kerja sama pengendalian karhutla Indonesia-Korsel bakal diperluas

Menhut mengatakan, kerja sama Indonesia dan Korsel di bidang pengendalian karhutla akan terus diperluas. Sebab, dampak kebakaran hutan tidak berhenti pada batas administrasi suatu daerah maupun negara.
Asap akibat karhutla dapat menyebar ke berbagai wilayah hingga melintasi batas negara (transboundary haze), sehingga membutuhkan kolaborasi internasional dalam upaya pencegahan dan penanganannya.
“Karena asap hasil kebakaran hutan itu tidak mengerti wilayah administratif. Kebakarannya di OKI, tapi bisa dirasakan di daerah lain, bahkan sampai luar negeri. Asap itu bisa melampaui lintas batas negara,” ujarnya.
2. Pengalaman Indoneisa menghadapi karhutla terus menunjukkan perbaikan

Menhut mengatakan, pengalaman Indonesia dalam menghadapi karhutla terus menunjukkan perbaikan dari tahun ke tahun. Menurutnya, pemerintah menargetkan luas kebakaran hutan dan lahan tetap dapat ditekan meski tahun ini dihadapkan pada ancaman El Nino yang datang lebih cepat akibat perubahan iklim.
“Mudah-mudahan tahun ini kita bisa membuktikan bahwa meskipun El Nino datang lebih cepat, angka karhutla jauh lebih rendah dibandingkan 2023, dengan dampak yang seminimal mungkin bagi masyarakat,” katanya.
3. Pusat pengendalian karhutla RI-Korsel dibangun selama 5 tahun

Pada kesempatan yang sama, Korea Indonesia Forest Center (KIFC) Co-Director Jeong Cheol-Ho mengatakan, pusat pengendalian kebakaran hutan tersebut merupakan hasil dari kolaborasi yang telah dibangun kedua negara selama lima tahun terakhir.
Menurutnya, Indonesia dan Korea selama ini saling berbagi teknologi, pengalaman, serta praktik terbaik dalam pengendalian kebakaran hutan hingga akhirnya melahirkan Indonesia Forest and Land Fire Management Center.
“Lima tahun lalu kita duduk bersama untuk mencari cara terbaik mengatasi kebakaran hutan di Indonesia. Kita berbagi ide, teknologi, dan pengalaman. Hari ini hasil dari kerja keras kita adalah Pusat Manajemen Kebakaran Hutan ini. Tapi yang lebih berharga dari fasilitas ini adalah semangat, pikiran, dan kerja sama yang ada di dalamnya,” kata Jeong.
Jeong memastikan kerja sama Indonesia dan Korea di bidang pengendalian karhutla tidak berhenti pada proyek yang selesai tahun ini.



















