Pramono-Prabowo Soroti Konser KPop, Upaya Rebut Pemilih Muda 2029?

- Pramono Anung menyoroti lokasi konser BTS di Jakarta sebagai langkah membangun kedekatan emosional dengan komunitas KPop yang memiliki loyalitas tinggi dan pengaruh besar di media sosial.
- Prabowo Subianto melalui Menlu Sugiono mendorong peningkatan jumlah konser KPop di Indonesia, dinilai sebagai strategi politik sekaligus bagian dari penguatan kerja sama ekonomi dengan Korea Selatan.
- Fenomena ini mencerminkan perubahan strategi komunikasi politik, di mana budaya populer digunakan untuk menunjukkan relevansi dan menarik perhatian pemilih muda menjelang Pilpres 2029.
Jakarta, IDN Times - Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung mengomentari lokasi konser BTS di JIS atau GBK atas desakan dari komunitas ARMY. Pada konteks yang sama, Presiden RI, Prabowo Subianto, lewat Menteri Luar Negeri (Menlu), Sugiono menyampaikan agar konser-konser KPop diperbanyak.
Direktur Eksekutif Aljabar Strategic Indonesia, Arifki Chaniago, mengatakan kedua tokoh mulai masuk ke isu budaya populer yang dekat dengan generasi muda.
“Ini menunjukkan bahwa KPop sudah dianggap sebagai pintu masuk untuk menjangkau pemilih muda. Bukan lagi sekadar hiburan, tapi sudah jadi bagian dari ruang sosial mereka,” kata Arifki dalam keterangannya, Kamis (23/4/2026).
1. Pramono bangun kedekatan dengan komunitas penggemar yang punya loyalitas tinggi

Menurut Arifki, generasi muda—khususnya Gen Z dan milenial urban—memiliki karakter berbeda dibanding pemilih sebelumnya. Mereka lebih terhubung secara digital, aktif dalam komunitas, dan memiliki kedekatan kuat dengan budaya global seperti KPop.
Dalam konteks itu, penyebutan BTS oleh Pramono dipandang sebagai pendekatan kultural. Ia mencoba membangun kedekatan dengan komunitas penggemar yang memiliki loyalitas tinggi dan aktivitas kuat di media sosial.
“Pendekatannya lebih ke emosional, masuk ke identitas dan komunitas. Ini biasanya bakal memancing perbincangan di kalangan komunitas ARMY,” jelasnya.
2. Komunitas KPop punya ruang strategis menjelang Pilpres 2029

Sementara, sudut pandang Prabowo juga menarik karena melihat peluang dengan memperbanyak jumlah konser KPop di Indonesia. Artinya, ini bisa jadi jawaban juga terhadap idola-idola KPop yang selalu gagal dalam war tiket gagal.
"Tetapi, sesuatu yang perlu dibaca adalah bahwa Indonesia baru saja nyatakan komitem investasi Korsel untuk Indonesia sebesar Rp173 triliun. Pernyataan itu bisa saja bagian dari memperkuat kerjasama kedua negara atau melihat perkembangan sektor ekonomi kreatif," ujar Arifki.
"Pramono sedang memainkan perannya sebagai Gubernur DKI untuk merespon lokasi konser KPop, sedangkan Prabowo ingin jumlah konsernya di perbanyak saja. Sebagai politisi jelas terbaca bahwa komunitas KPop punya ruang strategis menjelang Pilpres 2029," sambungnya.
3. Upaya agar relevan dengan kehidupan anak muda

Arifki menilai, fenomena ini bukan sebagai perebutan yang eksplisit, tapi lebih pada upaya menunjukkan relevansi. Siapa yang paling nyambung dengan kehidupan anak muda itu yang berpeluang mendapat perhatian.
"Fenomena ini juga menunjukkan perubahan dalam strategi komunikasi politik. Budaya populer kini menjadi medium yang semakin sering digunakan untuk membangun kedekatan dengan publik, terutama di era digital," kata Arifki.
Namun, Arifki menilai, efektivitas pendekatan tersebut akan sangat bergantung pada konsistensi pesan serta kemampuan menghubungkannya dengan kebutuhan nyata masyarakat.
"Komunitas K-Pop itu bisa saja ramai pada saat konser saja, tapi sebagai pengambil kebijakan baik Presiden Prabowo atau Gubernur Pramono tentu kebijakan tentang industri kreatif atau dampak lain dari konser-konser tersebut," ujar Arifki.
Dengan semakin besarnya porsi pemilih muda dalam kontestasi politik ke depan, kemampuan membaca dan merespons budaya populer dinilai akan menjadi faktor penting dalam memenangkan perhatian publik.
















