Benarkah Adik Lindsey Graham Ditunjuk Isi Kursi Senat AS?

- Gubernur South Carolina Henry McMaster resmi menunjuk Darline Graham Nordone, adik Lindsey Graham, untuk menggantikan kursi Senat kakaknya yang wafat pada 11 Juli 2026.
- Lindsey Graham meninggal dunia akibat diseksi aorta yang dipicu penyakit kardiovaskular aterosklerotik setelah mengalami sakit mendadak dan sempat menjabat sebagai Ketua Komite Anggaran Senat.
- Beberapa jam sebelum wafat, Graham berbicara dengan Presiden Donald Trump membahas isu Ukraina, Rusia, dan Iran sebelum akhirnya mengeluhkan kondisi kesehatannya.
Jakarta, IDN Times - Informasi tentang siapa yang akan menggantikan kursi mendiang Senator Amerika Serikat (AS) Lindsey Graham mulai menjadi sorotan setelah politikus Partai Republik itu meninggal dunia pada Sabtu (11/7/2026). Salah satu kabar yang beredar menyebut kursi senat tersebut akan diisi oleh adik kandung Graham, Darline Graham Nordone.
Tanpa menunggu lama, kabar tersebut langsung dikonfirmasi Gubernur South Carolina, Henry McMaster. Dalam sebuah seremoni di Columbia, McMaster menunjuk Nordone untuk mengisi sisa masa jabatan kakaknya di Senat AS.
Nordone menerima penunjukan tersebut dan menyatakan siap melanjutkan tugas Lindsey Graham. Dia juga berkomitmen meneruskan dukungannya kepada Presiden Donald Trump selama menjabat sebagai senator.
“Saya merasa terhormat meminta adik perempuan Lindsey, Darline Graham, untuk menyelesaikan pekerjaannya sekarang,” kata McMaster, dilansir dari Anadolu, Selasa (14/7/2026).
1. Gubernur langsung tunjuk adik Lindsey Graham

Dalam sambutannya, McMaster mengenang hubungan dekat Lindsey Graham dengan sang adik.
“Lindsey selalu menjaga adik perempuannya,” ujar McMaster.
Darline Graham Nordone kemudian menerima penunjukan tersebut dan mengatakan kakaknya selalu memberikan dukungan kepadanya.
Dia juga berjanji akan menyelesaikan sisa masa jabatan Lindsey Graham di Senat sekaligus tetap mendukung Presiden Donald Trump.
Penunjukan tersebut dilakukan setelah kursi Senat dari South Carolina kosong akibat wafatnya Graham pada akhir pekan lalu.
2. Meninggal karena diseksi aorta

Kantor Lindsey Graham sebelumnya menyatakan senator Partai Republik itu meninggal dunia setelah mengalami sakit yang berlangsung singkat dan datang secara tiba-tiba.
Hasil pemeriksaan awal pascakematian menunjukkan Graham meninggal akibat diseksi aorta yang dipicu penyakit kardiovaskular aterosklerotik.
Lindsey Graham pertama kali terpilih menjadi anggota Senat AS pada 2002 dan kembali memenangkan pemilihan pada 2008, 2014, serta 2020.
Sebelum meninggal, dia menjabat sebagai Ketua Komite Anggaran Senat dan tengah bersiap mengikuti pemilihan untuk masa jabatan kelima pada November mendatang.
3. Sempat bahas Iran hingga Ukraina dengan Trump

Beberapa jam sebelum meninggal dunia, Graham dilaporkan sempat berbicara melalui sambungan telepon dengan Presiden Donald Trump.
Menurut laporan Axios, keduanya membahas perkembangan perang di Ukraina, tambahan sanksi terhadap Rusia, serta kemungkinan aksi militer baru Amerika Serikat terhadap Iran.
Setelah percakapan itu, Graham dikabarkan mengeluhkan kondisi tubuhnya yang kurang sehat, tetapi menolak mendapat penanganan medis saat itu.
Dalam kesempatan tersebut, Graham sempat melontarkan candaan mengenai berbagai agenda politik yang menurutnya belum selesai.
“Saya belum bisa meninggal sekarang. Saya masih harus menyelesaikan sanksi terhadap Rusia, membereskan Iran, dan mewujudkan normalisasi hubungan Israel-Arab Saudi,” kata Graham.
Beberapa jam kemudian, dia dinyatakan meninggal dunia.


















