Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Survei LSI: Mayoritas Responden Tahu Pancasila dan Merasa Bebas Jalankan Agama

Survei LSI: Mayoritas Responden Tahu Pancasila dan Merasa Bebas Jalankan Agama
Upacara Peringatan Hari Lahir Pancasila (IDN Times/Ilman Nafi'an)
Intinya Sih
Timeline
5W1H
Gini Kak
Sisi Positif
  • Survei LSI pada Maret 2026 menunjukkan 92,7% warga tahu Pancasila, namun pemahaman tiap sila belum merata di seluruh lapisan masyarakat.
  • Mayoritas responden menafsirkan sila pertama secara inklusif sebagai penghormatan terhadap semua agama, meski masih ada pandangan yang lebih sempit.
  • Sekitar 97,3% merasa bebas beragama, tetapi 90% lebih responden khawatir akan potensi perpecahan bangsa dan ancaman dari luar negeri.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Jakarta, IDN Times - Lembaga Survei Indonesia (LSI) merilis hasil survei nasional terkait evaluasi dan komitmen publik terhadap Pancasila, pada Minggu (12/4/2026). Secara umum, survei ini menunjukkan tingkat pengetahuan masyarakat terhadap Pancasila masih sangat tinggi, namun belum sepenuhnya diikuti dengan pemahaman yang seragam di setiap sila.

Survei dilakukan pada 4–12 Maret 2026 terhadap 2.020 responden yang dipilih secara acak menggunakan metode multistage random sampling, dengan margin of error sekitar kurang lebih 2,2 persen.

1. Mayoritas tahu Pancasila, tapi tingkat pemahaman berbeda-beda

Postingan ilustrasi peringatan Hari Lahir Pancasila 2025 yang diunggah akun instagram @sekretariat.kabinet, Minggu (1/6/2025).
Postingan ilustrasi peringatan Hari Lahir Pancasila 2025 yang diunggah akun instagram @sekretariat.kabinet, Minggu (1/6/2025).

LSI menemukan bahwa hampir seluruh responden mengaku mengetahui Pancasila sebagai dasar negara. Namun, ketika ditelusuri lebih dalam, tingkat pemahaman tersebut ternyata tidak merata, terutama dalam kemampuan menyebutkan sila secara lengkap dan benar.

Sebagian besar responden memang mampu mengingat seluruh sila, tetapi tidak sedikit yang hanya mengetahui sebagian, bahkan ada yang tidak dapat menyebutkan satu pun secara tepat. Temuan ini menunjukkan bahwa pengetahuan tentang Pancasila masih bersifat umum dan belum sepenuhnya mendalam pada semua lapisan masyarakat.

“Dari yang mengaku tahu Pancasila, mayoritas sebesar 68,2 persen tahu semua sila, 11,5 persen tahu empat sila, 5,3 persen tahu tiga sila, 4,4 persen tahu dua sila, 5,2 persen tahu satu sila, dan 5,3 persen lainnya ternyata tidak dapat menyebut satupun sila secara benar," tulis LSI.

2. Tafsir sila pertama cenderung inklusif, tapi belum sepenuhnya seragam

Postingan ilustrasi peringatan Hari Lahir Pancasila 2025 yang diunggah akun instagram @presidenrepublikIndonesia dan @pco.ri, Minggu (1/6/2025).
Postingan ilustrasi peringatan Hari Lahir Pancasila 2025 yang diunggah akun instagram @presidenrepublikIndonesia dan @pco.ri, Minggu (1/6/2025).

Dalam aspek pemaknaan, khususnya pada sila pertama, LSI melihat adanya kecenderungan mayoritas masyarakat memahami nilai Ketuhanan Yang Maha Esa secara inklusif, yakni sebagai dasar kehidupan berbangsa yang menghormati seluruh agama yang ada di Indonesia.

Meski demikian, survei ini juga mencatat masih adanya sebagian responden yang memaknai sila tersebut secara lebih sempit atau eksklusif. Perbedaan tafsir ini menjadi catatan penting karena menunjukkan bahwa nilai dasar Pancasila belum sepenuhnya dipahami secara seragam oleh seluruh masyarakat.

“Mayoritas 84 persen memahami sila pertama sebagai menjalani kehidupan berbangsa dan bernegara harus berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa sebagaimana diimani dalam agama masing-masing penduduknya," katanya.

3. Sebanyak 97,3 persen merasa bebas dalam menjalankan agama yang dianutnya

Suasana Salat Idul Fitri di Masjid Istiqlal. (IDN Times/Marcheilla)
Suasana Salat Idul Fitri di Masjid Istiqlal. (IDN Times/Marcheilla)

Dari sisi praktik kehidupan beragama, LSI menemukan bahwa mayoritas besar responden merasa memiliki kebebasan dalam menjalankan keyakinannya. Hal ini menunjukkan bahwa nilai toleransi dan kebebasan beragama relatif terjaga di tengah masyarakat.

Namun demikian, di sisi lain, terdapat kekhawatiran yang cukup tinggi terkait potensi perpecahan bangsa serta ancaman dari luar negeri. Kekhawatiran ini mencerminkan adanya kesadaran publik terhadap tantangan yang dihadapi dalam menjaga persatuan nasional.

“Mayoritas atau 97,3 persen juga merasa bebas dalam menjalankan agama yang dianutnya. Namun, mayoritas juga menyatakan kekhawatiran mereka atas potensi perpecahan bangsa sebanyak 90,3 persen, dan ancaman serangan dari negara lain 90,1 persen," tulis LSI.

Share
Topics
Editorial Team
Sunariyah Sunariyah
EditorSunariyah Sunariyah
Follow Us

Latest in News

See More