Timteng Memanas, Kemenhaj Resmi Imbau Tunda Keberangkatan Umrah

- Kemenhaj RI resmi mengimbau jemaah umrah menunda keberangkatan akibat eskalasi konflik di Timur Tengah, demi menjaga keselamatan dan keamanan warga negara Indonesia.
- Sekitar 58 ribu jemaah yang tertahan di Arab Saudi dijamin akomodasinya melalui koordinasi Kemenhaj, Kemenlu, dan otoritas setempat agar tidak ada yang telantar.
- Pemerintah memastikan persiapan ibadah haji 2026 tetap berjalan sesuai jadwal meski situasi penerbangan umrah terganggu oleh penutupan ruang udara di kawasan Teluk.
Jakarta, IDN Times - Pemerintah melalui Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) RI secara resmi mengeluarkan imbauan bagi jemaah umrah yang dijadwalkan berangkat dalam waktu dekat untuk menunda perjalanannya. Keputusan ini diambil merespons eskalasi konflik keamanan di kawasan Timur Tengah yang pergerakannya dinilai semakin dinamis dan tidak menentu.
Wakil Menteri Haji dan Umrah (Wamenhaj) RI, Dahnil Anzar Simanjuntak, menegaskan bahwa langkah imbauan penundaan ini murni didasari oleh prinsip kehati-hatian demi menjamin keselamatan dan pelindungan warga negara Indonesia.
“Mempertimbangkan kondisi Timur Tengah yang tidak menentu dan eskalasinya semakin tinggi, kami mengimbau jemaah umrah yang akan berangkat dalam waktu dekat untuk menunda keberangkatannya hingga kondisi kembali kondusif,” ujar Dahnil di Jakarta, Minggu (1/3/2026).
1. Kemenhaj jamin akomodasi 58 ribu jemaah yang terdampak delay kepulangan

Imbauan ini sekaligus merespons penutupan ruang udara di sejumlah negara kawasan Teluk, yang secara langsung memicu penundaan (delay) dan perubahan rute maskapai penerbangan internasional dari dan menuju Arab Saudi.
Menyangkut nasib sekitar 58 ribu jemaah umrah Indonesia yang saat ini masih berada di Arab Saudi, Kemenhaj bersama Kementerian Luar Negeri RI terus memperkuat koordinasi dengan otoritas setempat. Wamenhaj memastikan bahwa jemaah yang mengalami penundaan jadwal kepulangan akan tertangani dengan baik dan tidak dibiarkan telantar.
“Kami terus berkoordinasi dengan pihak Arab Saudi, maskapai, dan Penyelenggara Perjalanan Ibadah Umrah (PPIU) agar jemaah yang tertunda kepulangannya dapat ditampung di hotel maupun tempat-tempat lain yang aman dan layak,” tegas Dahnil.
Langkah penyediaan fasilitas transit ini sejalan dengan mitigasi darurat dari Kantor Urusan Haji (KUH) Jeddah yang telah menyiagakan tiga tim khusus di Terminal 1, Terminal 2, dan Terminal Haji untuk mendampingi pergerakan jemaah di bandara.
2. Persiapan Haji 2026 dipastikan tetap berjalan

Di tengah ketidakpastian penerbangan umrah, pemerintah membawa kabar melegakan terkait penyelenggaraan ibadah haji 1447 H/2026 M. Dahnil memastikan bahwa rentetan eskalasi ini belum berdampak pada proses persiapan haji yang sedang berjalan.
Seluruh tahapan perencanaan, pengadaan layanan, dan koordinasi ditegaskan tetap berlangsung sesuai jadwal yang telah ditetapkan pemerintah.
Menutup keterangannya, Wamenhaj meminta seluruh jemaah beserta keluarga di Tanah Air untuk tetap tenang dan tidak panik. Masyarakat diimbau tidak mudah termakan isu liar yang belum terverifikasi dan hanya merujuk pada saluran komunikasi resmi pemerintah maupun PPIU masing-masing.
“Kami berharap kondisi segera normal dan semua pihak dapat menahan diri. Pemerintah akan terus memantau perkembangan dan mengambil langkah yang diperlukan demi keselamatan serta kenyamanan jemaah,” tutup Wamenhaj.
3. Situasi Timur Tengah memanas, ruang udara terbatas

Eskalasi keamanan yang terus meningkat di kawasan Timur Tengah memicu penutupan ruang udara oleh sejumlah negara tetangga Arab Saudi. Hingga saat ini, sejumlah negara seperti Qatar, Uni Emirat Arab (UAE), Bahrain, Kuwait, Irak, dan Suriah dilaporkan telah menutup ruang udara mereka untuk kedatangan dan keberangkatan penerbangan. Sementara itu, Arab Saudi, bersama Oman, Yordania, dan Lebanon, masih mengoperasikan penerbangan secara terbatas dengan status waspada, menyesuaikan dengan perkembangan situasi.
Penutupan rute udara di kawasan teluk ini secara langsung berdampak pada jadwal maskapai penerbangan yang mengangkut jemaah umrah Indonesia. Berdasarkan data Sistem Komputerisasi Pengelolaan Umrah dan Haji Khusus (SISKOPATUH), tercatat sekitar 58.873 jemaah umrah asal Indonesia saat ini masih berada di Arab Saudi.
“KUH telah membentuk tiga tim yang bekerja dalam tiga shift dan disebar di tiga titik bandara, yakni Terminal 1, Terminal 2 (eks Saudia), dan Terminal Haji. Langkah ini untuk memastikan pendampingan dan koordinasi berjalan optimal bagi jemaah yang terdampak perubahan jadwal penerbangan,” ungkap Staf Teknis Urusan Haji KUH Jeddah, Muhammad Ilham Effendy.
Selain melakukan pendampingan langsung, KUH Jeddah juga membuka komunikasi intensif dengan pihak maskapai penerbangan, travel penyelenggara (PPIU), serta syarikah (mitra travel di Arab Saudi). Koordinasi ini bertujuan untuk mencari solusi secepat mungkin bagi jemaah yang tertunda kepulangannya.

















