Tragedi Siswa SMK Tewas Gegara Sepatu, Mensos Akui Bansos Tak Akurat

- Menteri Sosial Saifullah Yusuf mengakui data bantuan sosial di Indonesia belum akurat, di tengah sorotan kasus siswa SMK Mandala Rizky Syaputra yang meninggal akibat sepatu kekecilan.
- Ia menekankan pentingnya akurasi dan pembaruan data bansos karena kondisi masyarakat sangat dinamis, agar intervensi bantuan bisa dilakukan lebih cepat dan tepat sasaran.
- Pemerintah bersama BPS melakukan pemutakhiran data melalui verifikasi berjenjang dan digitalisasi sistem SIK-NG, dengan target menekan kesalahan penyaluran bantuan hingga di bawah lima persen.
Jakarta, IDN Times - Menteri Sosial, Saifullah Yusuf atau Gus Ipul mengakui data bantuan sosial (bansos) di Indonesia belum sepenuhnya akurat. Pengakuan ini mencuat di tengah sorotan publik terhadap kasus siswa SMK kelas XI, Mandala Rizky Syaputra, yang meninggal dunia, setelah mengalami sakit di bagian kakinya, diduga memakai sepatu kekecilan hingga berdampak pada kesehatannya.
Menanggapi kasus tersebut, Gus Ipul menegaskan, pihaknya masih melakukan pengecekan dan belum menyimpulkan apa pun, termasuk kepastian keluarga Rizky belum menerima bansos.
“Iya saya kembali lagi tadi yang sepatu tadi, yang sakit tadi, itu benar-benar mengharukan kalau benar ya itu. Tapi belum dicek. Sudah proses jalan, nanti kita sampaikan,” ujarnya dalam Real Talk with Uni Lubis di Gedung IDN, Kuningan, Jakarta Selatan, Rabu (6/5/2026).
1. Pentingnya akurasi data

Meski belum terverifikasi, Gus Ipul menilai kasus tersebut menjadi pengingat pentingnya akurasi data, agar intervensi bisa dilakukan lebih cepat.
“Satu hal yang menarik bahwa kembali lagi bahwa kalau kita bisa tahu lebih awal tentang data-data yang seperti ini, kita bisa intervensi. Mencegah hal-hal seperti itu terjadi. Bisa memitigasi ya," ucapnya.
2. Data bansos dinamis

Menurut Gus Ipul, persoalan utama dalam penyaluran bantuan sosial terletak pada akurasi data yang masih perlu diperbaiki. Ia mengakui data bersifat sangat dinamis, karena kondisi masyarakat terus berubah setiap waktu.
“Kita tidak bisa memastikan bahwa semua tidak ada karena dinamis sekali. Pagi sama sore sudah berubah. Ada yang meninggal, ada yang lahir, ada yang pindah tempat, ada yang menikah," ujar dia.
"Jadi data ini memang dinamis sekali, dan perlu dimutakhirkan terus-menerus dari tingkat bawah sampai tingkat atas. Supaya kalau ada keluarga, individu yang membutuhkan bantuan kita dengan cepat bisa kita intervensi," lanjut Gus Ipul.
3. Data bansos belum akurat

Gus Ipul juga menyinggung temuan Dewan Ekonomi Nasional yang menyebut sekitar 45 persen bantuan sosial tidak tepat sasaran. Menurutnya, kondisi tersebut harus diakui secara terbuka.
“Kita harus jujur. Mari kita akui bahwa data-data kita ini belum akurat,” tegasnya.
4. BPS terus lakukan groundchek

Sebagai upaya perbaikan, kata Mensos, pemerintah melakukan pemutakhiran data melalui jalur formal dari tingkat RT hingga pemerintah daerah, yang kemudian diverifikasi oleh Badan Pusat Statistik (BPS). Selain itu, masyarakat juga dilibatkan melalui aplikasi Cek Bansos untuk mengusulkan maupun menyanggah data penerima bantuan.
Pemerintah juga mengembangkan sistem SIK-NG yang telah menghubungkan puluhan ribu desa di Indonesia. Pemerintah menargetkan tingkat kesalahan dapat ditekan hingga di bawah 5 persen melalui digitalisasi yang kini diperluas ke berbagai daerah.
"Nanti BPS ini juga sedang melakukan survei, sedang melakukan sensus tahun ini, yang insyaallah itu akan nge-groundcheck seluruh keluarga di Indonesia. Ini juga akan menjadi instrumen untuk membuat data kita ini makin akurat," ujarnya.


















