Wamendagri Sebut Kepala Daerah Hadapi Tantangan Tiga Level Sekaligus

- Wamendagri Bima Arya menegaskan kepala daerah kini menghadapi tantangan di tiga level sekaligus: lokal, nasional, dan global, seiring kompleksitas dinamika pemerintahan daerah.
- Ia mendorong kepala daerah agar adaptif dan tangguh dalam menjaga keseimbangan antara otonomi daerah serta berbagai tekanan yang muncul dari masyarakat hingga kebijakan nasional.
- Bima menekankan pentingnya kinerja terukur dengan indikator konkret seperti pertumbuhan ekonomi, penurunan kemiskinan, dan pengangguran sebagai bukti nyata keberhasilan pemerintahan daerah.
Jakarta, IDN Times - Wakil Menteri Dalam Negeri (Wamendagri), Bima Arya Sugiarto mengungkapkan kepala daerah saat ini dihadapkan pada tantangan yang tidak sederhana. Ia menilai dinamika pemerintahan daerah kini semakin kompleks karena harus menjawab persoalan di berbagai level sekaligus.
Hal tersebut disampaikan Bima saat menyampaikan amanat dalam Upacara Puncak Peringatan Hari Otonomi Daerah XXX Tahun 2026 di Plaza Kemendagri, Jakarta Pusat, Senin (27/4/2026). Pernyataan itu disampaikan dalam momentum peringatan otonomi daerah, yang juga menjadi refleksi atas perjalanan desentralisasi di Indonesia.
1. Tantangan datang dari lokal hingga global

Bima menegaskan, kepala daerah saat ini harus mampu menghadapi tekanan di tiga tingkatan sekaligus, mulai dari lokal, nasional, hingga global.
“Hari ini kepala daerah menghadapi tantangan yang tidak mudah pada tiga tingkatan. Tantangan di tingkat lokal; tuntutan dari konstituen, pemilih, dan rakyat, dan warga. Tantangan di tingkat nasional; untuk mengawal program-program prioritas dan Asta Cita, karena otonomi daerah itu ditegaskan dalam poin ketujuh dari Asta Cita, demikian juga dalam RPJMN kita 2025 dan 2029. Dan yang ketiga adalah tantangan geopolitik di tingkat global. Lokal, nasional, dan juga global," ucapnya.
2. Kepala daerah diminta adaptif dan tangguh

Menurutnya, kondisi tersebut membuat kepala daerah harus bekerja ekstra untuk menjaga keseimbangan antara otonomi daerah dan berbagai tuntutan tersebut.
“Tidak mudah bagi kepala daerah hari ini berselancar dan memastikan bahwa otonomi daerah bersanding dengan tiga tantangan tadi,” tutur mantan Wali Kota Bogor itu.
Meski menghadapi tekanan berlapis, Bima Arya melihat banyak kepala daerah yang mampu beradaptasi dan bahkan menjadikan tantangan sebagai peluang.
“Tetapi percayalah Bapak Ibu, para kepala daerah yang sangat kami banggakan. Banyak inspirasi hari ini dari rekan-rekan kepala daerah untuk mengatasi, menghadapi, dan bahkan menaklukkan tantangan-tantangan tadi. Ada kepala daerah yang tidak takluk pada tantangan dan tidak takluk pada cobaan tantangan dan ujian, tetapi bisa memaksimalkan kesempatan," tutur dia.
Ia juga menyoroti sikap proaktif sejumlah pemimpin daerah yang tidak sekadar mengeluhkan masalah.
“Ada kepala daerah yang tidak hanya berkeluh kesah dalam menghadapi masalah, tapi menjemput untuk kemudian mengelola menjadi berkah," jelas Bima.
3. Kinerja harus terukur dengan indikator nyata

Dalam kesempatan itu, Bima menekankan bahwa kinerja kepala daerah harus dapat diukur secara konkret melalui indikator yang jelas.
“Angka-angka adalah patokannya, indikator-indikator adalah ukurannya," tutur Bima.
Ia menyebut, berbagai capaian seperti pertumbuhan ekonomi, penurunan kemiskinan, hingga tingkat pengangguran menjadi tolok ukur nyata dari keberhasilan pemerintahan daerah.
“Para kepala daerah yang hadir hari ini telah menunjukkan bahwa di balik retorika, ada angka-angka yang memiliki makna. Angka-angka terkait dengan kinerja pemerintahan, pertumbuhan ekonomi, angka kemiskinan, angka pengangguran terbuka, dan angka-angka lainnya yang tentu juga dirasakan maknanya oleh warga," ungkap Bima.
Meski begitu, ia mengingatkan agar capaian tersebut tidak membuat pemerintah daerah cepat berpuas diri, mengingat masih banyak tantangan yang harus dihadapi ke depan.
















