WANSUS: Pemimpin Harus Punya Mimpi, Semua Dimulai dengan Halu

- RIDO menegaskan program hunian murah di Jakarta bukanlah halusinasi, melainkan solusi bagi masyarakat yang ingin tempat tinggal di tengah lahan sempit dan harga properti mahal.
- Pembangunan hunian dapat dilakukan di lahan yang sudah ada, seperti pasar, terminal, stasiun, hingga bangunan milik pemerintah yang tak terpakai. Program hunian itu pun tidak tidak mungkin melibatkan pemerintah pusat.
- Jakarta perlu penataan ulang untuk menghasilkan hunian yang lebih terjangkau bagi kelas menengah. Rumah susun kelas menengah sangat kurang dan dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.
Jakarta, IDN Times - Juru Bicara Calon Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta Ridwan Kamil-Suswono (RIDO), Mulya Amri, menjelaskan bagaimana program hunian murah bisa diimplementasikan di Jakarta. Ia memastikan, program hunian rumah yang dicanangkan RIDO bukan proyek halusinasi alias halu.
Mulya sendiri merupakan sarjana arsitektur yang menempuh pendidikan di Institut Teknologi Bandung (ITB). Ia juga mendapat gelar master untuk bidang perencanaan kota di University of California, Los Angeles.
Ia menuturkan, program hunian yang ditawarkan Ridwan Kamil dan Suswono merupakan solusi bagi masyarakat yang ingin punya tempat tinggal di Jakarta, di tengah lahan yang sempit dan mahalnya harga properti.
Ridwan Kamil sendiri pernah memaparkan, idealnya masih dibutuhkan sekitar 1,3 juta hunian di Jakarta. Ia meyakini, jika target jumlah hunian itu terwujud, maka kualitas hidup warga bisa ikut meningkat.
Untuk mengejar target tersebut, pembangunan hunian dapat dilakukan di lahan yang sudah ada, seperti pasar, terminal, stasiun, hingga bangunan milik pemerintah yang tak terpakai. Nantinya, program hunian itu pun bukan tidak mungkin melibatkan pemerintah pusat.
Lantas bagaimana pertimbangan membuat program hunian di Jakarta, di tengah lahan yang sempit dan mahal? Seperti apa mekanismenya? Simak wawancara khusus IDN Times dengan Mulya Amri, Selasa (5/11/2024), di Jakarta.
Secara keseluruhan tata kota Jakarta, apa yang perlu diperbaiki?

Yang perlu diperbaiki, jadi kebayang nggak teman-teman kalau Jakarta itu kita bayangkan kepadatannya seperti Singapura, pasti tahu kan Singapura ya. Kalau kepadatannya seperti Singapura, itu Jakarta cuma terisi seperempatnya. Jadi bayangkan 3/4 wilayah Jakarta itu kosong kalau kepadatannya seperti Singapura. Jadi Jakarta itu sebetulnya dari segi kepadatan kita seakan-akan seringkali ngerasa 'wah padat banget, macet di mana-mana'. Tapi sebetulnya nggak, kalau kita lihat padatnya itu hanya di daerah-daerah tertentu dan padat karena semuanya horizontal.
Rata-rata kalau kita lihat di Jakarta kecuali di beberapa tempat kayak di daerah SCBD, Mega Kuningan, atau SCBD atau daerah-daerah tertentu di sekitar Sudirman-Tamrin itu sebetulnya rata, flat cuma 1 lantai, 2 lantai. Tapi memang akhirnya jadinya rapet semua dan kalau misalnya kita masuk ke daerah perkampungan, saya juga tinggal dekat daerah perkampungan. Sering jalan-jalan keluar masuk kampung, saya tuh melihat di situ sampai padat banget dan bahkan sampai ada daerah yang nggak usah jauh-jauh cuma di belakangnya jalan Tendean doang, antara Tendean sampai Gatot Subroto, itu daerah Kuningan Barat. Itu padat banget di sana, bahkan daerah perumahan di sana nggak bisa ngelihat matahari, karena semua ketutupan sama atap.
Tapi kita melihat di daerah lain ada kayak Menteng itu rumah-rumahnya banyak rumah gede-gede, kosong-kosong. Kayak di Permata Hijau misalnya, itu satu rumah bisa cuma berapa penghuninya. Jadi sebenernya masih sangat besar kemungkinan untuk menata ulang Jakarta. Kita di daerah perkampungan, penataan kampung kita pernah dapet penghargaan dunia. Dulu Jakarta melalui proyek Muhammad Husni Thamrin itu mendapatkan penghargaan namanya Aga Khan Award, penghargaan arsitektur dunia untuk penataan kampung. Jadi kampung kita biasa, kita punya pengalaman yang luar biasa internasional dalam penataan kampung. Tapi lama-lama kita nggak melanjutkan itu lagi dan kampung-kampung ini bisa banyak diperbaiki ya dari segi kepadatannya, diolah lagi drainasenya, air minum, air bersih.
Ini daerah Jakarta Utara sih ini air bersih susah banget kan. Orang miskin yang tinggal di kampung bayar air jauh lebih mahal daripada orang kaya. Jadi itu sih yang diharapin dari Pak Prabowo untuk Kang Emil ya. Pak Prabowo kan sangat basic services banget ya pendidikan, gizi, tempat tinggal diharapkan ya kampungnya bisa ditata, yang kumuhnya udah nggak ada lagi.
Kenapa Ridwan Kamil selalu menggaungkan hunian vertikal?
Kalau kita ngomongin Jakarta itu sudah mau nggak mau harus vertikal sih ya. Semua mengarahnya sudah lebih ke atas. Tapi nggak harus kita bayangkan kalau vertikal tuh langsung jadi kayak rumah susun Jatinegara yang langsung 20 lantai. Dari daerah perkampungan yang sekarang cuma satu sampai dua lantai itu bisa nggak kita bikin cuma empat lantai, 5 lantai aja jadi ketinggiannya jumlah lantainya itu cuma kita tambah dua atau tiga kali lipat. Nggak usah bayangin dari satu lantai dua lantai langsung 20 lantai. Naik gitu aja, dengan kita bikin naik jadi empat lantai lima lantai itu saja sebetulnya sudah banyak penataan kampung yang bisa diperbaiki, jadi lebih lega, lebih ada cahaya matahari, lebih ada taman-taman.
Mengapa salah satu pertimbangannya membangun hunian di atas pasar?
Iya, itu salah satu yang cukup mudah, relatif Lebih mudah ya daripada menata kampung yang udah padat, berarti kemudian dibikin vertikal. Itu kan berarti kita harus mengandalkan adanya tanah kosong dulu. Kalau ada tanah kosong kita bisa bangun rumah susun, bisa empat sampai lima lantai, lalu kemudian secara bertahap yang kampung pindah ke sana. Tapi itu kita mengasumsikan sudah ada lahan kosong dulu sedikit, paling nggak buat bangun satu gedung rumah susun aja. Tapi kalau kita mau yang lebih cepat, sebetulnya kita bisa memanfaatkan lahan-lahan yang udah jadi milik pemerintah daerah. Kayak pasar, terminal, itu kan memang lahan milik pemerintah. Jadi sebetulnya nggak perlu mengandalkan tanah kosong yang mahal atau membebaskan tanah yang mahal.
Nah pasar itu kenapa bagus dibikin jadi rumah susun di atasnya, karena itu hubungan simbiosis mutualisme, pasar butuh pembeli, sementara orang yang tinggal penghuni rumah itu pasti butuh pasar. Jadi dengan adanya rumah susun di atas pasar Itu sebetulnya udah sangat make sense. Kalau di Singapura, Hong Kong itu biasa banget itu, tinggal turun ke bawah. Nah Pasar Rumput itu sekarang kan udah mulai dibuka sejak Mas Ara jadi Menteri Perumahan langsung yang selama ini kekunci ada deadlock, itu langsung dibuka ini sudah harus diisi sekarang. Oh itu banyak banget yang daftar ke sana millenial yang daftar untuk tinggal disana. Siapa yang nggak mau tinggal di Pasar Rumput coba kan, tinggal jalan kaki sampai ke Sudirman.
Kalau pasar dirombak jadi hunian, bagaimana fondasi kekuatan bangunan dan mekanisme anggarannya?

Harus dibongkar, jadi apalagi pasar-pasar yang sekarang kan. Kita lihat ada pasar yang modern kayak Pasar Mayestik, sudah agak modern, sudah tiga sampai empat lantai. Cuma tetep saja kalau misalnya mau dibangun rumah susun di atasnya seperti Pasar Rumput itu kan belasan lantai, ya itu tetep harus dibongkar.
Nah uangnya dari mana, sebetulnya dari developer-developer yang di Jakarta itu punya banyak utang untuk ngebangun rumah susun. Jadi developer itu kalau mau membangun ruang komersial kayak mall, kayak kantor gitu, kalau misalnya mereka membangun di atas 5.000 meter persegi, itu mereka ada kewajiban untuk membangun rumah susun, proporsional terhadap luas lantainya. Bukan kelebihan KLB (Koefisien Lantai Bangunan), tapi kewajiban pengembang istilahnya, tapi sesuai KLB. Nah masalahnya mereka tidak punya kewajiban untuk menyediakan tanahnya, hanya membangun strukturnya saja nah tanahnya kewajibannya di pemerintah daerah. Akhirnya pemerintah DKI mencarikan tanah yang tersedia, terbukalah. Misalnya akhirnya Dapetnya yang jauh-jauh di Marunda, di Rawa Bebek.
Sebetulnya uangnya mau nggak pake APBD pun bisa tinggal menagih saja ke developer utang ini mana. Apalagi sekarang dari segi pemerintah pusat, sekarang ada programnya untuk bangun tiga juta rumah kan. Jadi sebetulnya banyak sih potensinya.
Itu perkiraannya dari utang developer bisa bangun targetnya berapa hunian?
Coba dicari waktu Pak Jokowi pertama kali jadi Gubernur Jakarta 2012-2013. Itu Pak Jokowi pernah minta itu, coba diselidiki ada berapa. Itu besar tuh banyak tuh angkanya, tapi itu kan angka yang masih harus dicek lagi ya. Jadi memang harus ada nanti kalau misalnya memang Bang Ridwan terpilih ya itu nanti akan duduk bareng sama pemerintah DKI, sama developer. Ini mana-mana aja utang-utangnya di mana, oh ini perusahaannya masih ada, oh ini perusahaannya udah tutup, orangnya udah meninggal.
Sekarang ini untuk penataan kampung kumuh di Jakarta sudah ada program namanya CAP CIP. Tapi itu realisasinya hanya merombak kecil kampung doang. Kalau dari RIDO fokusnya itu memang bikin rusun atau seperti apa?
Kalau perbaikan kampung itu yang paling utama sanitasi. Itu yang bikin orang kenapa terjadi stunting, kan bukan hanya karena nutrisi. Tapi juga karena kesehatannya buruk, sanitasinya buruk, airnya gak bersih. Sekarang karena kampungnya itu sangat padat, orang bikin septic tank disitu langsung di bawah rumah. Kemudian orang juga bangun sumur bor di bawah rumah. Kalau idealnya dulu kita belajar waktu sekolah kan harusnya ada jarak enam meter. Sekarang mana ada jarak enam meter, sebelah-sebelahan rumah antara sumur bor sama septic tank sudah tinggal sebelah-sebelahan kayak gitu. Ditambah lagi gotnya terbuka. Nah jadi paling utama sih sanitasi perbaikan kampung itu mau gak mau sekarang harus sanitasi.
Tapi sekarang dengan kampungnya udah padat banget mau nggak mau, itu sanitasi kan pasti butuh ruang, got itu pasti butuh ruang kan. Cahaya nggak masuk, jendela nggak ada. Pasti mau gak mau harus ada ditata ulang lah yang tadinya mepet-mepet begini, sekarang paling gak kita kasih ruang dikit buat jalan, paling gak cuma motor doang. Kadang-kadang cuma satu motor doang bisa lewat. Dua motor aja kadang-kadang juga harus minggir-minggir dulu kan. Itu harus, mau nggak mau tuh harus ada ruang. Dari luas kampung itu harus dipindah ke satu sisi (secara vertikal), sehingga yang tadinya bekas rumah dan sduah pindah ke rumah vertikal jadi ruang terbuka.
Apakah akan ada penggusuran untuk menata hunian tersebut?
Bukan pengusuran, kan dia tinggalnya masih di situ. Jadi ditata ulang semua. Kalau digusur itu dia kemudian tidak punya rumah lagi, dan kalaupun dia dikasih uang, rumahnya nyari tempat yang jauh. Jadi bukan gusur, tapi geser sebetulnya Cuman geser disitu-situ saja.
Ridwan Kamil dikritik dan disebut halu, karena banyak proyek infrastruktur di Jawa Barat tak dilaksanakan. Bagaimana tanggapan RIDO atas kekhawatiran publik akan hal itu?

Ingat gak, ada seorang pejuang HAM, orang kulit hitam di Amerika, namanya Martin Luther King. Dia terkenal karena pidatonya bilang 'i have a dream'. Seorang pemimpin itu harus punya mimpi, harus punya imajinasi. Nah inilah yang kemudian banyak ditwist sama orang, cuma imajinasi doang, cuma halu doang. Eh semua juga dimulai dengan halu (halusinasi). Gimana bisa pemimpin tak punya mimpi. Kalau Martin Luther King dulu dibilang 'wah halu, mana bisa orang kulit hitam duduk sama-sama sama orang kulit putih satu meja', bahkan dulu toiletnya aja dipisah, kalau naik bis mereka duduknya di belakang, orang kulit putih di depan. Halu ngomong orang kulit putih sama orang kulit hitam bisa bergandengan tangan.
Ya semua pemimpin yang visioner itu berisiko dikatain halu. Pak Sukarno waktu mendeklarasikan, ini mau jadi Indonesia, Sumpah Pemuda. Sumpah Pemuda apa gak halu, itu halu. Tapi pemimpin Indonesia punya imajinasi, kenapa enggak kita jadi bangsa sendiri. Oleh orang Belanda bilang 'wah halu mau merdeka'. Oleh orang kita sendiri 'wah kita halu nih mau merdeka gimana mungkin caranya kita merdeka'.
Semua pemimpin dunia ya harus halu dulu. Pertama harus punya mimpi, kita punya mimpi sama-sama untuk jadi lebih baik. Ada yang berhasil, ada yang gagal. Di antara yang berhasil itu melalui berbagai kegagalan dulu. Kalau setiap kali ada menemui kegagalan, memangnya Sukarno enggak ada kegagalannya? Memangnya kayak Martin Luther King enggak ada gagalnya? Banyak gagalnya.
Tapi kemudian perjuangannya diterusin nah ini yang kemudian saya sedih banget sih kayak gitu ya, wah pemimpin enggak boleh halu. Malah menurut saya pemimpin harusnya halu dan namanya pemimpin coba dicek jejaknya satu-satu. Jejaknya Sukarno, jejaknya Martin Luther King, jejaknya Elon Musk, Jejaknya siapapun, apakah tidak ada kegagalan-kegagalan. Saya yakin lebih banyak kegagalannya dibanding yang berhasil.
Jadi Seperti yang dibilang Bang Emil sih banyak kerja, banyak catatan. Kalau enggak ada kerja, enggak ada catatan. Orang enggak ngomongin. Sekarang kalau saya membalikin lagi dari kalau misalnya mau ngomongin dari calon lain, apa catatannya mungkin enggak ada yang inget, enggak ada catatan. Ya kenapa enggak ada catatan, mungkin enggak pernah berani Untuk mengeluarkan sebuah mimpi, mengeluarkan sebuah visi ke depan. Nggak pernah berani berusaha, menyatakan mau membuat apa dan kemudian tercatat di media bahwa dia berjanji melakukan ini. Kalau Bang Ridwan Kamil beliau kan mengambil risiko, dengan menyatakan saya punya visi saya ingin mewujudkan ini. Itu risiko kan karena tercatat di media dan akhirnya sekarang ditagih 'wah lu dulu pernah ingin melakukan ini, tapi enggak jadi'. Lho mendingan pernah berencana memiliki visi untuk melakukan itu.
Menurut saya itu sebuah langkah seorang pemimpin untuk mengambil risiko. Tercatat pernah memiliki visi itu, ya kadang ada yang jadi kadang ada yang enggak jadi.
Kalau banyak program yang tidak jadi di Jabar rata-rata karena apa penyebabnya?
Ada banyak faktor-faktor sebuah proyek itu Bisa jadi atau enggak jadi. Di Jakarta contohnya ada banyak monumen proyek yang enggak jadi. Contohnya mantan monorail di Jalan Kuningan. Itu saja proyek pusat, apalagi di proyek daerah. Banyak yang nggak jadi. Ada sebuah proyek itu bisa jadi antara lain investornya nggak jadi masuk, seringkali kayak gitu. Ada yang sudah mau jadi, tapi kemudian investornya mungkin bangkrut, investornya punya rencana lain. Itu biasa, bahkan di dunia swasta itu seringkali terjadi. Sudah taken kontrak, tapi kemudian investornya bilang 'ditunda ya'. Apalagi kalau ada kejadian krisis, krisis moneter, krisis covid, dan krisis lainnya. Nah investornya kemudian mengevaluasi kembali rencana-rencana investasinya.
Program rumah DP O rupiah di era Anies apakah dilanjutkan oleh RIDO?
Dengan adanya utang developer untuk membangun rusun, ya mereka harus bangun rusun tapi strukturnya doang, ditambah pemerintah yang sebetulnya punya lahan, antara lain diatas pasar. Ada 150an pasar lho, belum lagi tambahin stasiun bus, stasiun kereta. Itu bisa dibangun diatasnya. Belum lagi lahan-lahan milik BUMN, BUMD yang kosong dibiarkan belum dibangun-bangun. Belum lagi lahan-lahan Milik pemerintah pusat misalnya yang nantinya akan berangsur-angsur pindah ke IKN. Itu sebetulnya kalau mau pemerintah Jakarta bisa bilang 'ini rumah boro-boro DP0, gue kasih gratis', karena gak ada keluar biaya kan pemerintah tanahnya memang sudah tanah milik pemerintah.
Pembangunannya bangunan kewajiban rumah susunnya swasta. Sebenernya kalau mau Tanpa biaya pun sebetulnya secara teori ya, itu ada bisa.
DP0 rupiah zaman Anies gak terlalu laku, bagaiaman pandangan RIDO?
Kalau ke depan mekanismenya nanti akan dicari apakah DP0 atau tidak. Tapi yang jelas dari segi pemerintah pusatnya sekarang ada kesinambungan kebijakan. Soal perumahan dulu waktu pas zaman pemerintahannya Pak Jokowi program perumahan ada tapi tidak setegas seperti sekarang Pak Prabowo, tiga juta rumah pertahun ya. Memang ada yang di daerah pedesaan, satu juta yang di daerah perkotaan tiap tahunnya. Nah Jakarta backlognya ini KK yang belum punya rumah sendiri itu sekitar satu jutaan jadi ya kita harapkanlah target kita.
Belajar dari zamannya Anies rumah susun milik nggak laku. RIDO inginnya rumah susun sewa atau milik?
Harus ada dua-duanya, rumah susun milik (rusunami) sama rumah susun sewa (rusunawa). Nah rusunaminya kenapa orang masih berpikir sekian kali lipat untuk membeli rusunami karena harganya itu mahal. Jadi memang rusunami itu harus disubsidi habisan-habisan. Dalam artian sehingga orang bisa tinggal di sana itu tanpa terlalu membebani, sekarang kalau permasalahan kita, harganya sudah mahal. Kemudian penyusutan, asetnya bukannya bukannya nambah Tapi kemudian malah turun. Nah itu sebetulnya salah.
Itu artinya harga jual di awalnya terlalu mahal. Harusnya kalau rumah susun itu harganya stabil. Memang nggak naik tinggi seperti tanah, kalau tanah kan memang karena jumlahnya terbatas. Jadi rumah susun itu harusnya stabil, selagi ekonominya juga tetap tumbuh. Rumah susun itu bukan untuk investasi kenaikan harga tanah. Rumah susun itu untuk investasi waktu, dalam artian dia tinggal di rumah susun, mungkin harga rumah susunnya tidak naik seperti kalau punya tanah. Tapi dia bisa saving dari segi waktu Ke kantor cuma 15 menit punya waktu dengan keluarga. Jadi dia bisa berinteraksi dengan lebih banyak calon pembeli atau calon bisnis partner. Jadi orang yang tinggal di rumah susun itu investasinya, value yang dia dapat itu dari segi waktu.
Harusnya memang dibuat sangat affordable. Sehingga kemudian orang mau tinggal di sana. Caranya bisa beda-beda untuk membuat itu affordable, kalau caranya Pak Anies adalah DP-nya dijadikan 0. Tapi sebetulnya kan cara Untuk menjadikan sebuah properti itu lebih affordable kan ada banyak cara. Bisa dibuat DP-nya 0, bisa dibuat Jangka waktu cicilan pembayarannya lebih panjang, bisa dibuat bunga cicilannya lebih murah. Bisa dibuat harga awalnya Lebih murah, yaudah hitung biaya konsumsi saja. Kemudian kalau memang KTP di Jakarta, lalu kerjaannya memang dalam radius 1 km atau 2 km dari rumah susunnya, dia dapat prioritas untuk tinggal di sana. Dia bisa dapatkan rumah susun itu dengan harga yang sangat murah, taruh lah harga konsumsinya aja. Harga konsumsi kan gak mahal, membangun sebuah rumah susun mau di Jalan Sudirman-Thamrin atau di ujungnya Bekasi itu kan biaya konsumsinya sama. Harga semennya sama, harga buruhnya juga sama. Yang beda kan harga tanah, kalau harga tanahnya sudah tanah milik pemerintah, dia bisa dapat satu rumah susun di pusat kota Jakarta seharga rumah susun di ujungnya Bekasi, ujungnya Tangerang. Jadi hitung biaya konsumsinya saja.
Target realistisnya per tahun akan bangun berapa unit rusun?
Itu masih perlu kita hitung, yang jelas kita nanti akan hitung aset-aset pemerintah yang ada. Dari segi pertama, yang udah Paling simbiosis mutualisme jadikan rumah susun yaitu pasar. Kebetulan PD Pasar Jaya juga BUMD di bawah Pemprov DKI. Kemudian yang lain-lain disebutin juga sama Bang Ridwan, membangun di atas stasiun kereta. Ini kan perlu ada Pembahasan stasiun kereta itu kan punya PT KAI, itu kan BUMN. Berarti perlu ada diskusi dengan pemerintah pusat. Untungnya dari segi presidennya sudah satu koalisi, sudah sepemahaman dalam rangka visi untuk menambah jumlah rumah. Nanti perlu di hitung lagi dari segi tanah-tanah pemerintah yang bisa dipakai mana saja. Jadi pertama-tama yang akan dilakukan adalah inventarisir tanah BUMN yang masih kosong, yang belum dibangun atau pemerintah lain. Nanti itu bisa dihitung ketinggian rumah susunnya juga perlu dihitung, di daerah mana mungkin nggak boleh terlalu tinggi. Jadi yang lebih tepat ketinggian rumah susun jumlah unitnya berapa.
Nanti perlu ada survei lagi, preferensi masyarakat. Berapa unit yang dua kamar tidur. Berapa unit yang satu kamar tidur. Berapa unit yang studio.
Realistisnya tuh kalau cicilan rusun di Jakarta, melihat kayak UMR-nya sekarang berapa cicilan per bulannya?
Kelas menengah saja banyak yang mengharapkan. Mungkin banyak teman kita, gak bisa beli rumah di Jakarta. Jadi kalau mau rumah Itu ya harus keluar dari Jakarta. Kalo mau maksain punya tinggal di tanah di Jakarta, beli rumah terlalu mahal, tinggal di kampung padat, kita gak mau. Jadi ini kelas kita, kelas menengah kegencet yang tersedia itu pilihannya sangat mahal atau kurang layak. Di kampung kurang layak, beli rumah yang proper terlalu mahal. Sama apartemen juga masih sangat kurang apartemen yang kelas menengah. Sekarang apartemen yang super mahal, super lux atau apartemen rusunami yang kita juga mikir-mikir di sana kan. Jadi apartemen rumah susun kelas menengah Ini sangat kurang.
Apakah water way realistis bisa dibangun di Jakarta?

Pernah ke kanal banjir timur nggak? Nah realistis nggak di Banjir Kanal Timur (BKT)? Bisa, kalau BKT nggak ada masalah, itu sudah dalam. Coba kanal Yang di Dukuh Atas yang nyeberang dari LRT Dukuh Atas sampe ke KRL Sudirman, itu kan yang lewatin BNI Sudirman City. Itu sangat bisa dilewatin untuk transportasi air.
Kanal Banjir Barat itu kan sangat mungkin dilewatin. Ada beberapa sungai-sungai yang bisa dilewatin. Di Jakarta itu masalahnya banyak sungai-sungai kecil yang sudah sedimentasinya numpuk jadi lama-lama dia semakin semakin dangkal. Tapi semua sungai di dunia sebetulnya mengalami kayak gitu, bedanya ada pemerintahnya yang rajin ngerukin, ada yang kemudian nggak rajin ngerukin. Jakarta selama ini memang nggak rajin ngerukin, bahkan selama beberapa tahun lalu ya, Itu ada proyek PU dengan Bank Dunia untuk melakukan dredging, dikeruk lagi sungai-sungai secara masif. Itu kalau enggak salah sampai ya selesai tahun 2018, tolong dicek lagi, nama proyeknya itu JEDI Jakarta Emergency Dredging. Nah lumpur yang sedimentasi itu dipakai ke beberapa tempat, salah satunya di Ancol akhirnya jadi reklamasi. Salah satunya jadi sirkuit Formula E kayak juga.



















