Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

7 dari 10 Warga Korsel Dukung Pembatasan Akses Media Sosial Remaja

7 dari 10 Warga Korsel Dukung Pembatasan Akses Media Sosial Remaja
ilustrasi bendera Korea Selatan (pexels.com/aboodi vesakaran)
  • Survei Korea Press Foundation terhadap 1.000 responden menunjukkan 70,7 persen warga Korea Selatan mendukung pembatasan akses media sosial bagi anak di bawah umur.
  • Remaja cenderung menolak kebijakan ini, dengan 59 persen menentang. Sebaliknya, dukungan orang dewasa tinggi, baik yang memiliki anak di bawah umur maupun tidak.
  • Usia 15 tahun menjadi batas favorit untuk pembatasan. Namun, 59,8 persen responden memprioritaskan keamanan dan tanggung jawab platform, termasuk 72 persen responden remaja.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, IDN Times - Sebanyak tujuh dari 10 warga Korea Selatan mendukung kebijakan yang membatasi akses anak di bawah umur terhadap platform media sosial. Hasil survei dari Pusat Riset Media Yayasan Pers Korea (Korea Press Foundation) menunjukkan bahwa 70,7 persen responden menyetujui penerapan aturan pembatasan tersebut.

Survei daring tersebut melibatkan 1.000 responden berusia 14 hingga 58 tahun yang dilaksanakan pada Agustus 2026. Survei ini dilakukan di tengah meningkatnya kekhawatiran global mengenai dampak penggunaan media sosial secara berlebihan oleh kelompok remaja.

  1. 1. Remaja Korsel cenderung menolak kebijakan pembatasan

    ilustrasi pengguna media sosial
    ilustrasi pengguna media sosial (unsplash.com/Vullnet Ademaj)

    Berdasarkan temuan riset tersebut, dukungan masyarakat terbagi menjadi dua tingkatan utama. Dilansir The Herald Business, sebanyak 28,7 persen responden menyatakan sangat mendukung regulasi pembatasan, sementara 42,0 persen lainnya menyatakan cenderung mendukung. Adapun responden yang menolak aturan ini mencakup 29,3 persen, dengan rincian 22,3 persen cenderung menolak dan 7,0 persen sangat menolak.

    Namun, pandangan berbeda ditunjukkan oleh kelompok remaja yang menyumbang seperlima dari total responden survei. Sebanyak 59,0 persen responden remaja menolak pembatasan akses media sosial, sedangkan hanya 41,0 persen dari mereka yang mendukung.

    Sementara itu, tingkat dukungan di kalangan orang dewasa tergolong tinggi tanpa memandang status kepemilikan anak. Dukungan dari kelompok dewasa yang memiliki anak di bawah umur mencapai 77,5 persen, tidak jauh berbeda dari kelompok dewasa tanpa anak yang mencatatkan dukungan sebesar 78,3 persen.

  2. 2. Usia 15 tahun dinilai paling ideal untuk pembatasan

    ilustrasi pembatasan usia remaja
    ilustrasi pembatasan usia remaja (unsplash.com/sean Kong)

    Survei ini juga mendata pandangan masyarakat mengenai batas usia minimal yang paling tepat untuk mulai diberlakukannya pembatasan akses. Dari berbagai opsi yang diberikan, batas usia 15 tahun menjadi pilihan yang paling banyak dipilih oleh responden, yakni mencapai 16,8 persen.

    Pilihan terbanyak berikutnya adalah batas usia 18 tahun yang didukung oleh 14,9 persen responden. Selain itu, terdapat 13,1 persen responden yang menilai pembatasan sebaiknya diterapkan untuk anak-anak di bawah usia 12 tahun.

  3. 3. Publik minta fokus dititikberatkan pada tanggung jawab platform

    ilustrasi media sosial
    ilustrasi media sosial (pexels.com/Tracy Le Blanc)

    Meski dukungan terhadap kebijakan pembatasan terbilang tinggi, mayoritas responden meyakini efektivitas aturan tersebut akan terbatas dalam praktiknya. Banyak pihak memperkirakan para remaja akan mencari celah dengan menggunakan akun milik orang lain. Mereka juga diprediksi akan berpindah ke platform atau layanan daring lain yang tidak terjangkau oleh regulasi tersebut.

    Menanggapi kendala tersebut, survei menanyakan apakah upaya menciptakan lingkungan media sosial yang aman harus berfokus pada pembatasan penggunaan atau akuntabilitas penyedia platform. Hasilnya, sebanyak 59,8 persen responden menilai prioritas utama harus diberikan pada peningkatan keamanan fitur dan lingkungan platform itu sendiri.

    Kelompok remaja menegaskan sikap yang lebih kuat terkait penyediaan fitur keamanan oleh penyedia layanan digital. Berdasarkan data yang dihimpun, sebanyak 72,0 persen responden remaja menuntut agar tanggung jawab terbesar dibebankan langsung kepada perusahaan platform media sosial.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More