Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Rusia Klaim Menang Telak Perangi Ukraina, Ogah Lanjut Negosiasi

Rusia Klaim Menang Telak Perangi Ukraina, Ogah Lanjut Negosiasi
potret Presiden Rusia, Vladimir Putin (commons.wikimedia.org/Presidential Executive Office of Russia)
  • Vladimir Putin mengklaim Rusia unggul telak dalam perang melawan Ukraina dan menyebut Kyiv sebagai “negara teroris”, sehingga menolak melanjutkan negosiasi damai.
  • Putin membuka peluang negosiasi hanya jika ditujukan untuk mengakhiri perang secara permanen, bukan gencatan senjata atau proses berlarut yang dinilainya buntu.
  • Rusia masih menggempur Ukraina, termasuk jaringan rel pada Selasa yang menewaskan enam pekerja; negosiasi terakhir di Jenewa pada Februari gagal menghasilkan kesepakatan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, IDN Times - Pemerintah Rusia mengklaim sudah menang telak dalam memerangi Ukraina. Pernyataan tersebut disampaikan oleh Presiden Rusia, Vladimir Putin, kepada awak media pada Selasa (1/9/2026). 

Oleh karena itu, Putin mengatakan tidak akan bersedia melanjutkan negosiasi damai dengan Ukraina. Sebab, ia ogah bernegosiasi dengan “Negara teroris” seperti Kyiv. "Saya tidak ragu bahwa musuh (Ukraina) akan runtuh," ujar Putin, seperti dikutip Jerusalem Post, Rabu (2/9/2026). 

  1. 1. Putin mau melanjutkan negosiasi dengan syarat

    Negosiasi damai.
    ilustrasi negosiasi (pexels.com/Monstera Production)

    Kendati demikian, Putin mengatakan, ia akan bersedia melanjutkan negosiasi dengan Ukraina jika upaya tersebut benar-benar dilakukan untuk mengakhiri perang secara permanen, bukan untuk gencatan senjata atau yang lainnya. Sebab, Putin menilai selama ini negosiasi yang dilakukan Moskow dan Kyiv berjalan alot sehingga kerap gagal menghasilkan kesepakatan damai. Menurutnya, hal itu seharusnya tidak terjadi karena hanya buang-buang waktu.  

    “Satu-satunya hal yang ingin kami hindari adalah proses yang berputar-putar tanpa tujuan. Namun, jika seseorang mampu membawa sesuatu yang positif ke dalam negosiasi ini, seperti yang kami pahami, saat ini agak buntu, maka, secara umum, kami tidak keberatan (untuk melanjutkan negosiasi),” lanjut Putin dilansir The Strait Times.

  2. 2. Rusia masih menggempur Ukraina hingga saat ini

    Kota Kyiv di Ukraina.
    potret Kota Kyiv, Ukraina, yang hancur akibat serangan Rusia (pexels.com/Алесь Усцінаў)

    Hingga saat ini, Rusia masih menggempur Ukraina. Serangan terakhir Moskow ke Kyiv terjadi pada Selasa. Ketika itu, militer Rusia meluncurkan serangan ke jaringan rel kereta api yang ada di sejumlah wilayah di Ukraina. Berdasarkan keterangan perusahaan kereta api nasional Ukraina, Ukrzaliznytsia, serangan itu menewaskan enam pekerja yang sedang bertugas di sekitar jaringan rel. 

    “Malam yang sangat sulit bagi seluruh keluarga perkeretaapian. Staf perkeretaapian telah bekerja di lokasi kejadian sejak pagi hari. Serangan tersebut telah menyebabkan kerusakan yang signifikan. Petugas penyelamat masih memadamkan sejumlah kebakaran,” jelas Ketua Ukrzaliznytsia, Oleksandr Pertsovsky, dilansir The Guardian.  

  3. 3. Negosiasi Rusia dan Ukraina sudah berhenti sejak Februari

    Perang antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel.
    ilustrasi perang antara Iran melawan Amerika Serikat dan Israel (unsplash.com/Saifee Art)

    Negosiasi antara Rusia dan Ukraina sendiri sudah berhenti sejak Februari lalu. Ketika itu, kedua negara terakhir kali melakukan negosiasi damai di Jenewa, Swiss. Sayangnya, negosiasi tersebut gagal menghasilkan kesepakatan damai.

    Proses negosiasi antara Rusia dan Ukraina juga terhambat akibat perang Iran melawan Amerika Serikat (AS) dan Israel. Sebab, Washington jadi fokus berperang melawan Iran dibanding memediasi negosiasi Moskow dan Kyiv. Rusia dan Ukraina juga tidak bisa melanjutkan negosiasi jika tidak ada AS yang berperan sebagai mediator.  

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More