Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

FDA Izinkan Veppanu, Obat Kanker Payudara Buatan Pfizer dan Arvinas

FDA Izinkan Veppanu, Obat Kanker Payudara Buatan Pfizer dan Arvinas
Pfizer (commons.m.wikimedia.org/János Korom Dr. >17 Million views)
Intinya Sih
  • FDA resmi menyetujui Veppanu, obat kanker payudara buatan Pfizer dan Arvinas, sebagai terapi pertama berbasis teknologi PROTAC untuk pasien dengan mutasi gen ESR1 yang kebal terhadap terapi endokrin.
  • Hasil uji klinis VERITAC-2 menunjukkan Veppanu menurunkan risiko keparahan penyakit atau kematian hingga 43 persen dibandingkan fulvestrant, serta menggandakan waktu bebas progresi penyakit pada pasien dengan mutasi ESR1.
  • Veppanu direkomendasikan diminum 200 mg sekali sehari bersama makanan, disertai peringatan efek samping jantung dan risiko bagi janin; Pfizer dan Arvinas akan menunjuk pihak ketiga untuk distribusi global.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Jakarta, IDN Times - Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA) resmi memberikan izin edar untuk Veppanu (vepdegestrant) pada Jumat (1/5/2026). Obat kanker payudara ini dikembangkan bersama oleh Pfizer dan Arvinas khusus untuk pasien kanker stadium lanjut dengan mutasi genetik tertentu.

Keputusan ini menjadikan Veppanu sebagai obat pertama berteknologi proteolysis-targeting chimera (PROTAC) yang disetujui oleh FDA. Persetujuan ini memberikan tambahan pilihan pengobatan bagi pasien yang sebelumnya memiliki keterbatasan alternatif terapi.

1. Persetujuan untuk pasien yang kebal terapi endokrin

ilustrasi FDA Approved (pexels.com/Chokniti Khongcum)
ilustrasi FDA Approved (pexels.com/Chokniti Khongcum)

Persetujuan FDA dikhususkan bagi pasien dewasa dengan kanker payudara stadium lanjut yang telah menyebar, memiliki reseptor estrogen positif (ER+), HER2-negatif, dan membawa mutasi gen ESR1.

Pasien yang bisa menerima obat ini adalah mereka yang penyakitnya terus bertambah parah meski sudah menjalani minimal satu kali terapi endokrin. Mutasi ESR1 sendiri muncul pada sekitar 40 hingga 50 persen pasien ER+/HER2- yang sudah pernah menerima terapi endokrin dan obat penghambat CDK4/6. Kondisi ini membuat tubuh pasien menjadi kebal terhadap pengobatan standar.

"Persetujuan ini adalah yang pertama bagi obat buatan Arvinas dan teknologi PROTAC yang kami kembangkan sejak 2013. Hal ini membuktikan bahwa metode penguraian protein yang ditargetkan bisa memberikan manfaat medis yang nyata," kata Presiden dan CEO Arvinas, Randy Teel, dilansir The Globe and Mail.

2. Hasil uji klinis tunjukkan Veppanu lebih efektif

Ilustrasi laboratorium kampus
Ilustrasi laboratorium kampus (freepik.com/freepik)

Keputusan FDA didasarkan pada data uji klinis VERITAC-2. Studi fase 3 ini melibatkan 624 pasien di seluruh dunia untuk membandingkan Veppanu dengan fulvestrant, yaitu terapi standar yang diberikan lewat suntikan intramuskular. Pada kelompok yang berisi 270 pasien dengan mutasi ESR1, Veppanu terbukti jauh lebih efektif.

Hasil studi menunjukkan bahwa Veppanu menurunkan risiko keparahan penyakit atau kematian hingga 43 persen dibandingkan fulvestrant. Rata-rata pasien yang menggunakan Veppanu bisa bertahan tanpa keparahan penyakit selama 5 bulan. Angka ini dua kali lipat lebih lama dibandingkan pengguna fulvestrant yang rata-rata hanya bertahan 2,1 bulan.

Tingkat keberhasilan terapi juga lebih tinggi, yakni 19 persen untuk Veppanu dan 4 persen untuk fulvestrant. Namun, manfaat ini hanya terlihat pada pasien yang memiliki mutasi gen ESR1.

3. Aturan pakai dan rencana penjualan obat

ilustrasi obat
ilustrasi obat (pexels.com/Deise Elen)

Dosis yang dianjurkan untuk Veppanu adalah 200 mg yang diminum sekali sehari bersama makanan. Pengobatan ini dilanjutkan sampai penyakit bertambah parah atau muncul efek samping yang tidak bisa ditahan oleh tubuh pasien. Aturan pakai obat ini juga mencantumkan peringatan tentang risiko gangguan irama jantung (perpanjangan interval QTc) dan bahaya bagi janin.

Arvinas dan Pfizer berencana menunjuk pihak ketiga untuk mengurus penjualan Veppanu di seluruh dunia. Langkah ini diambil untuk memastikan pasien yang membutuhkan bisa mendapatkan obat tersebut dengan lebih mudah.

"Veppanu menjadi pilihan baru bagi pasien kanker payudara yang penyakitnya terus bertambah parah setelah pengobatan awal. Obat minum ini terbukti lebih baik dalam mencegah penyakit bertambah parah dibandingkan obat suntik standar fulvestrant," kata Kepala Petugas Medis Arvinas, Noah Berkowitz.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Anata Siregar
EditorAnata Siregar
Follow Us

Related Articles

See More