Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Cak Imin Minta Ponpes Terindikasi Kekerasan Seksual Ditutup

Cak Imin Minta Ponpes Terindikasi Kekerasan Seksual Ditutup
Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat, Muhaimin Iskandar di Gedung Jamsostek, Kuningan, Jakarta Selatan, Jumat (8/5/2026)/ (IDN Times Dini Suciatiningrum)
Intinya Sih
Timeline
5W1H
Gini Kak
Sisi Positif
  • Cak Imin menegaskan pesantren yang terindikasi pelanggaran atau rawan kekerasan seksual harus ditutup, dan meminta para kyai di tiap kabupaten mendeteksi serta merekomendasikan penutupan ponpes bermasalah.
  • Ia menilai santri perlu mendapat pembekalan tentang hak-hak pribadi sebelum mulai belajar di pesantren agar tidak mudah dimanipulasi oleh pihak yang berniat buruk.
  • Cak Imin juga meminta Kementerian Agama melakukan evaluasi menyeluruh terhadap lembaga pendidikan keagamaan dan menutup pesantren yang terindikasi melakukan pelanggaran.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Jakarta, IDN Times – Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat, Muhaimin Iskandar, mengatakan, pondok pesantren (ponpes) yang terindikasi melakukan pelanggaran atau rawan terjadi kekerasan harus ditutup.

Cak Imin pun meminta semua ulama dan kiai di setiap kabupaten berkumpul untuk mendeteksi adanya ponpes yang rawan kekerasan seksual seperti ysng terjadi di sebuah ponpes di Pati, Jawa Tengah.

"Pesantren seperti itu harus ditutup. Pesantren-pesantren yang rawan kayak ini kan rawan ya, sudah bisa dideteksi. Saya minta kepada para kiai, para ulama, para pengasuh pesantren di masing-masing kabupaten berkumpul mendeteksi, mengevaluasi, merekomendasi untuk penutupan," kata Cak Imin di Kuningan, Jakarta Selatan, Jumat (8/5/2026).

1. Santri perlu dapatkan pembekalan

Penutupan Pondok Pesantren (Ponpes) Ndolo Kusumo di Kabupaten Pati, Jawa Tengah usai kasus dugaan pemerkosaan terhadap puluhan santriwati ya
Penutupan Pondok Pesantren (Ponpes) Ndolo Kusumo di Kabupaten Pati, Jawa Tengah usai kasus dugaan pemerkosaan terhadap puluhan santriwati yang melibatkan pengasuh sekaligus pendiri terungkap. (Dok. PCNU Pati)

Cak Imin menilai, para santri perlu mendapatkan pembekalan terkait hak-hak pribadi sebelum mulai menempuh pendidikan di pesantren.

Menurut dia, banyak korban tidak memahami hak-haknya sehingga mudah dimanipulasi oleh pelaku.

“Para anak didik, santri, sebelum memulai pesantren harus mendapatkan orientasi hak-haknya sehingga tidak bisa dimanipulasi,” kata dia.

2. Kemenag lakukan evaluasi

Konferensi Pers Polresta Pati kasus penangkapan pelaku pencabulan santriwati di Pati dengan tersangka AS. (YouTube Polresta Pati)
Konferensi Pers Polresta Pati kasus penangkapan pelaku pencabulan santriwati di Pati dengan tersangka AS. (YouTube Polresta Pati)

Cak Imin juga meminta Kementerian Agama (Kemenag) melakukan evaluasi menyeluruh terhadap lembaga pendidikan keagamaan, khususnya pesantren yang memiliki indikasi pelanggaran.

“Bukan hanya pengaturan. Kementerian Agama wajib mengevaluasi seluruh yang ada, yang terindikasi harus ditutup,” ujar Cak Imin.

3. Kiai dalam kasus ponpes di Pati punya niat manipulasi

IMG_1146.jpeg
Santri bersantai di kamar asrama Pondok Pesantren Muhammadiyah Kudus. (IDN Times/Dhana Kencana)

Menurut Cak Imin, pelaku kekerasan seksual di lingkungan pesantren bukan ulama yang sesungguhnya. Dia mengatakan, sosok seperti dalam kasus di Pati sejak awal memang memiliki niat manipulatif dan tidak dikenal di kalangan pesantren.

“Tidak ada ulama yang memanfaatkan santrinya kecuali orang itu memang sejak awal punya niat manipulasi,” kata dia.

Kasus kekerasan seksual terjadi di Pondok Pesantren Ndolo Kusumo, Kecamatan Tlogowungu, Kabupaten Pati, yang melibatkan pimpinan pesantren berinisial AS pada Mei 2026. Dia telah ditetapkan sebagai tersangka dalam dugaan pencabulan terhadap puluhan santriwati.

Jumlah korban diperkirakan mencapai 30 hingga 50 santriwati, sebagian besar masih di bawah umur (perkiraan SMP). Kasus ini memicu reaksi keras dari masyarakat. Ratusan warga bahkan sempat menggeruduk lingkungan pesantren sebagai bentuk protes. 

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Deti Mega Purnamasari
EditorDeti Mega Purnamasari
Follow Us

Related Articles

See More