AS Sebut Kuba Tolak Penawaran Bantuan Senilai Rp1,7 T

- Menlu AS Marco Rubio menuding pemerintah Kuba menolak bantuan kemanusiaan senilai Rp1,7 triliun yang ditujukan untuk membantu warga terdampak krisis dan bencana Badai Melissa.
- Pemerintah Kuba melalui Menlu Bruno Rodriguez membantah tudingan tersebut, menyebut klaim bantuan dari AS sebagai kebohongan untuk membenarkan tindakan blokade terhadap negaranya.
- Rubio juga melakukan kunjungan ke Vatikan untuk memperbaiki hubungan bilateral antara AS dan Takhta Suci, bertemu langsung dengan Paus Leo XIV serta Kardinal Pietro Parolin.
Jakarta, IDN Times - Menteri Luar Negeri (Menlu) Amerika Serikat (AS), Marco Rubio menuding pemerintah Kuba memblokir bantuan dari negaranya senilai 100 juta dolar AS (Rp1,7 triliun). Pernyataan ini disampaikan saat kunjungan Italia.
“Kami sudah menawarkan rezim Kuba sebesar Rp1,7 triliun bantuan kemanusiaan. Sayangnya, sejauh ini, mereka tidak menyetujui distribusi bantuan itu membantu warga Kuba,” katanya, dikutip dari The Latin Times, Sabtu (9/5/2026).
Beberapa bulan terakhir, Kuba dihadapkan pada masalah krisis energi imbas blokade AS. Havana sudah membuka negosiasi dengan Washington untuk menyelesaikan ketegangan.
1. Sebut AS berniat membantu rakyat Kuba

Rubio mengungkapkan bahwa AS sebenarnya mau membantu rakyat Kuba yang sedang mengalami kesusahan. Namun, pemerintah Havana yang menolak tawaran bantuan dari Washington.
“Ini semua karena rezim Kuba yang tidak mau menerimanya. Rezim tersebut yang selama ini berdiri menghalangi jalan kami untuk memberikan bantuan kemanusiaan. Kami berdiskusi dan berharap dapat membantu lebih kepada rakyat Kuba,” katanya, dikutip dari Miami Herald.
Menlu AS tersebut mengungkapkan bahwa bantuan kemanusiaan dikirimkan lewat Gereja Katolik dan Caritas untuk menangani bencana Badai Melissa. Namun, tidak disalurkan lewat pemerintah Kuba.
2. Menlu Kuba sebut bantuan AS hanyalah karangan

Menlu Kuba, Bruno Rodriguez mengatakan bahwa bantuan kemanusiaan dari AS hanyalah karangan. Menurutnya, Rubio berbohong untuk menjustifikasi tindakan kriminal kepada negaranya.
“Dia harus berbohong untuk menjustifikasi serangan kriminal terhadap rakyat Kuba. Dia juga mengarang dan membuat cerita soal tawaran bantuan hingga ratusan juta dolar AS, itu hanya untuk menipu rakyat Kuba dan Amerika,” ujarnya, dilansir dari EFE.
Rodriguez mengatakan, blokade AS ke Kuba adalah hukuman kolektif dengan niatan genosida untuk seluruh negeri. Washington menggunakan kami sebagai tawanan untuk mempertahankan kekuasaannya.
3. AS dan Vatikan bersedia perbaiki hubungan bilateral

Pernyataan ini disampaikan Rubio saat bertemu dengan Paus Leo XIV di Vatikan. Ia ditugaskan untuk pergi ke Vatikan dan memperbaiki relasi antara AS dan Vatikan yang sempat memburuk dalam beberapa bulan terakhir.
Selain bertemu dengan Paus Leo XIV, Rubio juga bertemu dengan Kardinal Pietro Parolin yang menjabat sebagai Sekretaris Negara Vatikan. Parolin dikenal sebagai sosok yang terus membela Paus Leo dari kritikan dari Presiden AS, Donald Trump.
“Melontarkan kritikan kepada Paus Leo cukup aneh bagi saya. Meskipun demikian, AS tetap menjadi negara penting dalam negosiasi dan kami akan mendengar mereka dan berbicara soal acara situasi terkini,” terangnya, dikutip dari Politico.

















