Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Jepang Diguncang Fenomena Kokushobi, Suhu Tembus 40 Derajat Celsius

Jepang Diguncang Fenomena Kokushobi, Suhu Tembus 40 Derajat Celsius
ilustrasi cuaca panas (pexels.com/joonho cho)
Intinya Sih
  • Jepang mencatat fenomena kokushobi pertama dengan suhu menembus 40 derajat Celsius di beberapa prefektur, memecahkan rekor panas dan memicu peringatan dari Badan Meteorologi Jepang.
  • Otoritas mengeluarkan peringatan serangan panas di lebih dari 40 prefektur, dengan ratusan warga dirawat dan dua korban jiwa akibat suhu ekstrem yang melanda berbagai wilayah.
  • Kenaikan suhu mendorong perubahan besar pada aktivitas masyarakat, mulai dari penyesuaian pola tanam petani hingga kebijakan pakaian santai di kantor demi menghadapi cuaca ekstrem.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, IDN Times – Jepang mengalami kokushobi atau “hari panas yang kejam” pertamanya pada Selasa (21/7/2026), ketika suhu ekstrem di sejumlah wilayah menembus 40 derajat Celsius. Berdasarkan laporan The Guardian, suhu tersebut tercatat di Gujo dan Tajimi, Prefektur Gifu, serta Toyota, Prefektur Aichi. Gujo membukukan suhu 40 derajat Celsius, sedangkan Toyota mencapai 40,1 derajat Celsius yang menjadi rekor tertinggi sepanjang sejarah di stasiun cuaca setempat.

Badan Meteorologi Jepang (JMA) memperkenalkan istilah kokushobi pada April untuk membantu masyarakat memahami sekaligus bersiap menghadapi cuaca panas yang makin sering terjadi. JMA juga menyebut rata-rata suhu musim panas di Jepang telah meningkat sekitar 1,3 derajat Celsius dalam 100 tahun terakhir, sementara rekor suhu tertinggi nasional mencapai 41,8 derajat Celsius di Isesaki, Prefektur Gunma, pada musim panas lalu.

1. JMA mengeluarkan peringatan serangan panas

ilustrasi cuaca panas
ilustrasi cuaca panas (pexels.com/Fatih Turan)

JMA melaporkan hampir 300 dari 914 titik pengamatan di seluruh Jepang mengalami moshobi atau hari dengan suhu di atas 35 derajat Celsius. Untuk memudahkan masyarakat mengenali tingkat panas, JMA membagi kategori suhu menjadi natsubi untuk hari bersuhu di atas 25 derajat Celsius, manatsubi untuk suhu di atas 30 derajat Celsius, dan moshobi untuk suhu yang melampaui 35 derajat Celsius.

Mengutip BBC, otoritas telah menerbitkan peringatan serangan panas di lebih dari 40 prefektur. Warga juga diimbau menggunakan pendingin ruangan, mencukupi asupan air dan garam, serta membatasi aktivitas di luar ruangan. Departemen Pemadam Kebakaran Tokyo melaporkan 287 orang berusia 3 hingga 103 tahun dibawa ke rumah sakit akibat dugaan serangan panas, yang menjadi angka harian tertinggi tahun ini hingga memicu peringatan kelebihan beban ambulans.

Cuaca ekstrem tersebut turut menimbulkan korban jiwa. Seorang pria berusia 40-an ditemukan meninggal di jalanan Sanjo, Prefektur Niigata, sementara seorang pria berusia 70-an meninggal di Kanagawa, dengan kedua kasus diduga berkaitan dengan suhu ekstrem. Pada 2024, kematian akibat serangan panas di Jepang melampaui 2 ribu orang untuk pertama kalinya, sedangkan lebih dari 100 ribu orang menjalani perawatan di rumah sakit sepanjang awal Mei hingga akhir September tahun lalu. Selain itu, dilaporkan pula bahwa sepanjang tahun lalu, jumlah pekerja yang mengalami serangan panas di tempat kerja mencapai rekor 1.803 orang, dengan 19 di antaranya meninggal dunia.

2. Cuaca panas mengubah aktivitas masyarakat

ilustrasi bendera Jepang
ilustrasi bendera Jepang (unsplah.com/Colton Jones)

Kenaikan suhu mulai memengaruhi berbagai aktivitas sehari-hari, termasuk sektor pertanian. Para petani menyesuaikan cara bercocok tanam untuk menjaga hasil dan kualitas beras sebagai makanan pokok dengan memilih varietas yang lebih tahan terhadap panas. Sebagian petani juga mulai membudidayakan alpukat yang sebelumnya tak lazim ditanam dalam skala besar di Jepang.

Perubahan serupa diterapkan pada dunia olahraga. Turnamen bisbol sekolah menengah nasional Koshien telah mengubah jadwal pertandingan sejak 2024 dengan membaginya ke dalam sesi pagi dan sore. Penyesuaian itu dilakukan untuk mengurangi risiko serangan panas bagi pemain maupun penonton.

3. Pemerintah mendorong penyesuaian lingkungan kerja

Bendera Jepang
Bendera Jepang (Toshihiro Oimatsu from Tokyo, Japan, CC BY 2.0, via Wikimedia Commons)

Lingkungan perkantoran ikut menyesuaikan diri menghadapi suhu yang terus meningkat. Gubernur Tokyo Yuriko Koike mendorong para pekerja mengenakan pakaian yang lebih santai, seperti celana pendek, kemeja polo, kaos, dan sepatu olahraga. Kebijakan tersebut merupakan kelanjutan dari kampanye Bisnis Sejuk yang bertujuan mengurangi penggunaan listrik melalui penurunan ketergantungan pada pendingin ruangan.

Ancaman cuaca panas juga menjadi perhatian dalam kajian ilmiah mengenai dampaknya terhadap aktivitas masyarakat. Studi tahun 2025 oleh Lembaga Nasional untuk Studi Lingkungan (NIES) dan Universitas Waseda Tokyo menyebutkan bahwa tanpa pemotongan emisi gas rumah kaca yang signifikan, olahraga sekolah di luar ruangan berpotensi tidak lagi dapat dilakukan pada 2060-an.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More