Perdagangan RI-China 2026 Surplus, Dubes Djauhari: Kami Pro-investasi

- Perdagangan Indonesia-China pada semester I 2026 mencapai 101 miliar dolar AS dengan surplus 5,6 miliar dolar, menandakan hubungan ekonomi yang terus menguat antara kedua negara.
- Dubes Djauhari menegaskan Indonesia pro-investasi dan siap menyambut investasi berkualitas dari China untuk memperkuat industri nasional, membuka lapangan kerja, serta meningkatkan kapasitas SDM.
- Investasi asing tumbuh tujuh persen di semester I 2026, sementara transaksi Rupiah-Yuan naik 300 persen melalui skema Local Currency Transaction yang mempererat kerja sama finansial kedua negara.
Jakarta, IDN Times - Duta Besar (Dubes) Indonesia untuk China, Djauhari Oratmangun menegaskan, China merupakan mitra dagang dan investasi utama Indonesia. Ia pun mengungkapkan, tren positif perdagangan bilateral bagi kedua negara selama 2026.
Pada Januari-Juni 2026, total perdagangan kedua negara berdasarkan data kepabeanan China telah mencapai 101 miliar dolar Amerika Serikat atau sekitar Rp1.818 triliun, dengan Indonesia mencatat surplus sekitar 5,6 miliar dolar Amerika Serikat (AS) atau Rp100,8 triliun.
Adapun, jumlah investasi China dan Hong Kong di Indonesia hingga Juni 2026, telah mencapai kurang lebih 9 miliar atau Rp162 triliun. Hal itu disampaikan, Djauhari dalam acara Indonesia-China Partnership Forum di Jakarta, Kamis (23/7/2027) yang dihadiri 115 investor China.
"Angka ini menunjukkan hubungan ekonomi yang kuat, saling melengkapi, dan terus berkembang. Namun tugas ke depan, tugas kita ke depan bukan hanya meningkatkan angka perdagangan tetapi juga investasi," kata dia.
1. Indonesia komitmen jadi rumah bagi investor

Djauhari menambahkan, Indonesia bukan hanya pasar. Ia mengatakan, penduduk usia produktif menjadi kekuatan penting untuk mendukung pertumbuhan ekonomi, konsumsi domestik, pengembangan industri, serta inovasi masa depan.
Di hadapan para calon investor China, Djauhari menegaskan, Indonesia merupakan negara yang pro-investasi dan siap menyambut investasi berkualitas, investasi yang membawa teknologi, membuka lapangan kerja, meningkatkan kapasitas SDM, memperkuat industri nasional, dan menciptakan nilai tambah di dalam negeri.
"Indonesia memiliki pasar yang besar, sumber daya strategis, tenaga kerja muda, dan komitmen kuat untuk transformasi industri. Kekuatan ini tentunya saling melengkapi," kata dia.
2. Investasi asing tumbuh 7 persen selama semester I -2026

Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Anindya Bakrie memaparkan, data investasi asing sepanjang 2026 tumbuh positif sekitar 7 persen. Sedangkan, perdagangan Indonesia-China tercatat mencapai 168 miliar dolar AS sepanjang 2025, dan 101 miliar dolar AS hingga semester I tahun ini.
"Kali ini kita berhasil mengekspor barang-barang yang mempunyai nilai tambah sehingga surplusnya menjadi 5,8 miliar dolar dalam enam bulan terakhir ini," kata Anindya.
Selain itu, Indonesia-China telah sepakat mencanangkan Local Currency Transaction (LCT), dengan transaksi antara yuan dan rupiah mencapai 300 persen. Ia pun menyambut positif data tersebut.
"Local Currency Transaction dimulai dengan 30 miliar dolar, sekarang menuju 60 miliar dolar. Dan kira-kira sebulan yang lalu juga kami ke Bank Indonesia mengatakan bahwa langsung antara rupiah dan yuan transaksinya sudah naik 300 persen. Jadi, artinya ini luar biasa," kata dia.
3. China jadi mitra strategis di tengah geopolitik Timur Tengah

Anindya mengungkapkan, Presiden Prabowo Subianto dijadwalkan akan menghadiri acara APEC Summit yang digelar pada pertengahan November 2026 di China. Acara tersebut akan dipimpin langsung Presiden Xi Jinping.
Ia berharap sejumlah pemimpin dunia, seperti Presiden AS Donald Trump hingga Presiden Rusia Vladimir Putin turut hadir dalam forum itu. Ini menggambarkan bahwa di tengah gonjang-ganjing geopolitik di Timur Tengah, China bisa menjadi suatu mitra yang stabil dan tetap membawa pertumbuhan bagi Indonesia.
"Saya dengar tentunya dari teman-teman pemerintah bahwa Pak Presiden Prabowo berkenan untuk hadir. Jadi ini mungkin pertama kali pimpinan-pimpinan dunia, termasuk mudah-mudahan Amerika, Rusia hadir di bawah kepemimpinan China," kata Anindya.















