Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

AS Sita Tanker Minyak Venezuela Lagi, Tuduh Langgar Blokade

ilustrasi kapal tanker
ilustrasi kapal tanker (unsplash.com/Marcus Dall Col)
Intinya sih...
  • Pasukan AS menyita kapal tanker minyak Venezuela di Karibia
  • Penyitaan Sagitta menambah daftar kapal Venezuela yang disita AS
  • Pemerintah Venezuela terima hasil penjualan minyak pertama
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Jakarta, IDN Times - Pasukan Amerika Serikat (AS) kembali menyita sebuah kapal tanker minyak yang terkait dengan Venezuela di perairan Karibia pada Selasa (20/1/2026). Komando Selatan AS (SOUTHCOM) mengonfirmasi pengambilalihan Motor Vessel Sagitta berjalan lancar tanpa insiden berarti.

Aksi militer itu menandai penyitaan ketujuh yang dilakukan Washington sejak 10 Desember lalu. Operasi penangkapan merupakan bagian dari upaya agresif pemerintahan Presiden AS Donald Trump untuk mengontrol aliran ekspor minyak dari negara Amerika Selatan itu setelah penggulingan Nicolas Maduro.

Kapal tersebut dituduh beroperasi menentang kebijakan blokade yang ditetapkan AS terhadap armada yang terkena sanksi.

1. Kapal Sagitta berbendera Panama

ilustrasi kalap tanker. (unsplash.com/Sheng Hu)
ilustrasi kalap tanker. (unsplash.com/Sheng Hu)

Pasukan gabungan AS yang terdiri dari Penjaga Pantai (Coast Guard), Angkatan Laut, dan Marinir bergerak cepat menaiki dan mengambil alih kendali Sagitta. SOUTHCOM merilis rekaman udara operasi itu, yang memperlihatkan kapal tanker berlayar sendirian di lautan sebelum dicegat. Kementerian Keuangan AS mengidentifikasi Sagitta sebagai kapal berbendera Panama yang dimiliki oleh Sunne Co Limited, sebuah perusahaan berbasis di Hong Kong.

Kapal itu diduga kuat menjadi bagian dari armada bayangan (shadow fleet) yang kerap digunakan untuk mengangkut minyak secara diam-diam dari negara-negara yang disanksi seperti Iran, Rusia, dan Venezuela. Pihak militer AS menegaskan tidak akan menoleransi pelanggaran terhadap aturan distribusi minyak yang baru ditetapkan.

"Penangkapan tanker lain yang beroperasi menentang blokade Presiden Trump menunjukkan tekad kami untuk memastikan bahwa satu-satunya minyak yang meninggalkan Venezuela adalah minyak yang dikoordinasikan dengan benar dan sah," sebut SOUTHCOM dalam pernyataan resminya, dilansir The Hill.

2. Menambah daftar kapal Venezuela yang disita AS

Presiden AS, Donald Trump
Presiden AS, Donald Trump (The White House, Public domain, via Wikimedia Commons)

Penyitaan Sagitta menambah daftar panjang aset Venezuela yang diambil alih AS dalam dua bulan terakhir. Sebagian besar kapal ditangkap di sekitar Karibia, tetapi satu kapal bernama Bella 1 sempat dikejar hingga Atlantik Utara saat mencoba berbalik arah menuju Eropa sebelum akhirnya disita pada 8 Januari.

Sebelumnya, AS telah meningkatkan kehadiran militernya di wilayah itu dengan kapal perang dan ribuan tentara untuk menegakkan sanksi. Tekanan militer Washington mencapai puncaknya pada 3 Januari, ketika pasukan khusus AS melakukan operasi mendadak menangkap Presiden Venezuela Nicolas Maduro dan istrinya.

Pejabat AS menegaskan Washington tidak berniat memerintah Venezuela secara langsung, melainkan hanya memegang kendali atas industri minyaknya. Gedung Putih berambisi mengundang investasi perusahaan minyak AS hingga 100 miliar dolar AS (Rp1.696 triliun) guna memperbaiki infrastruktur energi Venezuela yang hancur.

3. Pemerintah Venezuela terima hasil penjualan minyak pertama

bendera Venezuela
bendera Venezuela (unsplash.com/aboodi vesakaran)

Presiden Trump secara terbuka menyatakan bahwa AS telah mengambil alih jutaan barel minyak Venezuela dan menjualnya ke pasar global. Dana hasil penjualan itu diklaim akan digunakan untuk kepentingan rakyat Venezuela. Pemerintah sementara Venezuela yang kini dipimpin Delcy Rodriguez membenarkan adanya aliran dana masuk dari hasil penjualan aset tersebut.

"Kami harus menginformasikan kepada Anda bahwa kami telah menerima dana dari penjualan minyak, sebesar 300 juta dolar AS (sekitar Rp5 triliun) dari 500 juta (sekitar Rp8,4 triliun) dolar AS yang pertama," ungkap Rodriguez di Caracas, dilansir CBC News.

Dana segar itu rencananya akan disalurkan melalui bank sentral untuk menstabilkan pasar dan menjaga daya beli pekerja Venezuela yang sempat terpuruk akibat krisis berkepanjangan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Sonya Michaella
EditorSonya Michaella
Follow Us

Latest in News

See More

Poin-Poin Pertemuan Presiden Prabowo dan Raja Charles III di Inggris

22 Jan 2026, 09:32 WIBNews