Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

AS Tarik Staf Kedutaan dari Arab Saudi Imbas Serangan Houthi

4 min read
AS Tarik Staf Kedutaan dari Arab Saudi Imbas Serangan Houthi
Kota Riyadh, Arab Saudi (unsplash.com/Oualid Lakhrouti)
  • AS memerintahkan staf pemerintah nondarurat dan keluarga mereka pulang dari Arab Saudi akibat lonjakan serangan rudal serta drone Houthi terhadap bandara dan fasilitas minyak.
  • Kemlu AS menegaskan penarikan hanya berlaku di Arab Saudi, bukan negara Teluk lain; Kedutaan Riyadh memperketat penggunaan bandara bagi pegawai pemerintah.
  • Serangan terbaru di Dammam dan fasilitas Shaybah menewaskan tiga orang, sementara runtuhnya gencatan senjata memicu ancaman terhadap bandara, energi, dan pelayaran Laut Merah.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Kementerian Luar Negeri (Kemlu) Amerika Serikat (AS) memerintahkan kepulangan staf pemerintah nondarurat beserta keluarga mereka dari Arab Saudi pada Rabu (21/10/2026). Keputusan ini diambil menyusul lonjakan serangan rudal dan drone kelompok Houthi Yaman yang menyasar bandara sipil serta fasilitas minyak di kerajaan tersebut.

Perintah ini mencakup personel di Kedutaan Besar AS di Riyadh dan konsulatnya. Fasilitas tersebut sempat rusak parah pada awal perang AS melawan Iran akhir Februari lalu dan beroperasi dengan staf terbatas selama berbulan-bulan, sebelum sebagian diplomat kembali bertugas belakangan ini. Kemlu AS menilai serangan Houthi yang didukung Iran berpotensi meningkat cepat dan membahayakan keselamatan warga sipil serta mengganggu perjalanan udara.

  1. 1. Kemlu AS bantah evakuasi staf dari negara Teluk lain

    ilustrasi bendera Amerika Serikat
    ilustrasi bendera Amerika Serikat. (unsplash.com/Brandon Mowinkel)

    Kemlu AS membantah laporan media yang menyebutkan rencana penarikan keluarga staf kedutaan dari negara kawasan Teluk lainnya, seperti Uni Emirat Arab (UEA), Yordania, Qatar, dan Bahrain. Juru bicara Kemlu AS, Tommy Pigott, menyatakan di platform X bahwa kabar penarikan personel di luar Arab Saudi tidak akurat.

    "Kemlu AS mengeluarkan perintah keberangkatan bagi pegawai pemerintah AS nondarurat dan anggota keluarga mereka di Arab Saudi saja. Keselamatan dan keamanan personel departemen beserta keluarga mereka tetap menjadi prioritas tertinggi kami, dan kami akan terus mengambil semua langkah yang diperlukan untuk melindungi serta mendukung mereka," ujar Pigott, dilansir Anadolu Agency.

    Meski tidak melakukan evakuasi wajib di negara lain, sejumlah kedutaan AS di kawasan tersebut telah menyesuaikan jumlah staf melalui status operasi terbatas sejak Agustus lalu. Di sisi lain, militer AS dikabarkan mulai mengurangi kehadiran pasukannya di pangkalan Timur Tengah akibat ancaman Houthi dan Iran.

    Sementara itu, Presiden AS, Donald Trump, mengaku tidak mengetahui adanya perintah penarikan staf diplomatik dari Timur Tengah saat ditanya wartawan pada hari yang sama. Kedutaan Besar AS di Riyadh kini mewajibkan pegawai pemerintah meminta izin khusus Kepala Misi sebelum menggunakan bandara di Arab Saudi, serta mengimbau warganya mengikuti panduan darurat Pertahanan Sipil setempat.

  2. 2. Rentetan serangan Houthi tewaskan warga di bandara dan fasilitas minyak

    Bandara King Khalid di Arab Saudi
    Bandara King Khalid di Arab Saudi (Charles, CC BY 2.0 , via Wikimedia Commons)

    Perintah evakuasi ini keluar bersamaan dengan serangan terbaru di Bandara Internasional King Fahd di Dammam pada Rabu malam yang menewaskan satu penduduk dan melukai delapan orang lainnya. Serangan tersebut merusak fasilitas bandara dan memaksa pengalihan rute penerbangan, menyusul penangguhan operasional Bandara Internasional King Khalid di Riyadh serta penundaan jadwal di Bandara Internasional King Abdulaziz di Jeddah.

    Pada hari yang sama, Kementerian Energi Arab Saudi melaporkan dua orang tewas dan dua lainnya terluka akibat jatuhnya puing drone yang dicegat pertahanan udara di fasilitas ladang minyak Shaybah milik Saudi Aramco di dekat perbatasan UEA. Sebelumnya, serangan di bandara internasional Riyadh pada 10 Oktober lalu juga menewaskan 12 orang, termasuk satu warga AS, dan melukai lebih dari 300 orang.

    Kelompok Houthi belum mengklaim serangan hari Rabu di Dammam dan Shaybah, tetapi mereka berulang kali mengancam infrastruktur energi serta bandara Arab Saudi dalam beberapa pekan terakhir. Koalisi militer pimpinan Arab Saudi juga melaporkan telah mencegat sejumlah drone milik Houthi pada Senin dan Selasa.

  3. 3. Gencatan senjata runtuh dan ancaman meluas ke jalur pelayaran

    pasukan Houthi di Kota Sanaa, Yaman
    pasukan Houthi di Kota Sanaa, Yaman. (Public domain, via Wikimedia Commons)

    Eskalasi terbaru ini menandai runtuhnya gencatan senjata informal yang telah berlangsung selama empat tahun antara Houthi dan koalisi pimpinan Arab Saudi. Konflik kembali memanas sejak Juli lalu setelah kelompok tersebut mengumumkan embargo maritim terhadap Arab Saudi dan mulai meluncurkan serangan ke bandara, fasilitas minyak, serta kapal tanker di Laut Merah.

    Houthi berdalih serangan mereka merupakan balasan atas blokade wilayah oleh Arab Saudi dan serangan udara di bandara Sanaa. Aksi embargo kelompok ini di Selat Bab al-Mandab langsung memicu lonjakan harga minyak global, mengingat Arab Saudi sangat bergantung pada jalur Laut Merah untuk ekspor minyak sejak perang AS-Israel melawan Iran menutup Selat Hormuz.

    "Kami bertempur mewakili semua pihak, karena ancaman dan risiko dari Houthi akan meluas," kata Penasihat Politik Menteri Luar Negeri Yaman, Duta Besar Marwan Ali Noman, dilansir CBS News.

    Pemerintah Yaman kini meminta bantuan internasional untuk menghadapi kelompok Houthi yang telah menguasai ibu kota Sanaa selama lebih dari satu dekade. Inggris telah menawarkan dukungan operasi udara defensif kepada Arab Saudi, sedangkan Presiden Trump belum memastikan bantuan militer meski membuka peluang serangan balasan terhadap Houthi.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Kisah Koperasi Perempuan di Tepi Rel

Related Articles

See More