Turki Rencanakan Dana Rp36 Triliun untuk Antariksa dan Aviasi

- Turki menyiapkan dana total sekitar 2,01 miliar dolar AS atau Rp36,27 triliun untuk industri antariksa dan aviasi selama 2027–2029, demi memperkuat daya saing global.
- Anggaran program antariksa diproyeksikan naik dari 495,7 juta dolar AS pada 2027 menjadi 745 juta dolar AS pada 2029, mendukung riset, pengujian, dan komersialisasi teknologi lokal.
- Turki juga membiayai infrastruktur penerbangan, menargetkan 291 juta penumpang bandara pada 2029, sambil menyiapkan misi bulan dan bandar antariksa di Somalia.
Jakarta, IDN Times - Pemerintah Turki diperkirakan bakal mengalokasikan dana sekitar 2,01 miliar dolar AS atau setara Rp36,27 (kurs Rp18.044) triliun untuk industri aviasi dan antariksa selama tiga tahun ke depan. Rencana pembiayaan ini tercantum dalam draf anggaran pemerintah pusat 2027 serta dokumen justifikasi anggaran yang dilaporkan Anadolu.
Peningkatan alokasi dana secara bertahap dari 2027 hingga 2029 tersebut diarahkan guna memperkuat daya saing global Turki pada sektor kedirgantaraan. Kebijakan ini disiapkan untuk mendukung Program Antariksa Nasional, riset dan infrastruktur pengujian, komersialisasi teknologi lokal, hingga pemenuhan kebutuhan fasilitas transportasi udara.
1. Kenaikan anggaran antariksa dan aviasi hingga 2029

ilustrasi peluncuran roket (pexels.com/Pixabay) Anggaran untuk program antariksa dan penerbangan Turki tercatat sebesar 176 juta dolar AS atau setara Rp3,18 triliun pada tahun ini. Nilai tersebut ditetapkan naik sebesar 181,7 persen menjadi 495,7 juta dolar AS atau setara Rp8,94 triliun pada 2027 guna memperkuat daya saing global negara itu.
Proyeksi pendanaan tersebut dirancang terus bertambah menjadi 616,9 juta dolar AS atau setara Rp11,13 triliun pada 2028. Pada 2029, alokasi pembiayaan diperkirakan mencapai 745 juta dolar AS atau setara Rp13,44 triliun. Anggaran sektor luar angkasa ini dialokasikan untuk menyokong Program Antariksa Nasional Turki, riset pendukung, fasilitas pengujian, serta komersialisasi teknologi buatan dalam negeri yang memiliki nilai tambah tinggi.
2. Investasi fasilitas penerbangan dan target lonjakan penumpang

ilustrasi menara pengawas bandara (unsplash.com/Johannes Heel) Dilansir Anadolu Agency, Pemerintah Turki akan mengalokasikan sekitar 377,3 juta dolar AS atau setara Rp6,81 triliun pada 2027 untuk pekerjaan konstruksi, operasi, dan pelayanan fasilitas transportasi udara. Sementara itu, investasi infrastruktur aviasi diproyeksikan mencapai 581,1 juta dolar AS atau setara Rp10,49 triliun pada 2028. Angka investasi sarana penerbangan ini diperkirakan naik menjadi 596,2 juta dolar AS atau setara Rp10,76 triliun pada 2029 seiring bertumbuhnya permintaan perjalanan domestik.
Penguatan sarana tersebut berjalan seiring target volume penumpang pesawat yang ditetapkan pemerintah. Turki menargetkan dapat melayani 272 juta penumpang bandara pada tahun depan, termasuk penumpang transit langsung. Target penerimaan penumpang bandara tersebut diproyeksikan bertambah menjadi 282 juta orang pada 2028 dan menembus 291 juta orang pada 2029.
3. Persiapan misi penjelajahan bulan dan fasilitas di Somalia

ilustrasi pesawat luar angkasa (pexels.com/Pixabay) Turki mencatatkan sejumlah capaian penting dalam beberapa tahun terakhir melalui satelit komunikasi mandiri perdananya, Turksat 6A, serta satelit observasi bumi submeter Imece. Negara ini juga telah berpartisipasi dalam misi sains antariksa berawak pertamanya pada 2024 ketika Alper Gezeravci dan Tuva Cihangir Atasever menyelesaikan aneka eksperimen di antariksa. Selain itu, kota Antalya di barat daya Turki telah menjadi tuan rumah Kongres Astronautika Internasional (IAC) ke-77 pada 5–9 Oktober lalu.
Penyelenggaraan kongres tersebut berlangsung menjelang persiapan misi penjelajahan bulan pertama Turki tahun depan. Misi eksplorasi ini mengandalkan wahana rakitan dalam negeri dengan tingkat komponen lokal di atas 80 persen serta dilengkapi sistem propulsi hibrida. Saat ini, perakitan wahana telah selesai dan sedang menjalani pengujian, sementara Badan Antariksa Turki terus memproses pendirian bandar antariksa di Somalia untuk menjamin akses independen menuju orbit.
























