ASEAN Optimistis Kode Etik Laut China Selatan Rampung Tahun Ini

- ASEAN menegaskan target penyelesaian negosiasi Kode Etik Laut China Selatan bersama China tetap pada 2026, dengan optimisme tinggi karena intensitas perundingan meningkat signifikan tahun ini.
- Kao Kim Hourn menyebut ASEAN dan China kini menggelar pertemuan bulanan untuk menjaga momentum negosiasi, memastikan komitmen politik kedua pihak tetap kuat menuju kesepakatan final.
- Selain COC, ASEAN memperkuat kerja sama maritim lewat berbagai forum kawasan dan rencana pembentukan ASEAN Maritime Center di Filipina guna meningkatkan kolaborasi lintas sektor antarnegara anggota.
Jakarta, IDN Times - ASEAN menegaskan, target penyelesaian negosiasi Code of Conduct (COC) atau kode etik Laut China Selatan bersama China masih tetap mengacu pada tenggat 2026. Pernyataan itu disampaikan Sekretaris Jenderal ASEAN Kao Kim Hourn di tengah munculnya pertanyaan soal arah dan status hukum perundingan tersebut.
Kao menepis anggapan ASEAN dan China mulai meninggalkan gagasan COC yang mengikat secara hukum, hanya karena muncul frasa ‘efektif dan substantif’ dalam pernyataan terbaru para pemimpin ASEAN. Menurut dia, pembahasan masih terus berlangsung dan sejumlah isu penting masih dinegosiasikan antara kedua pihak.
“Pertama-tama, saya tidak ingin memotong proses yang sedang berjalan, karena tim dari pihak ASEAN dan China masih terus bernegosiasi,” ujar Kao Kim Hourn dalam briefing di Sekretariat ASEAN, Jakarta, Senin (11/5/2026).
Ia mengatakan, hingga kini komitmen penyelesaian COC tetap sama seperti yang disepakati pada 2023 di Jakarta, yakni merampungkan negosiasi dalam tiga tahun atau pada 2026.
“Target waktunya masih tetap ada. Kami sama sekali tidak menggeser target,” katanya.
Kao juga menyebut, dirinya tetap optimistis kesepakatan itu dapat selesai tahun ini karena intensitas perundingan meningkat secara signifikan.
1. ASEAN dan China kini bertemu setiap bulan

Kao menjelaskan, salah satu alasan optimisme tersebut adalah perubahan pola negosiasi yang kini dilakukan lebih rutin dibanding sebelumnya. “Kami sekarang memiliki pertemuan bulanan untuk melanjutkan negosiasi,” ujarnya.
Menurut dia, pertemuan yang dilakukan setiap bulan membuat proses pembahasan tetap menjaga momentum dan memungkinkan evaluasi perkembangan dilakukan secara berkala. “Kami mempertahankan momentum. Jadi kami membuat kemajuan yang konkret,” kata Kao.
Ia mengaku terus menerima laporan perkembangan negosiasi dan aktif mengajukan pertanyaan kepada tim terkait untuk memastikan seluruh proses berjalan dengan pemahaman yang sama. Kao bahkan membandingkan situasi saat ini dengan proses penyusunan Piagam ASEAN di masa lalu yang juga dikejar tenggat ketat.
“Saat itu instruksi dari para pemimpin adalah kami hanya punya waktu 10 bulan untuk menyelesaikan piagam ASEAN,” katanya.
Menurut dia, pengalaman tersebut menunjukkan proses negosiasi intensif tetap memungkinkan menghasilkan kesepakatan jika seluruh pihak menjaga komitmen.
2. Komitmen politik ASEAN dinilai masih kuat

Dalam keterangannya, Kao menegaskan komitmen penyelesaian COC masih ada di kedua belah pihak, baik ASEAN maupun China. “Komitmennya masih ada di kedua pihak untuk menyelesaikannya tahun ini,” ujarnya.
Ia menyebut, pembahasan dilakukan terus-menerus dengan agenda baru yang dibawa dalam setiap putaran negosiasi bulanan. “Saya tetap sangat optimistis bahwa negosiasi COC akan selesai tahun ini,” kata Kao.
ASEAN sebelumnya kembali menegaskan dukungan terhadap implementasi penuh Declaration on the Conduct of Parties in the South China Sea dan penyelesaian COC yang “efektif dan substantif” sesuai hukum internasional. Meski begitu, pertanyaan muncul terkait penggunaan istilah tersebut dan apakah itu menandakan perubahan pendekatan terhadap sifat mengikat dari COC.
Kao tidak menjawab secara langsung soal aspek legally binding (mengikat secara hukum), namun menekankan bahwa negosiasi masih berlangsung dan prosesnya belum selesai.
3. Forum maritim ASEAN juga diperkuat

Selain pembahasan COC, para pemimpin ASEAN juga menyoroti pentingnya penguatan kerja sama maritim melalui berbagai forum kawasan yang dipimpin ASEAN. Kao mengatakan, para pemimpin menyerukan kolaborasi yang lebih kuat melalui ASEAN Regional Forum, East Asia Summit, ASEAN Defence Ministers’ Meeting Plus, ASEAN Maritime Forum, hingga Expanded ASEAN Maritime Forum.
Mereka juga menekankan pentingnya ASEAN Coast Guard Forum sebagai wadah dialog dan kerja sama praktis antarnegara anggota. Menurut Kao, saat ini negara-negara ASEAN tengah menyelesaikan dokumen acuan dan konsep pembentukan forum penjaga pantai ASEAN sebagai bagian dari pilar resmi ASEAN.
“Ini adalah salah satu isu utama yang telah dibahas dan dinegosiasikan secara luas, dan kami membuat beberapa kemajuan di sana,” ujarnya.
ASEAN juga mencatat rencana pembentukan ASEAN Maritime Center di Filipina yang nantinya akan mendukung kerja sama isu maritim dan memperkuat kolaborasi lintas sektor antarnegara anggota. Selain itu, para pemimpin ASEAN juga menyatakan komitmen memperluas kerja sama praktis seperti pertukaran informasi, latihan bersama, peningkatan kapasitas, dan penguatan kesadaran domain maritim di kawasan.



















