Atasi Krisis Migrasi, Raja Spanyol Tiba Perdana di Ceuta usai 19 Tahun

- Raja Felipe VI tiba di Ceuta untuk pertama kali dalam 19 tahun, sebagai dukungan setelah krisis migrasi akhir Agustus, lalu dijadwalkan melanjutkan kunjungan ke Melilla.
- Felipe VI menyerukan pemulangan migran yang masuk ilegal ke Ceuta secara hormat dan manusiawi, sambil menegaskan kedaulatan Spanyol serta perlunya persatuan institusi dan aparat.
- Menjelang kunjungan raja, 300 polisi membongkar kamp El Guano yang menampung sekitar 500 migran; sekitar 200 orang dilaporkan masih berada di lokasi.
Jakarta, IDN Times - Raja Spanyol, Felipe VI, pada Selasa (13/10/2026), mengadakan kunjungan ke Ceuta untuk pertama kalinya dalam 19 tahun terakhir. Kedatangan kepala negara Spanyol ini untuk mendukung Ceuta usai terdampak krisis migrasi pada akhir Agustus.
Lawatan Raja Spanyol terakhir di Ceuta berlangsung pada November 2007, saat itu mantan Raja Spanyol, Juan Carlos I dan Ratu Sofia. Sementara, kunjungan ini menjadi yang pertama Felipe VI ke wilayah terluar Spanyol itu sebagai penguasa monarki.
1. Felipe VI akan berkunjung ke Ceuta dan Melilla

Raja Spanyol, Felipe VI. (Olaf Kosinsky, CC BY-SA 3.0 DE, via Wikimedia Commons) Kunjungan Felipe VI ini berbeda dibandingkan ayahnya, Juan Carlos I. Sebab, Felipe VI memilih untuk menginap di kota terluar Spanyol di Afrika tersebut, sedangkan ayahnya hanya menghabiskan 5 jam saja.
Setelah menginap di Ceuta, raja Spanyol itu akan bertolak ke Melilla. Namun, kunjungan ini tidak diikuti oleh Perdana Menteri (PM) Spanyol, Pedro Sanchez dan hanya diikuti oleh Kepala Kebijakan Teritorial, Angel Victor Torres.
Dilansir Euronews, kunjungan monarki Spanyol ke Ceuta sangatlah jarang. Sebelum 2026 dan 2007, kunjungan mereka hanya dilakukan pada 1927 atau berselang 80 tahun lamanya. Ketika itu, kakek Felipe VI, Alfonso XIII masih jadi kepala negara Spanyol.
2. Raja Spanyol desak pemulangan imigran ilegal dari Ceuta

ilustrasi bendera Spanyol (unsplash.com/harlynkingm) Dalam pidatonya, Raja Felipe VI mengatakan bahwa semua orang yang masuk secara ilegal ke Ceuta harus dipulangkan ke negara asalnya. Namun, ia memastikan bahwa imigran harus memperlakukan ini dengan hormat dan manusiawi.
“Kedaulatan dan integritas teritorial Spanyol, termasuk Ceuta sebagai sebagai sebuah negara tidak dapat dinegosiasikan. Kedaulatan ini tidak dapat diganggu gugat,” terangnya, dikutip dari EFE.
Selain itu, Felipe VI menyerukan persatuan institusi dalam mengatasi situasi di Ceuta. Menurutnya, otoritas publik, institusi lokal, dan pasukan keamanan harus bersatu untuk melindungi warga.
3. Polisi Spanyol bongkar kamp migran di Ceuta

ilustrasi imigran anak (unsplash.com/salahdarwish) Pada Minggu (11/10/2026), sebanyak 300 petugas kepolisian Spanyol membongkar kamp migran dan mengusir sejumlah imigran, termasuk imigran anak yang masih tinggal di Ceuta. Operasi ini sudah digelar menjelang kedatangan Raja Felipe VI.
Dilansir Democrata, kamp di El Guano diperkirakan sudah menampung 500 imigran yang mayoritas berasal dari Maroko. Meski sudah banyak imigran yang pergi, tapi otoritas setempat menyebut sekitar 200 imigran masih tetap berada di El Guano.
Sebelum kedatangan polisi, sejumlah migran diperkirakan sudah bersembunyi ke area pegunungan dan area permukiman di pinggir kota. Pemerintah Ceuta sudah mendorong agar para imigran kembali ke Maroko secara sukarela.






















