Putin Buka Peluang Temui Zelenskyy, Perang Rusia-Ukraina Berakhir?

- Putin mengisyaratkan perang Rusia-Ukraina mendekati akhir dan membuka peluang bertemu Zelenskyy di negara ketiga setelah kesepakatan damai final tercapai.
- Rusia dan Ukraina menyetujui gencatan senjata tiga hari serta pertukaran 1.000 tahanan, langkah yang diumumkan oleh Presiden AS Donald Trump sebagai sinyal positif menuju perdamaian.
- Perang yang telah berlangsung lebih dari empat tahun menekan ekonomi Rusia, memperlambat ofensif militernya, dan membuat parade Hari Kemenangan digelar lebih sederhana dengan partisipasi pasukan Korea Utara.
Jakarta, IDN Times - Presiden Rusia Vladimir Putin mengisyaratkan perang Rusia-Ukraina mungkin mendekati akhir setelah lebih dari empat tahun konflik berlangsung. Pernyataan itu disampaikan Minggu (10/5/2026), beberapa jam setelah menghadiri perayaan Hari Kemenangan Rusia di Lapangan Merah, Moskow.
Dalam kesempatan tersebut, Putin juga menyatakan kesediaannya bertemu Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy di negara ketiga apabila kesepakatan damai benar-benar telah dirampungkan.
“Saya pikir persoalan ini mulai mendekati akhir,” kata Putin kepada wartawan, dikutip dari Al Jazeera.
Pernyataan itu muncul di tengah perkembangan diplomatik baru antara Rusia dan Ukraina. Kedua negara mulai menjalankan gencatan senjata selama tiga hari dan menyepakati pertukaran masing-masing 1.000 tahanan, langkah yang memunculkan harapan baru terhadap proses negosiasi damai.
Sebelumnya, dalam parade Hari Kemenangan yang tahun ini berlangsung lebih sederhana dibanding tahun-tahun sebelumnya, Putin kembali menegaskan keyakinannya terhadap kemenangan Rusia di Ukraina.
“Kemenangan selalu menjadi milik kami dan akan tetap menjadi milik kami,” ujarnya di hadapan pasukan yang berbaris di Lapangan Merah.
1. Putin buka peluang bertemu Zelenskyy

Usai parade, Putin menyalahkan negara-negara Barat atas pecahnya perang di Ukraina. Ia menuding elite globalis melanggar janji untuk tidak memperluas NATO ke arah timur setelah runtuhnya Tembok Berlin pada 1989.
Menurut Putin, Barat kemudian mencoba menarik Ukraina masuk ke dalam orbit Uni Eropa dan NATO, yang selama ini dianggap Moskow sebagai ancaman strategis. Di tengah ketegangan itu, Putin mengatakan dirinya terbuka untuk bertemu langsung dengan Zelenskyy, namun bukan di Moskow seperti yang sebelumnya sempat menjadi polemik.
“Pertemuan di negara ketiga juga memungkinkan, tetapi hanya setelah perjanjian damai yang ditujukan untuk perspektif sejarah jangka panjang diselesaikan,” kata Putin.
“Ini harus menjadi kesepakatan final, bukan negosiasi,” lanjutnya.
Sebelumnya, Zelenskyy memang pernah mengusulkan pertemuan langsung dengan Putin untuk membahas perdamaian. Namun Presiden Ukraina itu menolak usulan Rusia agar pembicaraan dilakukan di Moskow.
2. Gencatan senjata dan tukar tawanan

Perkembangan diplomasi terbaru muncul setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan Rusia dan Ukraina menyetujui permintaannya untuk melakukan gencatan senjata sementara.
“Gencatan senjata ini akan mencakup penghentian seluruh aktivitas kinetik, dan juga pertukaran 1.000 tahanan dari masing-masing negara,” tulis Trump melalui Truth Social pada Jumat.
Trump mengatakan, pembicaraan untuk mengakhiri perang masih terus berlangsung dan menurutnya situasi bergerak menuju titik positif.
“Kita semakin dekat dari hari ke hari,” ujarnya.
Ia juga menyebut perkembangan itu sebagai kemungkinan awal dari berakhirnya perang panjang yang telah menelan banyak korban jiwa.
“Mudah-mudahan ini menjadi awal dari akhir perang yang sangat panjang, mematikan, dan penuh pertempuran berat,” kata Trump.
Menanggapi pengumuman tersebut, Zelenskyy kemudian mengeluarkan dekret yang secara satir mengizinkan Rusia menggelar parade Hari Kemenangan tanpa serangan Ukraina ke Lapangan Merah. Kremlin menanggapi komentar itu sebagai lelucon bodoh.
3. Rusia hadapi tekanan perang berkepanjangan

Perang Rusia-Ukraina kini telah berlangsung lebih dari empat tahun dan menjadi konflik terpanjang yang dihadapi Rusia sejak Perang Dunia II. Konflik tersebut menewaskan ratusan ribu orang, menghancurkan sebagian wilayah Ukraina, dan memberikan tekanan besar terhadap ekonomi Rusia.
Meski Rusia menguasai hampir seperlima wilayah Ukraina, pasukannya hingga kini belum berhasil menguasai seluruh kawasan Donbas di timur Ukraina. Laju ofensif Rusia juga dilaporkan melambat sepanjang tahun ini, sementara pasukan Ukraina masih bertahan di sejumlah kota benteng utama.
Dalam parade Hari Kemenangan tahun ini, Rusia juga untuk pertama kalinya menampilkan pasukan Korea Utara sebagai bentuk penghormatan kepada Pyongyang yang disebut membantu Moskow menghadapi serangan Ukraina di wilayah Kursk. Parade tersebut berlangsung lebih sederhana dibanding biasanya. Alih-alih menampilkan tank dan sistem rudal melintasi Lapangan Merah, sebagian besar perangkat militer hanya ditampilkan melalui layar raksasa.
Di sisi lain, Presiden Dewan Eropa Antonio Costa pekan lalu mengatakan, masih ada peluang pembicaraan antara Eropa dan Rusia terkait arsitektur keamanan kawasan di masa depan.
Saat ditanya apakah ia bersedia berdialog dengan negara-negara Eropa, Putin menyebut mantan Kanselir Jerman Gerhard Schroder sebagai sosok yang lebih ia sukai untuk diajak berbicara. “Bagi saya pribadi, mantan kanselir Republik Federal Jerman, Tuan Schroder, lebih disukai,” kata Putin.


















