Beredar Video Aktivis Global Sumud Flotilla Disiksa Israel, Benarkah?

- Sebuah video viral menunjukkan dugaan penyiksaan aktivis Global Sumud Flotilla 2.0 oleh militer Israel, turut dibagikan oleh akun @humantiproject dan aktivis muda Greta Thunberg.
- Kementerian Luar Negeri RI melalui juru bicara Yvonne Mewengkang menyatakan masih memverifikasi keaslian video tersebut serta belum bisa berkomunikasi langsung dengan sembilan WNI yang ikut flotilla.
- Menteri Luar Negeri Sugiono menegaskan pemerintah Indonesia terus menjalin komunikasi dengan Turki, Yordania, dan Mesir untuk memastikan perlindungan terhadap sembilan WNI yang terlibat dalam misi kemanusiaan itu.
Jakarta, IDN Times - Sebuah video beredar bahwa para aktivis Global Sumud Flotilla 2.0 yang diintersepsi militer Israel disiksa. Video tersebut dibagikan oleh akun @humantiproject dan aktivis muda @gretathunberg.
Dalam video diperlihatkan para aktivis diminta bersujud dengan tangan terikat ke depan. Selain itu, ada menteri sayap kanan Israel, Itamar Ben-Gvir yang datang dengan tersenyum senang melihat para aktivis diperlakukan layaknya penjahat. Ia bahkan sempat berkomunikasi dengan nada merendahkan dalam bahasa Ibrani.
“Aktivis dari flotilla saat ini dilecehkan Ben-Gvir saat ditahan secara ilegal oleh negara aparteid,” demikian dikutip dari unggahan tersebut, yang diunggah pada Rabu (20/5/2026).
IDN Times meminta konfirmasi dari juru bicara Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI Yvonne Mewengkang terkait video ini. Yvonne mengatakan, pihaknya masih mengecek kebenaran video tersebut.
“Masih kita cek,” kaya Yvonne dalam pesan singkat.
Sementara itu, ketika ditanya terkait kabar dari sembilan WNI yang ikut dalam Global Sumud Flotilla 2.0 ini, Yvonne mengaku masih belum dapat berkomunukasi.
“(Komunikasi) ke yang bersangkutan langsung belum bisa,” ujarnya.
Meski demikian, dalam pernyataannya, Menteri Luar Negeri (Menlu) Sugiono mengatakan, pemerintah Indonesia terus berkomunikasi dengan sejumlah negara, seperti Turki, Yordania dan Mesir untuk membantu melindungi sembilan WNI tersebut.
Mereka diketahui adalah dua jurnalis Republika, Bambang Noroyono dan Thoudy Badai, dan tujuh lainnya, yakni Herman Budianto Sudarsono, Ronggo Wirasanu, Andi Angga Prasadewa, Aras Asad Muhammad, Hendro Prasetyo, Andre Prasetyo Nugroho, dan Rahendro Herubowo.




















