Bertemu Trump, PM Irlandia Desak AS Stop Serang Iran

- PM Irlandia Micheal Martin mendesak Donald Trump menghentikan serangan AS ke Iran dan menekankan pentingnya penyelesaian konflik secara damai.
- Pertemuan Martin dan Trump berlangsung di tengah meningkatnya perang AS-Israel melawan Iran, yang menewaskan sejumlah tokoh penting Iran termasuk Ali Larijani dan Ayatollah Ali Khamenei.
- Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei menolak negosiasi damai dengan AS, sementara Trump menilai syarat perdamaian dari Iran tidak menguntungkan semua pihak.
Jakarta, IDN Times - Perdana Menteri Irlandia, Micheal Martin, mendesak Pemerintah Amerika Serikat untuk menghentikan serangan terhadap Iran. Martin mendorong Presiden AS, Donald Trump, untuk mengutamakan jalan damai untuk mengakhiri perang dengan negara mayoritas Islam Syiah tersebut.
“Itulah yang kami inginkan, penyelesaian konflik secara damai. Itulah asal muasal kami sebagai negara kecil,” kata Martin kepada wartawan setelah bertemu dengan Trump di Gedung Putih, Washington DC, pada Selasa (17/3/2026), seperti dilansir The Strait Times.
1. Martin dan Trump membicarakan soal penolakan NATO mengirim pasukan ke Selat Hormuz

Dalam pertemuan tersebut, Martin dan Trump juga membahas soal penolakan negara-negara NATO yang menolak mengirim pasukan ke Selat Hormuz. Dalam pernyataannya, Trump menyebut NATO telah membuat kesalahan bodoh karena sudah menolak ajakannya untuk mengirim pasukan ke Selat Hormuz.
Namun, Martin meyakinkan Trump bahwa negara-negara NATO pada akhirnya akan mau mengirim pasukan ke Selat Hormuz. Padahal, NATO sendiri sudah terang-terangan menolak karena tidak mau terlibat terlalu jauh dalam konflik di Timur Tengah. "Saya yakin para pemimpin Eropa dan Pemerintah AS akan terlibat. Mudah-mudahan kita bisa menemukan titik temu," kata Martin.
2. Pertemuan digelar di tengah perang AS-Israel dengan Iran yang makin panas

Pertemuan antara Martin dan Trump di Washington ini digelar di tengah perang antara AS-Israel dengan Iran yang makin panas. Hingga saat ini, baik AS, Israel, maupun Iran masih saling melakukan serangan.
Israel juga melakukan serangan terbaru ke Iran pada Senin (16/3/2026). Serangan itu menewaskan Ketua Dewan Keamanan Nasional Iran, Ali Larijani. Tewasnya Larijani menambah rentetan tokoh penting di Iran yang tewas imbas serangan AS-Israel. Sebab, pada 28 Februari 2026, mantan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, juga tewas imbas serangan kedua negara tersebut.
3. Pemimpin Tertinggi Iran menolak negosiasi damai dengan AS

Beberapa waktu lalu, Iran sebetulnya sudah bersedia berdamai dengan AS dan Israel. Namun, untuk mencapai hal tersebut, Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, mengatakan AS dan Israel harus mematuhi syarat-syarat yang diberikan olehnya.
“Satu-satunya cara untuk mengakhiri perang ini, yang dipicu oleh rezim Zionis dan AS, adalah dengan mengakui hak-hak sah Iran, pembayaran ganti rugi (atas kerusakan yang ditimbulkan akibat perang), dan jaminan internasional yang tegas terhadap agresi di masa depan,” tulis Pezeshkian dilansir Al Jazeera.
Namun, Trump enggan mematuhi semua syarat yang diberikan oleh Iran. Sebab, menurutnya, syarat-syarat tersebut tidak menguntungkan semua pihak. “Saat ini, syarat-syarat (yang diberikan oleh Iran) belum bagus,” ujar Trump.
Pemimpin Tertinggi Iran yang baru, Mojtaba Khamenei, pada Selasa juga menegaskan dirinya tidak akan melakukan negosiasi damai dengan Negeri Paman Sam. Ia berjanji akan terus melawan AS dan Israel sampai menang. Langkah ini membuat perang diprediksi akan berjalan lama.















