China Desak AS Setop Kerahkan Senjata di Luar Angkasa

- AS mengakui memiliki sistem senjata pengendali antariksa di orbit Bumi untuk membela Pasukan Gabungan, namun merahasiakan spesifikasi teknis dan jadwal peluncurannya.
- China mendesak AS menghentikan penumpukan kekuatan militer di luar angkasa, menolak militerisasi orbit, serta menyiapkan langkah untuk melindungi infrastruktur satelit nasional.
- Pengakuan AS memicu kekhawatiran perlombaan senjata antariksa; celah Perjanjian Luar Angkasa 1967 dinilai belum mengatur tegas senjata konvensional dan pengacak sinyal.
Jakarta, IDN Times - Pemerintah China pada Selasa (15/9/2026) secara resmi mendesak Amerika Serikat (AS) untuk menghentikan penumpukan kekuatan militer di luar angkasa. Langkah diplomatik tersebut disampaikan usai Washington secara terbuka mengonfirmasi pengerahan persenjataan operasional ke orbit bumi.
Perkembangan ini memicu kekhawatiran global mengenai potensi eskalasi perlombaan senjata antariksa yang dapat merusak stabilitas strategis dunia. Beijing menegaskan penolakan keras terhadap segala bentuk militerisasi yang berisiko mengubah ruang angkasa menjadi medan pertempuran baru.
1. AS akui tempatkan sistem senjata di orbit bumi
Pemerintah AS untuk pertama kalinya mengakui secara resmi kepemilikan sistem persenjataan pengendali ruang angkasa di orbit bumi. Pengakuan bersejarah ini disampaikan oleh pejabat militer pertahanan Washington dalam sebuah konferensi kedirgantaraan di Maryland.
Pengerahan alat utama sistem persenjataan (alutsista) tersebut dinilai penting oleh militer AS untuk merespons ancaman keamanan dari negara-negara pesaing strategisnya. Meski demikian, Departemen Pertahanan AS memilih merahasiakan rincian spesifikasi teknis maupun jadwal peluncurannya demi mempertahankan fungsi penangkal strategis.
"Amerika Serikat kini memiliki senjata pengendali antariksa di orbit yang mampu membela Pasukan Gabungan dari aksi musuh," kata Sekretaris Angkatan Udara AS, Troy Meink, dilansir The Hindu.
2. China tolak tegas militerisasi luar angkasa
Kementerian Luar Negeri China merespons langsung pengakuan militer Washington dengan menyampaikan keberatan diplomatik secara terbuka. Beijing menegaskan kembali komitmennya untuk mendukung pemanfaatan antariksa demi tujuan damai serta menolak pengerahan senjata di luar atmosfer.
Pemerintah China juga menegaskan akan terus memantau pergerakan militer AS di luar angkasa. Beijing kini telah menyiapkan berbagai langkah antisipasi guna menjamin keamanan dan keselamatan seluruh infrastruktur satelit nasionalnya.
3. Militerisasi antariksa picu perlombaan senjata global
Pengakuan Washington memicu peringatan dari para pakar pertahanan bahwa dunia terancam masuk ke dalam perlombaan senjata baru. Otoritas Rusia turut menyuarakan kekhawatiran serupa dan mendesak pencegahan militerisasi orbit secara menyeluruh demi keamanan bersama.
Analis hukum internasional menyoroti celah regulasi dalam Perjanjian Luar Angkasa 1967 yang hanya melarang penempatan senjata pemusnah massal. Ketiadaan aturan tegas terhadap senjata kinetik konvensional maupun sistem pengacak sinyal berisiko memicu konflik yang dapat melumpuhkan ribuan satelit sipil di seluruh dunia.
"Jika Amerika Serikat terus melanjutkan jalur ini, negara-negara lain mungkin akan terpaksa mengambil tindakan balasan," kata pengamat militer Song Zhongping.




















