Cuaca Ekstrem Melanda China, Korban Tewas Lebih dari 20 Orang

- Hujan lebat memicu banjir bandang dan longsor di China tengah-selatan, menewaskan 22 orang dan membuat 20 hilang, dengan puluhan ribu warga dievakuasi dari Hunan, Guizhou, dan Hubei.
- Pemerintah China menaikkan status darurat ke Level 3-4 serta mengalokasikan dana bantuan sebesar 150 juta yen untuk pemulihan wilayah terdampak dan evakuasi warga berisiko tinggi.
- China sebagai penghasil emisi terbesar dunia menghadapi peningkatan cuaca ekstrem, namun tetap menargetkan netralitas karbon pada 2060 melalui ekspansi energi terbarukan dan kendaraan ramah lingkungan.
Jakarta, IDN Times - Hujan lebat memicu banjir bandang dan tanah longsor di wilayah tengah dan selatan China, sejak akhir pekan lalu. Media pemerintah Xinhua pada Rabu (20/5/2026) melaporkan setidaknya 22 orang tewas dan 20 lainnya masih dinyatakan hilang akibat cuaca ekstrem ini.
Hujan dengan curah tinggi yang memecahkan rekor memaksa penutupan sekolah, penghentian aktivitas kerja, serta evakuasi hampir 24 ribu warga di wilayah terdampak di Provinsi Hunan, Guizhou, dan Hubei.
1. Berikut dampak dari bencana tersebut
Dilansir CNA, bencana ini melanda beberapa wilayah pedalaman dan selatan China dengan dampak bervariasi. Di wilayah Otonom Guangxi, 10 orang tewas setelah sebuah truk terperosok ke sungai yang meluap saat mencoba menyeberang pada Sabtu malam.
Di Provinsi Hunan, 5 orang tewas dan 11 lainnya hilang akibat hujan deras yang memicu banjir di daerah pegunungan. Lebih dari 61.500 orang di satu kabupaten dilaporkan terdampak. Sementara itu, di Provinsi Guizhou, curah hujan mencapai 250 mm. Dilaporkan, 4 orang tewas dan 5 hilang. Rekaman video yang beredar menunjukkan kendaraan terseret arus berlumpur setelah sungai meluap di kawasan perkotaan.
Di Provinsi Hubei, 3 orang tewas dan 4 hilang akibat banjir yang meruntuhkan bangunan dan memutus jalur komunikasi ke sejumlah desa. Sedangkan di Provinsi Hainan, 5 kota mencatat curah hujan ekstrem melebihi 300 mm.
2. Respons darurat dan alokasi dana

CGTN melaporkan, otoritas meteorologi memperingatkan bahwa hujan deras diprediksi masih akan berlanjut hingga Kamis (21/5/2026). Sejumlah provinsi juga telah meningkatkan status darurat banjir dan bencana geologi ke Level 3 dan 4 (dalam sistem siaga empat tingkat). Warga di daerah berisiko tinggi diimbau untuk segera dievakuasi.
Sebagai langkah untuk mendukung upaya tanggap darurat, pemerintah China telah mengalokasikan dana bantuan becana gabungan sebesar 150 juta yen (sekitar Rp16,6 miliar). Anggaran tersebut didistrikbusikan untuk pemulihan di wilayah terdampak, termasuk alokasi khusus untuk Provinsi Guizhou.
3. China sebagai penghasil gas rumah kaca terbesar di dunia

Saat musim panas, China kerap dilanda cuaca ekstrem di berbagai wilayah. Namun, para ilmuwan memperingatkan bahwa frekuensi dan intensitas bencana seperti ini akan terus meningkat akibat terus memanasnya planet ini akibat emisi bahan bakar fosil.
China adalah negara penghasil gas rumah kaca terbesar di dunia. Negara ini juga bertanggung jawab atas lebih dari seperempat emisi yang menyebabkan pemanasan global pada 2023, yakni hampir 14 miliar ton setara karbon dioksida.
Di sisi lain, China juga merupakan kekuatan energi terbarukan global yang saat ini tengah menargetkan ambisi netralitas karbon pada tahun 2060. Target tersebut dipandang sebagai langkah signifikan dalam perjuangan melawan perubahan iklim, yang menurut Presiden Xi Jinping mewakili upaya terbaik China berdasarkan persyaratan Perjanjian Paris.
Target tersebut juga mencakup semua gas rumah kaca, bukan hanya karbon dioksida, dan akan diukur dari tingkat puncak emisi, yang waktunya tidak ditentukan oleh Presiden Xi. Nantinya, China akan memperluas kapasitas tenaga angin dan surya hingga lebih dari enam kali lipat dari level pada 2020, dan meningkatkan stok hutan menjadi lebih dari 24 miliar meter kubik. Serta, menjadikan kendaraan energi baru sebagai arus utama dalam penjualan kendaraan, dilansir BBC.

















