Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Demo Gen Z di Jerman Berujung Ricuh, Politisi Kecam Aksi Penjarahan

3 min read
Demo Gen Z di Jerman Berujung Ricuh, Politisi Kecam Aksi Penjarahan
Ilustrasi kerusuhan (Unsplash.com/Gabe Pierce)
  • Sekitar 120 ribu pemuda berunjuk rasa di sedikitnya 34 kota Jerman menuntut perbaikan pendidikan, layanan kesehatan mental, kebijakan lingkungan, serta penolakan pemangkasan sosial dan wajib militer.
  • Menjelang malam, kerusuhan terjadi di Frankfurt, Hamburg, Cologne, dan Berlin; perusuh bertopeng menjarah serta menyerang aparat, sementara polisi menggunakan meriam air dan menangkap puluhan orang.
  • Politisi mengecam kekerasan, tetapi sejumlah tokoh dan inisiator GenZ regelt! menegaskan aspirasi damai kaum muda soal biaya hidup, anggaran, dan pendidikan tidak boleh tenggelam.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Demonstrasi kaum muda bertajuk "GenZ regelt!" di sejumlah kota besar Jerman berujung ricuh pada Sabtu (31/10/2026). Kalangan politisi Jerman melontarkan kecaman keras atas bentrokan dan aksi penjarahan toko yang terjadi, sembari meminta agar kerusuhan tidak menutupi aspirasi utama para demonstran.

Puluhan ribu anak muda awalnya turun ke jalan untuk menyuarakan keresahan terkait tingginya biaya hidup, pemangkasan anggaran negara, serta minimnya dana pendidikan. Namun, situasi memanas ketika sekelompok perusuh bertopeng membakar barikade jalan, menjarah pertokoan, dan menyerang aparat keamanan.

  1. 1. Aksi damai berujung bentrokan di sejumlah kota

    ilustrasi demonstrasi di Jerman
    ilustrasi demonstrasi di Jerman (unsplash.com/markusspiske)

    Aksi unjuk rasa di sedikitnya 34 kota, seperti Berlin, Frankfurt, Cologne, dan Hamburg, awalnya berlangsung damai pada siang hari dengan diikuti sekitar 120 ribu pemuda. Massa menuntut perbaikan fasilitas sekolah, penambahan layanan kesehatan mental, ketegasan kebijakan lingkungan hidup, serta menolak pemangkasan anggaran sosial dan wacana wajib militer.

    Kericuhan mulai pecah menjelang malam di Frankfurt am Main saat perusuh bertopeng memecahkan etalase dan menjarah barang-barang toko. Massa juga melempari aparat dengan petasan, batu, botol, hingga bom molotov, yang dibalas polisi dengan semprotan meriam air. Kerusuhan serupa turut melanda Hamburg, Cologne, dan Berlin hingga berujung pada penangkapan puluhan demonstran.

  2. 2. Para politisi Jerman mengecam aksi kerusuhan

    bendera Jerman
    ilustrasi bendera Jerman (pexels.com/Claudio Mota)

    Menteri Utama Hesse, Boris Rhein, mengutuk keras penjarahan di Frankfurt melalui akun media sosial X dan menegaskan penolakannya terhadap segala aksi anarkistis.

    "Aksi kekerasan seperti itu sama sekali tidak dapat dibenarkan," tegas Boris Rhein, dilansir France 24.

    Sementara itu, Menteri Dalam Negeri Alexander Dobrindt menduga adanya provokator sayap kiri dan kelompok tertentu yang menunggangi aksi damai pemuda. Ia memastikan aparat akan menindak tegas para pelaku perusakan dan mengapresiasi kinerja polisi yang sigap mencegah kerusuhan meluas. Sikap mengecam juga disampaikan partai oposisi Alternative for Germany (AfD) yang menuding unjuk rasa tersebut disusupi kelompok ekstremis.

  3. 3. Desakan agar aspirasi kaum muda tetap didengar

    ilustrasi bendera negara Jerman (pexels.com/Ingo Joseph)
    ilustrasi bendera negara Jerman (pexels.com/Ingo Joseph)

    Sejumlah tokoh politik mengingatkan pemerintah agar tidak menutup mata terhadap tuntutan utama puluhan ribu demonstran damai. Pimpinan partai Die Linke, Ines Schwerdtner, menegaskan aspirasi murni rakyat tidak boleh tenggelam hanya karena ulah perusuh, senada dengan pernyataan pimpinan Partai Hijau Franziska Brantner yang menyayangkan aksi perusakan fasilitas publik.

    Pihak inisiator "GenZ regelt!" sendiri menyatakan menolak segala bentuk kekerasan, anarkisme, maupun ujaran kebencian. Mereka menegaskan aksi turun ke jalan ini merupakan awal dari perjuangan advokasi dan menyerukan pertemuan konsolidasi lanjutan pada pertengahan November mendatang.

    "Kekerasan ini merusak perjuangan murni dari banyak orang yang sudah berdemonstrasi secara damai," ujar Franziska Brantner kepada harian Rheinische Post.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Related Articles

See More