Drone Hantam Bandara Internasional Kuwait, Serangan Iran?

- Sebuah drone menghantam tangki bahan bakar di Bandara Internasional Kuwait, menyebabkan kebakaran tanpa korban jiwa dan kerusakan besar berhasil dikendalikan oleh petugas pemadam.
- Militer Kuwait menembak jatuh enam drone sebelum serangan, namun beberapa tetap mengenai target; insiden terjadi di tengah meningkatnya serangan Iran ke negara-negara Teluk sejak awal Maret 2026.
- Ketegangan meningkat karena perang antara Iran, AS, dan Israel makin intens, sementara pernyataan negosiasi damai dari Trump dibantah langsung oleh pihak militer Iran.
Jakarta, IDN Times - Sebuah drone dilaporkan menghantam tempat penampungan bahan bakar di Bandara Internasional Kuwait pada Rabu (25/3/2026) pagi waktu setempat. Kabar tersebut disampaikan oleh otoritas penerbangan Kuwait tidak lama usai serangan terjadi.
Serangan drone tersebut menyebabkan kebakaran di sekitar lokasi kejadian. Beruntungnya, petugas pemadam kebakaran langsung sigap datang ke lokasi untuk memadamkan api yang berkobar.
Juru bicara otoritas penerbangan Kuwait, Abdullah Al-Rajhi, menambahkan, tidak ada korban jiwa dalam serangan tersebut. Kerusakan yang ditimbulkan juga relatif tidak parah sehingga perbaikan bisa dilakukan dengan cepat.
1. Pasukan militer Kuwait berhasil melumpuhkan enam drone

Menurut keterangan pasukan militer Kuwait, mereka berhasil melumpuhkan enam drone sebelum menghantam bandara pada pagi hari. Sayangnya, beberapa drone berhasil menghantam tangki penyimpanan bahan bakar yang ada di bandara sehingga ledakan tidak bisa dihindari.
“Ledakan apa pun yang mungkin terdengar adalah hasil dari sistem pertahanan udara yang mencegat target musuh,” bunyi pernyataan resmi pasukan militer Kuwait yang dirilis di X, seperti dilansir The Guardian.
Militer Kuwait tidak menyebut secara spesifik bahwa serangan drone yang terjadi di Bandara Internasional Kuwait dilakukan oleh Iran. Namun, yang jelas, serangan tersebut terjadi di saat Iran sedang gencar memperluas serangan balasan ke negara-negara Teluk yang bersekutu dengan AS, termasuk Kuwait.
2. Iran gencar melakukan serangan ke negara Teluk sejak awal Maret

Sejak awal Maret 2026, Iran memang gencar melakukan serangan ke negara-negara Teluk, seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Qatar, Kuwait, dan Bahrain. Awalnya, serangan ditujukan ke markas militer AS yang ada di negara-negara tersebut. Sebab, Negeri Paman Sam juga menggunakan pangkalan militer di negara-negara Teluk untuk menyerang Iran.
Namun, dalam praktiknya, serangan Iran justru tidak hanya mengenai markas militer AS saja, tetapi juga mengenai fasilitas publik dan warga sipil yang ada di negara Teluk. Oleh karena itu, serangan Iran ke negara Teluk menuai kecaman dari banyak pihak, terutama dari Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB).
“Kami mengutuk keras serangan keji yang dilakukan oleh Republik Islam Iran terhadap negara-negara Teluk dan Yordania. Serangan tersebut merupakan pelanggaran hukum internasional dan ancaman serius terhadap perdamaian dan keamanan dunia," bunyi resolusi DK PBB, seperti dilansir Anadolu Agency.
3. Serangan terjadi di saat perang Iran dengan AS dan Israel makin intens

Semua serangan tadi terjadi di saat perang antara Iran dengan AS dan Israel makin intens. Presiden AS, Donald Trump, sebetulnya sudah membuka opsi untuk mengakhiri perang dengan Iran. Bahkan, ia juga mengklaim sudah berhasil bernegosiasi dengan Iran untuk mengakhiri perang.
Namun, Iran justru melontarkan pernyataan yang berbanding terbalik dengan Trump. Dalam pernyataannya, pasukan militer Iran mengatakan, pihaknya saat ini sama sekali belum melakukan negosiasi dengan Trump untuk mengakhiri perang. Bahkan, mereka menyebut Trump bernegosiasi dengan dirinya sendiri.
“Apakah tingkat pergumulan batin Anda telah mencapai tahap di mana Anda bernegosiasi dengan diri sendiri? Orang seperti kita tidak akan pernah bisa akur dengan orang seperti kamu,” kata Juru Bicara militer Iran, Ebrahim Zolfaqari.

















