Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Gereja Katolik Tolak Rencana Siaran Langsung Eksekusi Mati di AS

2 min read
Gereja Katolik Tolak Rencana Siaran Langsung Eksekusi Mati di AS
ilustrasi bendera Amerika Serikat (unsplash.com/cscreates)
  • Uskup Agung Militer AS Timothy Broglio menolak rencana siaran langsung eksekusi mati Nidal Malik Hasan, menyebutnya menyerupai aksi teroris dan meminta algojo Katolik tidak terlibat.
  • Paus Leo XIV dan Kardinal Parolin juga menentang penayangan eksekusi, dengan alasan hukuman mati menyerang martabat manusia dan masih ada alternatif untuk menghukum pelaku kriminal.
  • Pemerintahan Trump, melalui Sekretaris DHS Markwayne Mullin, menyatakan siaran langsung bertujuan mengembalikan nilai Amerika; Hasan divonis mati atas penembakan Fort Hood 2009 yang menewaskan 13 orang.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Uskup Agung Militer AS, Timothy Broglio, menolak rencana pemerintahan Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump untuk menyiarkan secara langsung eksekusi mati. Menurutnya, tindakan ini sama seperti yang dilakukan kelompok teroris.  

Pekan lalu, Menteri Pertahanan Amerika Serikat (AS), Pete Hegseth mengungkapkan rencana siaran langsung hukuman mati kepada pelaku penembakan Nidal Malik Hassan. Ia diketahui melakukan penembakan di Fort Hood yang menewaskan 13 orang pada 2009. 

  1. 1. Sebut tindakan AS sama seperti yang dilakukan kelompok teroris

    Basilika Santo Petrus di Vatikan
    tampak depan Basilika Santo Petrus di Vatikan (unsplash.com/paulmacdonald)

    Broglio mengatakan bahwa Gereja Katolik menolak bentuk hukuman ini seperti yang sudah disampaikan oleh Paus Francis. Ia pun menyebut, tindakan tersebut menunjukkan kesamaan dengan yang dilakukan teroris. 

    “Kami tidak ingin meniru teroris di dunia ini dan membuat publik menonton langsung pembunuhan barbar ini. Kasus kriminal yang dilakukan Nidal Malik Hassan memang kejam, tapi apakah baik jika kita memublikasikan eksekusi ini dengan sengaja?,” terangnya pada Senin (12/10/2026), dikutip dari The Hill.

    Menurutnya, tidak baik jika militer AS disamakan dengan teroris dengan menayangkan eksekusi mati di depan umum. Ia mendesak algojo yang beragama Katolik untuk menolak ikut dalam rencana ini. 

  2. 2. Paus Leo XIV tolak siaran langsung hukuman mati di AS

    Paus Leo XIV
    Paus Leo XIV (tengah). (Edgar Beltrán / The Pillar, CC BY-SA 4.0, via Wikimedia Commons)

    Pada akhir pekan lalu, Paus Leo XIV menolak rencana AS untuk menayangkan eksekusi mati secara langsung. Menurutnya, tindakan tersebut sama dengan serangan kepada harga diri seseorang. 

    “Pelaku kriminal ditangkap untuk melindungi warga. Mereka masih dapat mengakui kesalahannya dan menebus dosanya. Namun, hukuman mati tidak dapat diterima karena menyerang harga diri seseorang,” terangnya, dikutip dari Vatican News. 

    Tak hanya Paus Leo, Kardinal Parolin juga menekankan bahwa rencana tayangan langsung eksekusi ini tidak dapat diterima. Ia berpandangan masih ada cara lain untuk menghukum pelaku kriminalitas. 

  3. 3. DHS sebut tayangan langsung eksekusi mati untuk kembali nilai-nilai Amerika

    ilustrasi bendera Amerika Serikat
    ilustrasi bendera Amerika Serikat (unsplash.com/mck)

    Sementara itu, Sekretaris Departemen Keamanan Negara (DHS), Markwayne Mullin mengatakan bahwa keputusan pemerintah Trump ini untuk mengembalikan nilai-nilai Amerika. Ia menolak rencana ini terinspirasi dari kelompok teroris. 

    “Pertama, tidak ada yang mewajibkan orang menonton ini. Saya mengikuti perintah Trump. Dia sudah memimpin negara ini dengan sangat terus terang, langsung, dan dia ingin mengembalikan nilai-nilai Amerika,” ungkapnya. 

    Hasan merupakan mantan psikiater militer AS yang membunuh 13 orang dan melukai 30 orang lainnya di Fort Hood, Texas. Ia sudah ditetapkan bersalah pada 2013 atas 45 gugatan dan dijatuhi hukuman mati. 

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Di Balik Produksi Operasi Pesta Copet

Related Articles

See More