Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Gertak AS, Khamenei Siap Bersihkan Laut Arab dari Pasukan Asing

3 min read
Gertak AS, Khamenei Siap Bersihkan Laut Arab dari Pasukan Asing
Pemimpin Tertinggi baru Iran, Mojtaba Khamenei (Hamed Malekpour, Atribusi: Tasnim News Agency, CC BY 4.0, via Wikimedia Commons)
  • Ayatollah Mojtaba Khamenei berjanji mendorong pasukan AS dan sekutunya keluar dari Laut Arab, sambil mengklaim ruang gerak militer asing di selatan Iran telah dibatasi.
  • Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi menawarkan pembukaan jalur laut strategis tujuh hari jika tekanan militer AS dilonggarkan, namun proposal ditolak Washington di tengah sengketa Selat Hormuz dan nuklir.
  • Khamenei menyatakan lebih dari 30 juta warga Iran siap bersenjata mempertahankan kedaulatan dan Selat Hormuz, serta mengklaim tekanan internasional gagal melemahkan stabilitas Iran.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, IDN Times – Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Mojtaba Khamenei, berjanji mendorong militer Amerika Serikat (AS) dan negara sekutunya meninggalkan Laut Arab serta menolak kembalinya masa penaklukan asing. Pesan tertulis itu disampaikan pada Senin (28/9/2026) untuk memperingati Pekan Pertahanan Suci, yang mengenang Perang Iran-Irak, sekaligus dua tahun kematian mantan pemimpin Hezbollah, Hassan Nasrallah, seperti dilaporkan Chosunbiz dengan mengutip media Iran.

Khamenei mengklaim pasukan bermusuhan kini tak berani bergerak melewati Laut Arab dan akan segera disingkirkan dari kawasan tersebut.

“Sebagian orang melihat kami sebagai negara adidaya keempat di dunia. Saat ini, pasukan musuh tidak berani melangkah melampaui Laut Arab. Segera akan tiba hari ketika Laut Arab akan dibersihkan dari kehadiran mereka. Rakyat kami memenuhi alun-alun dan jalan-jalan di seluruh negeri dengan kehadiran mereka yang bertanggung jawab,” katanya, dikutip Times of India.

  1. 1. Araghchi menawarkan jalur laut strategis

    Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi
    Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi (Ini adalah file dari situs web Ali Khamenei, yang menyatakan di footernya, "Semua Konten oleh Khamenei.ir dilisensikan di bawah Lisensi Internasional Creative Commons Attribution 4.0." Via Wikimedia Commons)

    Garis keras Teheran turut disampaikan Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, di sela Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) ke-81 melalui proposal pembukaan jalur laut strategis selama tujuh hari dengan syarat tekanan militer Washington dilonggarkan. Dalam wawancaranya dengan NBC’s Meet the Press, Araghchi menyatakan Iran siap menghadapi skenario terburuk apabila jalur diplomasi tak berhasil.

    “Kami sepenuhnya siap untuk perang dilanjutkan. Kami berdiri teguh dalam menghadapi setiap agresi baru, bahkan jika itu sampai pada perang hari kiamat. Kami tidak peduli dengan pemilihan sela AS. Kami peduli dengan kepentingan nasional kami. Pada saat yang sama, kami siap untuk diplomasi. Terserah kepada Presiden Trump untuk memilih,” katanya.

    Kebuntuan mengenai Selat Hormuz dan program nuklir Iran memperuncing ketegangan setelah Presiden AS Donald Trump menolak proposal Araghchi. Duta Besar AS untuk PBB Mike Waltz menyebut penolakan itu berkaitan dengan tuntutan Teheran agar sanksi diringankan serta akses terhadap miliaran aset yang dibekukan dibuka sebelum perundingan nuklir dimulai, sementara Washington tetap membuka jalur diplomasi.

    Araghchi membantah pernyataan tersebut dan menilai Waltz belum mencermati proposal yang diajukan secara menyeluruh. Perselisihan itu kembali menempatkan Selat Hormuz sebagai perhatian utama dalam geopolitik global.

    Jalur sempit di lepas pantai selatan Iran tersebut bersama Laut Arab menjadi koridor maritim penting bagi perdagangan energi dunia sekaligus ruang manuver militer di Timur Tengah. Teheran menggunakan kendali atas titik tersebut sebagai posisi tawar untuk membatasi pengaruh militer Barat.

  2. 2. Khamenei mengklaim Iran membatasi pasukan asing

    ilustrasi operasi keamanan di area laut (pexels.com/germannavyphotograph)
    ilustrasi operasi keamanan di area laut (pexels.com/germannavyphotograph)

    Khamenei mengklaim wilayah laut di selatan Iran yang sebelumnya menjadi ruang gerak bebas pasukan asing kini telah dibatasi setelah mereka menghadapi perlawanan dari para penjaga Selat Hormuz. Ia juga menyatakan setiap operasi militer Barat hanya akan membawa dampak buruk bagi pihak tersebut serta menandai berakhirnya masa keterbelakangan dan dominasi asing di Iran.

    Menurut Khamenei, sistem pemerintahan Islam di Teheran justru semakin kuat menghadapi tekanan global dan memperluas pengaruhnya di kawasan. Ia kemudian membandingkan kondisi Iran pada masa lalu dengan posisi tawar negaranya saat ini.

  3. 3. Khamenei menyebut puluhan juta warga siap bersenjata

    ilustrasi pasukan bersenjata
    ilustrasi pasukan bersenjata (unsplash.com/Nathan Gubler)

    Khamenei menyatakan lebih dari 30 juta warga Iran telah menyatakan kesetiaan dan kesiapan bersenjata untuk mempertahankan kedaulatan negara, termasuk menjaga Selat Hormuz. Ia menilai kekuatan regional yang bergantung pada aliansi dengan Israel dan negara imperialis hanya akan menghadapi kegagalan.

    Penegasan itu disampaikan bersamaan dengan klaim bahwa berbagai upaya internasional untuk melemahkan stabilitas politik dan sosial Iran telah gagal. Pernyataan Khamenei juga bertepatan dengan peringatan kematian Nasrallah, yang tewas dalam serangan udara Israel terhadap markas besar Hezbollah di pinggiran selatan Beirut.

    Pasukan Pertahanan Israel (IDF) mengonfirmasi operasi militer tersebut dan menyatakan tindakan itu dilakukan untuk menghentikan ancaman teror Nasrallah terhadap dunia.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More