Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Hukum Baru di Swedia: Anak 13 Tahun Bisa Dipenjara

Hukum Baru di Swedia: Anak 13 Tahun Bisa Dipenjara
Bendera Swedia (unsplash.com/NFT CAR GIRL)
Intinya Sih
  • Pemerintah Swedia menurunkan batas usia pidana menjadi 13 tahun untuk menekan eksploitasi anak oleh geng kriminal, dengan hukuman bervariasi sesuai tingkat kejahatan berat yang dilakukan.
  • Delapan penjara disiapkan dengan unit khusus remaja agar narapidana anak terpisah dari tahanan dewasa, fokus pada pendidikan, rehabilitasi, dan pengawasan intensif selama masa penahanan.
  • Kebijakan ini menuai kritik dari lembaga HAM dan organisasi anak karena dinilai berisiko memperkuat identitas kriminal anak serta melanggar konvensi internasional tentang hak-hak anak.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Jakarta, IDN Times - Pemerintah Swedia resmi mengambil langkah besar dengan merombak sistem peradilan hukum di negaranya, pada Kamis (19/2/2026). Keputusan krusial ini diambil sebagai respons darurat untuk memberantas jaringan kriminal terorganisir yang dinilai semakin mengancam keamanan nasional.

Kebijakan baru yang memicu perdebatan luas ini secara khusus mengubah cara negara menangani tindak kejahatan di kalangan generasi muda.

Meski menuai pro dan kontra dari berbagai pihak, langkah tegas tersebut diyakini oleh pemerintah setempat sebagai jalan satu-satunya untuk memutus rantai eksploitasi sindikat kejahatan terhadap anak-anak di bawah umur.

1. Swedia turunkan batas usia pidana anak jadi 13 tahun akibat kejahatan geng

Pemerintah Swedia memutuskan untuk menurunkan ambang batas usia pertanggungjawaban pidana menjadi 13 tahun. Langkah tegas ini diambil menyusul kondisi keamanan nasional yang dinilai krisis, terutama akibat maraknya eksploitasi anak oleh kelompok kriminal terorganisir. Kelompok kejahatan ini kerap merekrut anak-anak di bawah 15 tahun melalui aplikasi pesan terenkripsi untuk melakukan aksi penembakan dan pengeboman. Mereka dengan sengaja memanfaatkan celah hukum karena menyadari bahwa anak-anak tersebut tidak dapat dijebloskan ke penjara.

Menteri Kehakiman Swedia, Gunnar Strömmer, menjelaskan bahwa perubahan aturan ini merupakan respons atas eskalasi ancaman di tengah masyarakat.

"Masyarakat dan kejahatan telah berubah secara fundamental," ujarnya, dilansir Arab News.

Ia menyoroti tren memprihatinkan di mana anak muda kini lebih sering terlibat dalam penggunaan senjata api dan bahan peledak yang sangat membahayakan nyawa publik. Kebijakan baru ini secara khusus menargetkan kejahatan berat dengan ancaman minimal empat tahun penjara, seperti pembunuhan, pemerkosaan parah, pengeboman besar, serta pelanggaran senjata api tingkat tinggi. Melalui aturan ini, pengadilan berwenang menjatuhkan vonis satu hingga tiga tahun penjara bagi pelaku berusia 13 tahun, dan tiga hingga empat tahun penjara bagi remaja berusia 14 tahun.

Selain batas usia, reformasi hukum ini juga merombak sistem pengurangan hukuman bagi narapidana muda untuk mencegah mereka mengulangi tindak pidana. Pelaku kejahatan yang berusia 18 hingga 20 tahun tidak akan lagi mendapatkan diskon masa tahanan atas dasar usia muda. Sementara itu, pengurangan hukuman bagi remaja berusia 15 hingga 17 tahun akan dipangkas drastis, disesuaikan dengan tingkat keparahan kejahatan mereka. Batas hukuman maksimal bagi individu di bawah 18 tahun juga ditingkatkan dari 14 tahun menjadi 18 tahun penjara, meskipun hukuman penjara seumur hidup tetap tidak diberlakukan untuk kelompok usia ini.

Menteri Strömmer kembali menegaskan bahwa reformasi ini bukan semata-mata soal pemberian hukuman, melainkan upaya menyeluruh untuk melindungi warga.

"Kita harus melindungi orang-orang di masyarakat kita dari kekerasan yang mengancam jiwa, memberikan ganti rugi yang lebih baik bagi korban kejahatan, dan pada saat yang sama merawat serta merehabilitasi anak-anak ini jauh lebih baik daripada yang kita lakukan saat ini," tambahnya, dilansir Irish Legal.

Strategi ini diharapkan mampu memutus rantai kekerasan sekaligus menghentikan taktik para pemimpin geng yang menggunakan anak-anak sebagai perisai untuk menghindari jerat hukum.

2. Swedia siapkan penjara khusus anak untuk tekan angka kejahatan geng

Pemerintah Swedia telah menginstruksikan delapan penjara untuk segera menyiapkan unit khusus remaja. Langkah ini diambil guna memisahkan narapidana anak secara total dari tahanan dewasa, demi menjaga keamanan dan efektivitas pembinaan. Di fasilitas baru ini, anak-anak akan dikunci di dalam sel selama 11 jam pada malam hari, sebuah aturan yang lebih ringan dibandingkan narapidana dewasa yang harus berada di sel selama 14 jam. Pada siang hari, para narapidana muda diwajibkan mengikuti kegiatan sekolah dan mendapatkan akses eksklusif ke berbagai fasilitas, seperti kafetaria, halaman rekreasi, pusat kebugaran, serta klinik kesehatan.

Kebijakan ini bertujuan untuk memindahkan narapidana muda dari sistem perawatan remaja tertutup atau panti rehabilitasi sosial yang selama ini dinilai telah gagal. Fakta di lapangan menunjukkan bahwa sembilan dari sepuluh remaja yang terafiliasi dengan geng kriminal kembali melakukan kejahatan setelah keluar dari fasilitas tersebut. Panti rehabilitasi bahkan sering kali berubah menjadi basis perekrutan baru bagi jaringan kriminal. Untuk memberikan pengawasan yang lebih terarah, setiap remaja nantinya akan didampingi oleh seorang petugas khusus yang memantau perkembangan mereka secara mendalam selama masa penahanan.

Meskipun berada di dalam sistem penjara, narapidana anak akan mendapatkan aturan cuti yang lebih fleksibel dibandingkan narapidana dewasa. Kebijakan ini merupakan bentuk pengakuan atas status mereka yang masih di bawah umur, sekaligus memenuhi kebutuhan interaksi sosial untuk pemulihan mental. Menteri Kehakiman Swedia, Gunnar Strömmer, meyakini bahwa unit penjara ini akan memberikan penanganan yang lebih komprehensif.

"Anak-anak yang terpidana akan menerima dukungan yang lebih baik di unit penjara baru daripada di rumah-rumah remaja," ujar Strömmer.

Tiga dari delapan unit penjara yang ditunjuk dijadwalkan akan mulai beroperasi pada 1 Juli 2026. Fokus utama dari fasilitas ini adalah menjaga keseimbangan antara kedisiplinan ketat untuk memutus rantai geng kriminal dan penyediaan pendidikan yang memadai, sehingga anak-anak ini kelak siap kembali ke masyarakat tanpa mengulangi tindak kejahatan.

3. Swedia tuai kritik usai turunkan batas usia pidana anak menjadi 13 tahun

Langkah drastis Swedia ini memicu gelombang kritik dari berbagai lembaga internasional dan organisasi hak asasi manusia. Komite Hak Anak PBB (UNCRC) bahkan mendesak agar Swedia tetap mempertahankan usia pertanggungjawaban pidana pada angka 15 tahun. Organisasi hak anak terkemuka di Swedia, Bris, menilai reformasi ini berisiko menjadi bumerang. Mengurung anak berusia 13 tahun di dalam penjara justru dikhawatirkan akan memperkuat identitas kriminal mereka, serta memicu lingkaran setan kejahatan yang berulang.

Sekretaris Jenderal Bris, Maria Frisk, memperingatkan adanya dampak negatif jangka panjang dari aturan ini.

"Otoritas kepolisian mengatakan bahwa mereka melihat risiko besar bahwa penjahat geng akan merekrut anak-anak yang bahkan lebih muda lagi," kata Frisk.

Kritik serupa juga datang dari Layanan Penjara dan Masa Percobaan Swedia serta pihak kepolisian. Mereka menilai kebijakan ini belum diteliti secara mendalam dan berpotensi melanggar konvensi hak-hak anak internasional yang telah disepakati Swedia. Selain itu, muncul kekhawatiran terkait kesiapan staf penjara yang selama ini terbiasa menangani narapidana dewasa, mengingat anak-anak memiliki kebutuhan psikologis yang sangat berbeda.

Tantangan dalam penerapan aturan ini juga disoroti oleh serikat pekerja Akademikerförbundet SSR. Mereka menggarisbawahi minimnya waktu bagi otoritas terkait untuk melatih staf, serta membangun sekolah berkualitas di dalam lingkungan penjara. Pakar serikat pekerja, Fredrik Hjulstrom, mengungkapkan kekhawatiran mendalam mengenai kompetensi sumber daya manusia di fasilitas tersebut.

"Staf Layanan Penjara dan Masa Percobaan berkualifikasi untuk bekerja dengan orang dewasa, dan diperlukan serangkaian keterampilan yang sangat berbeda untuk berhasil menangani anak-anak," jelas Hjulstrom.

Meskipun dibanjiri kritik, Swedia tetap bersikeras menjalankan reformasi ini. Mereka berpendapat bahwa kegagalan dalam mengatasi krisis kekerasan geng akan membawa risiko keamanan yang jauh lebih besar bagi seluruh warga negara. Kebijakan ini akan diberlakukan secara sementara selama lima tahun, sebagai masa percobaan untuk menguji efektivitasnya dalam menekan angka keterlibatan anak pada kejahatan terorganisir.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Sonya Michaella
EditorSonya Michaella
Follow Us

Latest in News

See More