Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Intelijen Israel Laporkan Plot Baru Iran untuk Membunuh Trump

Intelijen Israel Laporkan Plot Baru Iran untuk Membunuh Trump
Presiden AS, Donald Trump ( The White House, Public domain, via Wikimedia Commons)
Intinya Sih
  • Intelijen Israel melaporkan kepada AS tentang dugaan plot Iran untuk membunuh Donald Trump, memicu kekhawatiran meningkatnya ketegangan antara Washington dan Teheran.
  • Trump mengonfirmasi dirinya menjadi target pembunuhan Iran, menyebut ancaman itu terkait dendam atas kematian Jenderal Qassem Soleimani pada 2020.
  • Secret Service memperketat keamanan Trump, sementara konflik militer AS-Iran kembali memanas dengan serangan udara dan berakhirnya gencatan senjata.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Jakarta, IDN Times - Israel membagikan informasi intelijen baru kepada Amerika Serikat (AS) mengenai rencana Iran untuk membunuh Presiden Donald Trump. Laporan ini muncul saat ketegangan militer antara Washington dan Teheran kembali memanas.

Kabar tersebut pertama kali dilaporkan oleh sejumlah media seperti CNN dan Wall Street Journal pada Kamis (9/7/2026). Informasi ini mengungkap rencana Iran yang berisiko memperburuk eskalasi konflik antara kedua negara.

1. AS curiga Israel bermaksud mempengaruhi keputusan militer Trump

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan Presiden AS Donald Trump.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan Presiden AS Donald Trump. (The White House, Public domain, via Wikimedia Commons)

Intelijen AS sebenarnya telah memantau peningkatan ancaman dari Iran secara rutin dalam beberapa pekan terakhir. Namun, peringatan dari Israel ini dinilai sangat baru dan memuat rincian plot yang spesifik.

Komunitas intelijen AS sendiri belum memverifikasi kebenaran laporan Israel tersebut. Sejumlah pihak di pemerintahan AS bahkan mulai meragukan motif utama di balik penyampaian informasi tersebut.

Pejabat AS menduga peringatan ini merupakan upaya Israel untuk memengaruhi keputusan militer Trump terhadap Iran. Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu diketahui terus mendesak AS agar meningkatkan operasi militernya di Timur Tengah.

"Beberapa pihak di komunitas intelijen selalu bersikap skeptis terhadap pelaporan Israel," kata seorang sumber anonim di intelijen AS, dilansir CNN.

2. Trump sadar jadi target utama pembunuhan Iran

Presiden AS, Donald Trump
Presiden AS, Donald Trump (The White House, Public domain, via Wikimedia Commons)

Presiden Trump mengonfirmasi adanya ancaman plot yang sedang mengincar nyawanya. Ia mengungkap persoalan ini saat berbicara kepada wartawan di konferensi tingkat tinggi NATO di Ankara, Turki.

Trump meyakini para pemimpin Iran sangat menginginkan kematiannya menyusul negosiasi damai kedua negara yang goyah. Ia mengaku melihat namanya berada di semua daftar target pembunuhan milik Iran.

"Mereka ingin melenyapkan pemimpin AS, yaitu saya. Saya berada di setiap daftar target pembunuhan mereka," tutur Trump, dilansir Fox News.

Pemerintah Iran selama bertahun-tahun memang terus bersumpah untuk membalas dendam kepada Trump. Dendam historis ini dipicu oleh keputusan Trump yang memerintahkan pembunuhan Jenderal Iran Qassem Soleimani pada Januari 2020.

Ancaman tersebut kembali terdengar saat prosesi pemakaman Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei. Ribuan pelayat di jalanan dilaporkan meneriakkan ancaman dan membentangkan spanduk yang menyerukan pembunuhan terhadap Trump.

3. Keamanan Trump diperketat di tengah konflik dengan Iran

pesawat kepresidenan AS, Air Force One
pesawat kepresidenan AS, Air Force One (The White House from Washington, DC, Public domain, via Wikimedia Commons)

Pasukan pengamanan presiden AS (Secret Service) telah meningkatkan perlindungan terhadap Trump. Baru-baru ini, Secret Service dilaporkan mengganti pesawat yang digunakan Trump usai menghadiri pertemuan NATO di Turki.

Trump beralih menggunakan pesawat Air Force One model lama karena pesawat barunya dinilai memiliki fitur keamanan yang kurang memadai. Pesawat jet baru pemberian Qatar tersebut akhirnya dikirim terbang lebih dulu menuju pangkalan militer di Inggris.

Di Timur Tengah, Militer AS kembali melancarkan serangan udara baru ke wilayah Iran dan mencabut izin penjualan minyak negara tersebut. Tindakan ini diambil untuk membalas serangan Iran terhadap tiga kapal komersial di Selat Hormuz.

Iran kemudian merespons hal itu dengan menyerang berbagai fasilitas militer AS di Bahrain, Kuwait, Qatar, dan Yordania. Trump pun akhirnya mengumumkan kepada publik bahwa gencatan senjata dengan Iran kini telah berakhir.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Curated For You
Topics
Editorial Team
Ernia Karina
EditorErnia Karina

Related Articles

See More