Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Iran Disebut Pakai Satelit China untuk Awasi Pangkalan AS

Iran Disebut Pakai Satelit China untuk Awasi Pangkalan AS
ilustrasi pemandangan Bumi dari luar angkasa (pexels.com/SpaceX)
Intinya Sih
  • Iran melalui Pasukan Dirgantara IRGC menggunakan satelit buatan China, TEE-01B, untuk memantau pangkalan militer AS di Timur Tengah sebelum dan sesudah serangan rudal serta drone.
  • Satelit TEE-01B memiliki resolusi hingga setengah meter, jauh lebih tajam dari satelit Iran Noor-3, memungkinkan IRGC mengidentifikasi target dan menilai hasil serangan dengan lebih akurat.
  • Keterlibatan perusahaan China seperti Earth Eye Co. dan Emposat dalam proyek ini memicu sorotan AS, sementara Trump mengancam tarif tinggi terhadap produk China terkait dugaan dukungan bagi Iran.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Jakarta, IDN TimesIran dilaporkan menggunakan satelit buatan China bernama TEE-01B untuk mengawasi pangkalan militer Amerika Serikat (AS) di kawasan Timur Tengah, baik sebelum maupun setelah melancarkan serangan drone dan rudal. Informasi ini terungkap melalui dokumen militer yang bocor serta data pelacakan satelit yang dilaporkan Financial Times pada Rabu (15/4/2026).

Korps Pengawal Revolusi Islam (IRGC) diketahui memperoleh satelit tersebut pada akhir 2024. Pasukan Dirgantara IRGC membeli perangkat itu senilai 36 juta dolar AS (setara Rp612 miliar) dalam mata uang renminbi China dan mulai mengendalikan operasionalnya sejak September 2024, sementara peluncuran satelit dilakukan pada 6 Juni 2024.

1. IRGC mengakses infrastruktur China untuk operasi satelit

ilustrasi bendera iran (pexels.com/aboodi vesakaran)
ilustrasi bendera iran (pexels.com/aboodi vesakaran)

Perusahaan China, Earth Eye Co., yang merancang TEE-01B semula menyebutkan fungsi satelit itu untuk kebutuhan sipil, termasuk sektor pertanian, penanganan darurat, dan transportasi kota. Namun, pengoperasiannya justru dilakukan oleh Pasukan Dirgantara IRGC, bukan melalui jalur sipil Iran.

Dalam kesepakatan yang berlaku, IRGC juga mendapatkan akses ke stasiun darat milik Emposat, perusahaan layanan pengendalian dan data satelit yang berbasis di Beijing. Fasilitas tersebut digunakan untuk mengelola operasional satelit secara langsung.

Data citra satelit beserta informasi waktu dan orbit menunjukkan bahwa TEE-01B merekam sejumlah pangkalan militer AS pada Maret 2026. Salah satu lokasi yang dipantau adalah Pangkalan Udara Prince Sultan di Arab Saudi pada 13–15 Maret 2026, bertepatan dengan serangan Iran yang merusak lima pesawat pengisian bahan bakar milik Angkatan Udara AS, yang kemudian dikonfirmasi Presiden AS Donald Trump.

Selain itu, pemantauan juga mencakup Pangkalan Udara Muwaffaq Salti di Yordania, wilayah sekitar pangkalan Armada Kelima AS di Manama, Bahrain, serta bandara Erbil di Irak. Area lain yang ikut diamati meliputi Camp Lemonnier di Djibouti, Camp Buehring dan Pangkalan Udara Ali Al Salem di Kuwait, hingga Bandara Internasional Duqm di Oman.

2. Kemampuan satelit China melampaui teknologi Iran

Bendera China (pexels.com/aboodi vesakaran)
Bendera China (pexels.com/aboodi vesakaran)

Dilansir Middle East Eye, TEE-01B mampu menghasilkan citra dengan resolusi hingga setengah meter. Tingkat ketajaman ini melampaui kemampuan satelit militer tercanggih Iran, Noor-3, yang hanya memiliki resolusi sekitar lima meter.

Kemampuan resolusi tinggi tersebut memberi keuntungan bagi IRGC dalam mengenali sasaran secara lebih rinci sebelum serangan dilakukan. Selain itu, hasil citra juga digunakan untuk mengevaluasi dampak serangan yang telah dilancarkan.

Seorang pakar Iran dari Paris Institute of Political Studies, Nicole Grajewski, menilai penggunaan satelit tersebut berkaitan langsung dengan kepentingan militer.

“Satelit ini jelas digunakan untuk tujuan militer, karena dijalankan oleh Pasukan Dirgantara IRGC dan bukan oleh program luar angkasa sipil Iran,” katanya kepada Financial Times, dikutip New York Post.

Ia juga menyoroti ketergantungan Iran terhadap dukungan teknologi asing dalam konflik yang berlangsung.

“Iran benar-benar membutuhkan kemampuan yang disediakan asing ini selama perang ini, karena memungkinkan IRGC untuk mengidentifikasi target sebelumnya dan memeriksa keberhasilan serangannya,” jelasnya.

3. Keterkaitan perusahaan China picu worotan AS

Presiden Amerika Serikat Donald Trump (kiri) dan Presiden China Xi Jinping (kanan) sempat berbincang dalam pertemuan puncak G20 di Buenos Aires, menjelang makan malam kerja antara delegasi Amerika Serikat dan China.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump (kiri) dan Presiden China Xi Jinping (kanan) sempat berbincang dalam pertemuan puncak G20 di Buenos Aires, menjelang makan malam kerja antara delegasi Amerika Serikat dan China. (Dan Scavino, Public domain, via Wikimedia Commons)

Earth Eye Co. sebelumnya diketahui mempromosikan kerja sama dengan sejumlah universitas di China yang memiliki hubungan dengan Tentara Pembebasan Rakyat (PLA). Sementara itu, Emposat dilaporkan memiliki kaitan dengan Pasukan Dirgantara PLA berdasarkan temuan Kongres AS.

Penggunaan satelit buatan China oleh IRGC memunculkan pertanyaan terkait sejauh mana keterlibatan Beijing dalam mendukung Iran. Laporan terdahulu menyebut China memasok sistem rudal permukaan-ke-udara, drone kamikaze, serta perangkat pertahanan udara portabel untuk memperkuat militer Iran.

Di sisi lain, pemerintah China berkali-kali membantah tuduhan tersebut. Trump menyatakan bahwa China telah menyepakati untuk tidak memasok senjata ke Teheran setelah pembicaraan dengan Presiden China Xi Jinping menjelang rencana pertemuan puncak yang dijadwalkan ulang akibat konflik.

“Mereka telah setuju untuk tidak mengirim senjata ke Iran,” tulis Trump di Truth Social.

Sebagai tanggapan atas laporan tersebut, Trump mengancam akan mengenakan tarif hingga 50 persen terhadap produk impor asal China. Ia juga menyampaikan kepada Fox News bahwa Xi Jinping akan memberinya “pelukan besar yang gemuk” saat ia tiba di Beijing.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Sonya Michaella
EditorSonya Michaella
Follow Us

Latest in News

See More