Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Krisis Hormuz Ungkap Selat Indonesia Jadi Titik Rawan bagi Australia

Krisis Hormuz Ungkap Selat Indonesia Jadi Titik Rawan bagi Australia
ilustrasi pelabuhan peti kemas (unsplash.com/william william)
Intinya Sih
  • Krisis di Selat Hormuz membuka mata Australia bahwa jalur laut Indonesia seperti Selat Malaka, Lombok, dan Sunda sangat vital bagi ekspor-impor serta stabilitas ekonominya.
  • Penutupan atau gangguan di selat-selat Indonesia bisa memicu lonjakan biaya logistik global dan tekanan ekonomi lintas negara karena ketergantungan besar pada rute tersebut.
  • Perbedaan tafsir hukum laut dan strategi pertahanan Indonesia membuat kawasan ini sensitif, namun Perjanjian Jakarta 2026 diharapkan memperkuat kerja sama keamanan maritim Australia–Indonesia.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Krisis di Selat Hormuz memberi pelajaran besar bagi Australia soal betapa rapuhnya jalur perdagangan laut mereka. Selama ini banyak orang fokus pada kawasan Timur Tengah, padahal ancaman serupa sebenarnya ada jauh lebih dekat, yaitu di perairan Indonesia. Jalur laut seperti Selat Malaka, Selat Lombok, dan Selat Sunda punya peran besar dalam menjaga arus ekspor-impor Australia tetap lancar.

Jika jalur ini terganggu, dampaknya bisa sangat serius, bahkan menyentuh stabilitas ekonomi nasional mereka. Situasi ini membuat hubungan Australia dan Indonesia semakin penting, terutama dalam urusan keamanan maritim. Dari sini terlihat bahwa selat Indonesia bukan sekadar jalur pelayaran biasa, tapi juga titik strategis yang sangat sensitif.

1. Selat Indonesia jadi jalur utama perdagangan Australia

ilustrasi ekspor impor (pexels.com/Kai Pilger)
ilustrasi ekspor impor (pexels.com/Kai Pilger)

Sebagian besar perdagangan laut Australia ternyata sangat bergantung pada jalur yang melewati wilayah Indonesia. Rute melalui dan sekitar kepulauan Indonesia menyumbang sekitar 83 persen impor maritim Australia dan hampir 90 persen ekspornya. Angka ini menunjukkan bahwa Indonesia memegang posisi yang sangat penting dalam rantai logistik Australia.

Kalau jalur ini terganggu, Australia gak hanya mengalami keterlambatan pengiriman barang, tapi juga ancaman ekonomi yang jauh lebih besar. Pasokan energi, bahan baku industri, hingga kebutuhan ekspor utama bisa terkena dampaknya. Karena itu, stabilitas selat Indonesia menjadi urusan yang sangat vital bagi Canberra.

2. Penutupan jalur laut bisa memicu dampak besar

ilustrasi kapal laut
ilustrasi kapal laut (pexels.com/Martin Damboldt)

Banyak orang mengira penutupan selat hanya soal kapal harus memutar jalur lebih jauh. Padahal efeknya jauh lebih luas dari itu, lho. Laporan dari Center for Strategic and International Studies atau CSIS memproyeksikan bahwa penutupan jalur laut Indonesia akan sangat mahal dan merusak perdagangan internasional.

Biaya logistik bisa melonjak drastis karena kapal harus mencari rute alternatif yang lebih panjang dan lebih mahal. Waktu pengiriman juga menjadi lebih lama, sehingga mengganggu rantai pasok global. Dalam situasi krisis, kondisi seperti ini bahkan bisa memicu tekanan ekonomi lintas negara.

3. Aturan hukum laut ternyata masih memunculkan perdebatan

ilustrasi TNI AL
ilustrasi TNI AL (tnial.mil.id)

Berdasarkan aturan United Nations lewat UNCLOS, Indonesia memang wajib menjaga jalur laut kepulauannya tetap terbuka. Bahkan saat konflik bersenjata, Indonesia sebagai negara netral tetap memiliki kewajiban tertentu agar pelayaran internasional bisa berjalan. Namun, praktik di lapangan gak selalu sesederhana bunyi aturan hukum.

Dilansir The Lowy Institute, seorang perwira senior TNI AL dalam wawancara terbaru menjelaskan bahwa Indonesia tetap bisa menutup jalur tertentu bila situasi mengharuskan, selama menyediakan jalur pengganti. Ia merujuk pada Pasal 53 ayat 7 UNCLOS. Sementara itu, sebagian pakar hukum internasional menilai jalur tersebut seharusnya tetap terbuka karena dianggap sebagai selat yang biasa dipakai untuk navigasi internasional.

4. Sejarah pernah menunjukkan konflik serupa

ilustrasi kapal militer
ilustrasi kapal militer (vecteezy.com/Oleksii Shtandarov)

Masalah jalur laut ini bukan ancaman baru karena pernah terjadi sebelumnya. Pada tahun 1964, Indonesia menolak kapal induk Inggris HMS Victorious dan dua kapal perusak yang ingin melintas melalui Selat Sunda. Penolakan itu terjadi saat Indonesia sedang menghadapi konfrontasi dengan Malaysia.

Ketegangan antara Jakarta dan London saat itu cukup serius sebelum akhirnya diselesaikan lewat usulan jalur alternatif. Lalu pada tahun 1988, Indonesia juga menutup Selat Sunda dan Selat Lombok untuk latihan militer. Canberra merespons keras karena menganggap langkah itu melanggar hukum internasional.

5. Strategi pertahanan Indonesia membuat situasi makin sensitif

ilustrasi kapal laut
ilustrasi kapal laut (vecteezy.com/Asih Wahyuni)

Penelitian terbaru dari International Institute for Strategic Studies atau IISS mengungkap bahwa Indonesia sedang mengembangkan strategi anti-access/area-denial atau A2/AD sebagai bagian dari pertahanan kepulauan. Strategi ini mencakup penempatan ranjau laut dan kapal selam di area yang dianggap sebagai corong strategis perairan Indonesia. Langkah ini penting bagi pertahanan nasional Indonesia, tapi di sisi lain membuat negara seperti Australia semakin waspada. Apalagi nanti kapal selam AUKUS diperkirakan akan melintasi selat-selat tersebut. Perbedaan tafsir hukum dan kepentingan keamanan bisa menjadi sumber ketegangan baru apabila gak dikelola dengan baik.

6. Perjanjian Jakarta bisa jadi solusi penting

ilustrasi Kedutaan Besar Australia
ilustrasi Kedutaan Besar Australia (commons.wikimedia.org/Australian Embassy Jakarta)

Penandatanganan Australia–Indonesia Treaty on Common Security atau Jakarta Treaty pada Februari 2026 membuka peluang kerja sama yang lebih kuat. Perjanjian ini memungkinkan konsultasi rutin di tingkat pemimpin dan menteri mengenai isu keamanan bersama. Ini menjadi langkah awal yang sangat penting untuk mencegah krisis di masa depan.

Lewat forum tersebut, kedua negara bisa menyusun skenario darurat jika terjadi gangguan jalur laut. Tujuannya bukan hanya menjaga perdagangan tetap berjalan, tapi juga membangun pemahaman yang sama soal aturan pelayaran saat konflik terjadi. Komunikasi yang kuat sering kali jauh lebih efektif dibanding hanya mengandalkan aturan hukum semata.

Krisis Hormuz membuktikan bahwa ketergantungan pada jalur laut sempit bisa menjadi titik lemah besar bagi sebuah negara. Bagi Australia, ancaman itu ternyata gak hanya datang dari Timur Tengah, tapi juga dari selat-selat strategis di Indonesia. Posisi Indonesia sebagai penghubung utama perdagangan laut membuat perannya sangat krusial dalam stabilitas kawasan.

Hubungan baik antara Jakarta dan Canberra menjadi kunci agar potensi konflik bisa dicegah sejak awal. Bukan hanya soal hukum internasional, tapi juga soal komunikasi, kepercayaan, dan kerja sama nyata. Jika kedua negara mampu menjaga jalur ini tetap aman, stabilitas ekonomi kawasan pun akan jauh lebih terjamin.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Anata Siregar
EditorAnata Siregar
Follow Us

Related Articles

See More