Israel Bebaskan dan Deportasi Dua Aktivis Global Sumud Flotilla

- Israel mendeportasi dua aktivis Global Sumud Flotilla, Saif Abu Keshek asal Spanyol-Palestina dan Thiago Avila dari Brasil, setelah menahan mereka usai penyergapan armada bantuan menuju Gaza.
- Keduanya membantah tuduhan terorisme dan aktivitas ilegal, menegaskan misi mereka bersifat kemanusiaan untuk warga Gaza serta menyebut penangkapan di perairan internasional melanggar hukum.
- Kelompok HAM melaporkan keduanya alami tekanan psikologis selama ditahan di Ashkelon, sementara Israel membantah; kasus ini memicu desakan pembebasan dari Spanyol, Brasil, dan PBB.
Jakarta, IDN Times - Israel mengumumkan telah mendeportasi Saif Abu Keshek dan Thiago Avila, dua aktivis asing yang ditangkap dari armada bantuan yang menuju Gaza, pada Minggu (10/5/2026).
Pasukan Israel sebelumnya mencegat 22 kapal Global Sumud Flotilla (GSF), yang membawa sekitar 175 aktivis, di perairan internasional dekat Kreta, Yunani, pada 30 April 2026. Abu Keshek dan Avila dibawa ke Israel untuk diinterogasi, sementara aktivis lainnya dibawa ke Kreta dan dibebaskan. Abu Keshek merupakan warga negara Spanyol asal Palestina, sedangkan Avila berasal Brasil.
“Saif Abu Keshek dan Thiago Avila, dari armada provokasi, dideportasi hari ini dari Israel pada Minggu setelah penyelidikan," tulis Kementerian Luar Negeri Israel di media sosial X.
1. Kedua aktivis bantah berafiliasi dengan kelompok teroris maupun melakukan tindakan ilegal

Dilansir France24, Abu Keshek disambut oleh para pendukungnya setibanya di Bandara El Prat, Barcelona, pada Minggu. Mereka meneriakkan “Hidup armada” sambil mengibarkan bendera Palestina menyambutnya.
“Hari ini saya tiba di Barcelona untuk menyiapkan koper saya, dan dalam beberapa hari saya akan kembali bergabung dengan rekan-rekan saya di Turki, karena perjalanan kami baru saja dimulai,” kata aktivis tersebut.
Sementara itu, istri Avila, Lara Souza, mengungkapkan bahwa dirinya sangat lega dan tidak sabar untuk kembali bertemu dengan suaminya.
Israel sebelumnya menuduh Abu Keshek memiliki hubungan dengan kelompok teroris, sementara Avila dicurigai terlibat dalam aktivitas ilegal. Keduanya membantah tuduhan tersebut, dengan menegaskan bahwa mereka menjalankan misi kemanusiaan untuk warga sipil Gaza. Mereka juga menilai penangkapan mereka di perairan internasional merupakan tindakan yang melanggar hukum.
2. Kedua aktivis disebut alami penganiayaan psikologis selama dalam penahanan

Adalah, kelompok hak asasi manusia yang mewakili Abu Keshek dan Avila, mengatakan bahwa kedua aktivis tersebut mengalami penyiksaan psikologis selama sepekan ditahan di kota Ashkelon, Israel selatan. Mereka disebut menjalani interogasi berkepanjangan, dikurung di sel dengan pencahayaan terang secara terus-menerus, isolasi total dan dipindahkan dengan kondisi mata tertutup, bahkan saat menjalani pemeriksaan medis.
Otoritas Israel membantah tuduhan tersebut, sementara pengadilan Israel dua kali menyetujui penahanan Abu Keshek dan Avila untuk memberikan waktu bagi polisi melakukan interogasi.
Kedua aktivis tersebut telah melancarkan mogok makan sejak awal penahanan mereka. Abu Keshek bahkan juga menolak minum air sejak 5 Mei. Spanyol, Brasil, dan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sebelumnya telah menuntut pembebasan mereka, dengan menyebut penahanan tersebut melanggar hukum, dilansir BBC.
3. Israel telah berulang kali cegat armada GSF yang berlayar ke Gaza

Armada GSF yang diikuti oleh Abu Keshek pada Avila berangkat dari Prancis, Spanyol dan Italia dengan tujuan menembus blokade Israel di Gaza dan mengirimkan bantuan kemanusiaan ke wilayah Palestina tersebut.
Israel sebelumnya juga mencegat armada GSF yang berlayar menuju Gaza pada Oktober 2025. Saat itu, lebih dari 470 orang di atas kapal, termasuk aktivis iklim asal Swedia Greta Thunberg, ditangkap sebelum kemudian dideportasi.
Perang genosida Israel di Gaza, yang meletus pada Oktober 2023, telah membunuh lebih dari 72 ribu warga Palestina serta membuat sebagian besar penduduk kehilangan tempat tinggal dan bergantung pada bantuan kemanusiaan. Lembaga bantuan mengatakan, Israel sering kali menghentikan atau menghambat distribusi bantuan sehingga menyebabkan wilayah tersebut kekurangan banyak kebutuhan penting.



















