Usai Erupsi Gunung Fuego, Guatemala Kini Terancam Lahar Dingin

- Erupsi Gunung Fuego selama 50 jam yang dimulai 3 Agustus 2026 telah mereda, tetapi hujan lebat memicu ancaman lahar dingin membawa lumpur dan batu ke permukiman.
- CONRED menetapkan siaga jingga; 1.700 warga dari 18 komunitas dievakuasi, dengan 1.522 orang ditampung di lima posko di Sacatepéquez dan Escuintla.
- Evakuasi diperketat setelah tragedi erupsi 2018 yang menewaskan sedikitnya 194 orang; warga diimbau menjauhi sungai dan zona bahaya meski aktivitas magmatis menurun.
Jakarta, IDN Times - Gunung Fuego di Guatemala kembali memuntahkan lava dan awan abu panas setinggi enam kilometer ke angkasa sejak Senin (3/8/2026). Erupsi dahsyat salah satu gunung api paling aktif di Amerika Tengah ini memaksa ribuan warga di sekitarnya mengungsi demi keselamatan mereka.
Badan Koordinasi Pengurangan Bencana Guatemala (CONRED) langsung menetapkan status siaga jingga atau tingkat bahaya tertinggi kedua secara nasional akibat peristiwa tersebut. Meskipun fase erupsi intens selama 50 jam itu kini telah mereda, ancaman baru yang tidak kalah mengerikan justru sedang mengintai warga di kaki gunung.
1. Ancaman lahar dingin setelah erupsi mereda

Fase erupsi intensif Gunung Fuego selama 50 jam dilaporkan telah resmi berakhir pada Rabu (5/8/2026). Meski aktivitas magmatis menurun, curah hujan tinggi kini menjadi kekhawatiran utama bagi tim penyelamat di lapangan. Air hujan yang mengguyur puncak gunung dikhawatirkan akan membawa akumulasi material vulkanik segar ke permukiman.
Menurut laporan otoritas setempat, aliran lahar dingin ini diproyeksikan mengalir cepat melewati jurang-jurang di lereng gunung setinggi 3.763 meter tersebut. Material lumpur padat bercampur batu besar ini berisiko menyapu jembatan, memutus jalur logistik, dan mengubur desa-desa terdekat. Pihak berwenang setempat pun terus memperingatkan masyarakat agar menjauhi jalur aliran air sungai.
2. Ribuan warga terpaksa mengungsi ke posko darurat

Erupsi hebat yang terjadi sejak awal pekan mendorong evakuasi besar-besaran di sekitar wilayah San Juan Alotenango. Sebanyak 1.700 warga dari setidaknya 18 komunitas telah dipindahkan secara bertahap sejak Senin (3/8/2026). "Jika perintah evakuasi dikeluarkan atau kondisi mengancam nyawa, ikuti prinsip evakuasi mandiri," imbau juru bicara CONRED, Valeria Urizar, dalam keterangan resminya.
Dilansir Discover Magazine, CONRED mencatat sekitar 1.522 pengungsi kini menempati lima posko darurat di wilayah Sacatepéquez dan Escuintla. Di sana, para pengungsi mendapatkan bantuan pangan, obat-obatan, serta layanan pendampingan psikologis dari petugas medis. Pemerintah juga terpaksa menutup sekolah-sekolah setempat dan memblokir jalan lintas utama guna mencegah jatuhnya korban jiwa.
3. Belajar dari tragedi mematikan pada 2018

Langkah cepat evakuasi mandiri yang dilakukan warga kali ini didorong oleh trauma mendalam masa lalu. Pada Juni 2018, Gunung Fuego pernah mengalami erupsi dahsyat yang menyemburkan aliran piroklastik panas tanpa peringatan memadai. Bencana tersebut meluluhlantakkan seluruh desa dan berdampak langsung pada 1,7 juta jiwa.
Tragedi mematikan delapan tahun silam itu menewaskan sedikitnya 194 orang, sementara ratusan lainnya dinyatakan hilang. Belajar dari kejadian kelam tersebut, kesadaran mitigasi bencana masyarakat setempat kini dinilai jauh lebih matang. Meskipun beberapa warga dilaporkan sempat mencoba kembali ke rumah secara mandiri pasca-erupsi mereda, pihak berwenang terus mengimbau agar mereka tetap mengutamakan keselamatan dan menjauhi zona bahaya.
Meskipun fase erupsi terkuat Gunung Fuego kini telah mereda, kewaspadaan tinggi tetap harus dijaga demi keselamatan bersama. Kerja sama solid antara pemerintah dan warga lokal menjadi kunci utama untuk menghindari jatuhnya korban akibat ancaman lahar dingin yang kini mengintai.




















