Jepang Kecam Kunjungan Pertama Vladimir Putin ke Kepulauan Kuril

- Jepang mengecam kunjungan pertama Presiden Rusia Vladimir Putin ke Kepulauan Kuril selama 25 tahun kepemimpinannya, memicu protes diplomatik karena Tokyo mengklaim wilayah tersebut.
- Di Pulau Iturup, Putin meninjau fasilitas pengolahan ikan, rumah sakit, dan sekolah setelah mengamati latihan Armada Pasifik; Rusia menolak protes Jepang dan menegaskan Kuril miliknya.
- Sengketa Kuril berawal dari penguasaan Uni Soviet atas empat pulau pada 1945, membuat Jepang dan Rusia belum menandatangani perjanjian damai resmi sejak Perang Dunia II.
Referensi;
https://www.theguardian.com/world/2026/aug/13/japan-condemns-vladimir-putin-visit-kuril-islands
https://www.bbc.com/news/articles/cqx7ple0nxxo
https://www.aljazeera.com/news/2026/8/13/japan-protests-as-russias-putin-visits-disputed-kuril-islands
https://www.dw.com/en/russias-putin-angers-japan-with-1st-visit-to-kuril-islands/a-78345291
https://edition.cnn.com/2026/08/13/asia/putin-kuril-islands-japan-intl
Jakarta, IDN Times - Pemerintah Jepang mengecam kunjungan Presiden Rusia Vladimir Putin ke Kepulauan Kuril pada Kamis (13/8/2026). Langkah Putin ini memicu protes diplomatik dari Tokyo yang mengklaim kepemilikan atas wilayah tersebut.
Kunjungan tersebut menjadi momen pertama bagi Putin menjejakkan kaki di Kepulauan Kuril setelah 25 tahun memimpin Rusia. Peristiwa ini diperkirakan akan makin memperburuk hubungan kedua negara yang sudah dingin akibat invasi Rusia ke Ukraina.
1. Jepang sebut kunjungan Putin tidak dapat diterima

PM Jepang Sanae Takaichi (内閣広報室|Cabinet Public Affairs Office, CC BY 4.0, via Wikimedia Commons) Perdana Menteri (PM) Jepang Sanae Takaichi menyatakan kunjungan Putin sangat tidak dapat diterima. Ia menilai langkah Presiden Rusia itu telah melukai perasaan rakyat Jepang.
"Kunjungan Presiden Rusia ini bertentangan dengan posisi konsisten Jepang mengenai Wilayah Utara," kata Takaichi, dilansir Al Jazeera.
Menteri Luar Negeri Jepang Toshimitsu Motegi juga memprotes kunjungan tersebut. Ia menegaskan bahwa kepulauan itu secara historis dan hukum internasional merupakan bagian dari wilayah Jepang. Motegi dilaporkan telah memanggil Duta Besar Rusia Nikolay Nozdrev ke Kementerian Luar Negeri di Tokyo. Langkah ini diambil untuk menyampaikan keberatan dan mendesak Moskow agar segera menanggapi protes tersebut.
2. Putin tinjau fasilitas publik di Pulau Iturup

Presiden Rusia, Vladimir Putin (Duma.gov.ru, CC BY 4.0 <https://creativecommons.org/licenses/by/4.0>, via Wikimedia Commons) Dalam kunjungannya ke Pulau Iturup, Putin melakukan inspeksi ke sejumlah fasilitas publik dan ekonomi. Pemimpin Rusia itu meninjau kompleks pengolahan ikan Yasny, rumah sakit, serta sebuah sekolah menengah.
Putin didampingi oleh Gubernur Wilayah Sakhalin, Valery Limarenko, selama kegiatan berlangsung. Sebelum tiba di Iturup, Putin sempat singgah di Pulau Sakhalin untuk mengamati latihan militer Armada Pasifik Rusia.
Pihak Rusia menegaskan bahwa kunjungan kepresidenan merupakan keputusan yang tidak dapat dicampuri oleh negara asing. Kedutaan Besar Rusia di Tokyo menolak protes dari pihak Jepang dan menyebutnya tidak berdasar.
"Obrolan ini tidak akan mengubah apa pun. Kepulauan Kuril akan selalu menjadi bagian dari wilayah Rusia. Siapa pun yang gagal memahami hal ini akan menghadapi konsekuensi mengerikan dari khayalan mereka," ujar Wakil Ketua Dewan Keamanan Rusia Dmitry Medvedev, dikutip dari CNN.
3. Sengketa Kepulauan Kuril berlangsung sejak Perang Dunia II
Akar perselisihan kedua negara bermula pada akhir Perang Dunia II saat Uni Soviet merebut empat pulau di kawasan tersebut pada 1945. Pendudukan itu berujung pada pengusiran sekitar 17 ribu warga Jepang yang menetap di sana.
Kepulauan yang membentang dari Semenanjung Kamchatka hingga Hokkaido ini memiliki nilai strategis dan ekonomi yang tinggi. Wilayah ini kaya akan deposit mineral seperti emas dan perak, serta menyimpan potensi perikanan yang melimpah. Jepang mengklaim empat pulau paling selatan sebagai Wilayah Utara yang mencakup Etorofu (Iturup), Kunashiri, Shikotan, dan Habomai. Sementara itu, Rusia menguasai kawasan tersebut dan menamakannya Kepulauan Kuril Selatan.
Sengketa wilayah yang tak kunjung usai ini menjadi alasan utama Tokyo dan Moskow belum pernah menandatangani perjanjian damai resmi sejak Perang Dunia II. Upaya diplomasi selama puluhan tahun kini terhenti seiring meningkatnya ketegangan geopolitik.


















