Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Katolik Afrika Sayangkan Perselisihan Donald Trump dengan Paus Leo XIV

Katolik Afrika Sayangkan Perselisihan Donald Trump dengan Paus Leo XIV
Ilustrasi gereja (unsplash.com/Brandon Morgan)
Intinya Sih
  • Paus Leo XIV memulai perjalanan apostolik di Afrika yang dibayangi ketegangan diplomatik dengan Presiden AS Donald Trump akibat perbedaan pandangan soal aksi militer di Timur Tengah.
  • Ketegangan meningkat setelah Trump menanggapi kritik Paus dengan unggahan gambar AI bernuansa religius, yang dianggap umat Katolik Afrika menyinggung simbol keagamaan dan mencampuradukkan politik dengan iman.
  • Gereja Katolik melalui Kardinal Stephen Brislin menegaskan komitmen menjaga integritas nilai meski dikritik, sementara umat mengapresiasi sikap tenang Paus Leo XIV menghadapi komentar Trump.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Jakarta, IDN Times - Paus Leo XIV tiba di Bandara Internasional Yaounde Nsimalen, Kamerun, pada Rabu (15/4/2026). Kunjungan ini merupakan bagian dari perjalanan apostolik selama sebelas hari di Afrika, yang juga mencakup Aljazair, Angola, dan Guinea Khatulistiwa. Namun, agenda ini turut dibayangi oleh ketegangan diplomatik dengan Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, yang sebelumnya melontarkan kritik publik terhadap kepemimpinan Gereja Katolik.

Perselisihan ini bermula dari perbedaan pandangan mengenai aksi militer di Timur Tengah. Saat ini, Afrika merupakan basis penting bagi gereja Katolik dengan populasi umat mencapai 288 juta orang. Sebagian masyarakat di Afrika merasa kurang nyaman dengan gaya komunikasi Presiden Trump yang dinilai mengabaikan aspek kemanusiaan. Mereka memandang bahwa kritik terhadap Paus menyinggung batas kesopanan, mengingat peran besar institusi gereja dalam menyediakan layanan kesehatan dan sosial di berbagai wilayah Afrika.

1. Diplomat Kamerun terkejut dengan pernyataan Trump

Blaise Bebey Abong, seorang diplomat dari Kamerun, menyatakan keprihatinannya terhadap pernyataan Presiden Donald Trump. Menurutnya, pernyataan tersebut kurang pantas diarahkan kepada Paus yang menjadi simbol harapan bagi banyak orang. Ia menambahkan bahwa Paus Leo XIV, meskipun lahir di AS, memiliki pemahaman yang mendalam mengenai kebutuhan masyarakat di negara-negara berkembang.

"Saya sangat terkejut melihat pernyataan Presiden Trump terhadap Paus. Dalam sejarah modern, belum pernah ada pernyataan setajam itu yang diarahkan kepada lembaga yang sangat dihormati seperti kepemimpinan gereja," kata Blaise Bebey Abong, dilansir India Today.

Abong menilai bahwa pernyataan Trump dapat memengaruhi citra AS di mata masyarakat Afrika, termasuk di kalangan pihak yang mendukung kebijakan ekonominya. Hal ini dikhawatirkan memicu sentimen negatif, terutama saat Paus sedang berupaya membawa pesan rekonsiliasi untuk menyelesaikan konflik internal di Kamerun dan wilayah sekitarnya.

2. Konflik di Iran dan unggahan gambar AI menjadi pemicu

Ketegangan antara kedua tokoh ini bermula ketika Paus Leo XIV menyampaikan kritik terhadap operasi militer AS dan Israel di Iran pada Maret 2026. Paus mengimbau agar kekerasan segera dihentikan demi mencegah eskalasi konflik yang lebih luas. Trump kemudian merespons melalui media sosial dengan menyebut Paus sebagai sosok yang "lemah" dan memiliki kebijakan yang kurang tepat.

Situasi semakin menjadi sorotan saat Trump mengunggah gambar hasil rekayasa kecerdasan buatan (AI) yang menampilkan dirinya dalam pose menyerupai Yesus Kristus. Ia juga mengunggah gambar Yesus yang sedang merangkulnya dengan narasi bahwa dirinya ditugaskan untuk melawan kekuatan jahat. Meskipun unggahan tersebut pada akhirnya dihapus, umat Katolik di Afrika menilai tindakan itu menyinggung sentimen keagamaan dan terkesan memanfaatkan simbol agama untuk kepentingan politik.

3. Gereja Katolik dan umat memilih tetap tenang

Menanggapi kritik dari Washington, Kardinal Stephen Brislin dari Johannesburg memberikan pernyataan resmi. Ia menekankan bahwa Gereja Katolik telah melewati berbagai dinamika politik sepanjang sejarah dan akan tetap menjaga integritas nilainya. Ia memastikan bahwa gereja tidak akan terpengaruh oleh tekanan dari pihak mana pun.

"Gereja sudah melewati banyak masa sulit, mulai dari revolusi hingga berbagai benturan ideologi. Gereja akan tetap bertahan, namun sikap tenang kami bukan berarti kami tidak peduli terhadap komentar yang menyudutkan ini," kata Kardinal Stephen Brislin.

Di tingkat akar rumput, masyarakat seperti Kwaku Amoah dari Ghana memberikan apresiasi terhadap sikap Paus Leo XIV yang memilih untuk tetap tenang dan tidak merespons pernyataan personal Trump secara langsung. Sikap menahan diri Paus ini dipandang sebagai bentuk kedewasaan moral yang lebih tinggi.

"Menyudutkan seseorang di depan umum bukanlah tindakan yang tepat. Gereja mengajarkan kita untuk menghadapi permusuhan dengan kesabaran, dan saya mengapresiasi langkah Paus yang mampu menahan diri," kata Kwaku Amoah.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Ernia Karina
EditorErnia Karina
Follow Us

Latest in News

See More