Meski Sibuk Perangi Iran, AS Gelar Tetap Latihan Militer Bareng Korsel

- Amerika Serikat dan Korea Selatan menggelar latihan militer besar bertajuk “Freedom Shield” pada 9–19 Maret 2026, melibatkan sekitar 18 ribu tentara Korsel.
- Latihan ini berpotensi memicu ketegangan dengan Korea Utara yang menilai kegiatan tersebut mengancam keamanan dan kedaulatan negaranya.
- Latihan berlangsung di tengah perang AS dan sekutunya melawan Iran, sementara Presiden Trump mendesak Iran menyerah namun Teheran memilih jalur diplomasi.
Jakarta, IDN Times - Amerika Serikat dilaporkan menggelar latihan militer besar-besaran bersama Korea Selatan pada Senin (9/3/2026). Latihan militer tersebut akan dilakukan sampai 19 Maret 2026 mendatang.
Kepala Staf Gabungan militer Korsel yang tidak disebut namanya mengatakan, sebanyak 18 ribu tentaranya ikut serta dalam latihan ini. Namun, ia tidak memberikan info detail soal jumlah pasukan Negeri Paman Sam yang ikut dalam latihan.
Latihan yang dilakukan AS-Korsel ini bertajuk “Freedom Shield”. Kedua negara sering melakukan latihan ini setiap tahunnya. Latihan bersama terakhir digelar pada Agustus 2025 lalu.
1. Latihan militer AS-Korsel bisa picu amarah Korea Utara

Latihan militer AS dan Korsel ini berpotensi memicu amarah Korea Utara. Sebab, Korut dan pemimpinnya, Kim Jong Un, tidak suka Korsel melakukan latihan militer bersama AS. Menurut Kim, hal tersebut akan mengganggu keamanan dan kedaulatan negaranya. Inilah yang membuat hubungan Korut dan Korsel memanas hingga kini.
Di samping itu, latihan militer ini juga bisa memperkeruh hubungan AS dan Korut. Sebab, hubungan kedua negara sudah retak sejak 2019 lalu. Saat itu, Korut resmi membatasi hubungan diplomatik dengan AS. Hal ini karena Negeri Paman Sam berupaya menghentikan program senjata nuklir Korut.
Hingga saat ini, hubungan Korut dengan AS dan Korsel masih belum membaik. Bahkan, beberapa waktu lalu, Kim menyebut AS dan Korsel akan tetap menjadi musuh besar bagi Korut selamanya.
2. Latihan militer AS-Korsel dilakukan di tengah perang melawan Iran

Sebagai informasi, latihan militer antara AS dan Korsel ini dilakukan di tengah perang melawan Iran. Sebab, saat ini, AS dan sekutunya, Israel, masih melakukan serangan terhadap negara mayoritas Islam Syiah tersebut.
Menurut Duta Besar Iran untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Saeid Iravani, jumlah korban tewas di Iran akibat serangan AS dan Israel kini sudah mencapai sekitar 1.332 orang. Jumlah tersebut bisa meningkat jika Washington dan Tel Aviv terus menggempur Iran tanpa henti.
Saat ini, perang juga sudah menyebar ke sejumlah negara di Kawasan Timur Tengah, seperti di Arab Saudi, Bahrain, Kuwait, Qatar, dan Uni Emirat Arab. Sebab, Iran kini mulai melakukan serangan ke markas militer AS yang ada di negara-negara tersebut.
3. Donald Trump minta Iran segera menyerah

Sebetulnya, Presiden AS, Donald Trump, beberapa waktu lalu sudah meminta Iran untuk menyerah tanpa syarat. Ini dilakukan agar perang segera berakhir. Namun, Pemerintah Iran menegaskan tidak akan menyerah karena alasan apa pun. Presiden Pezeshkian, menegaskan akan terus melawan AS dan Israel.
Meski begitu, Pezeshkian mengatakan Iran tetap mengedepankan jalan diplomasi dengan AS dan Israel agar konflik segera usai. Sebab, ia menilai cara tersebut lebih efektif untuk menyelesaikan konflik ketimbang agresi militer.
"Gagasan bahwa kita akan menyerah tanpa syarat, mereka harus mengubur mimpi seperti itu sampai mati. Saya pikir kita harus menyelesaikan ini melalui diplomasi," kata Pezeshkian, seperti dilansir The Economic Times.



















