Korsel Lirik Afrika sebagai Alternatif Pasokan Minyak

- Korsel mulai melirik Afrika sebagai alternatif pasokan minyak untuk mengurangi ketergantungan pada Timur Tengah akibat meningkatnya risiko di Selat Hormuz.
- Pemerintah Korsel memastikan pasokan minyak domestik tetap stabil meski ada kapal tertahan, dengan stok dan impor yang cukup hingga Mei 2026.
- Seoul mengambil langkah mitigasi seperti pengalihan rute ke Laut Merah, penjagaan militer, diversifikasi impor dari negara lain, dan alokasi dana besar untuk menjaga stabilitas energi nasional.
Jakarta, IDN Times - Korea Selatan (Korsel) mulai mempertimbangkan Afrika sebagai mitra strategis, bukan menggantikan, pasokan minyak Timur Tengah. Langkah ini diambil seiring meningkatnya risiko pada jalur pelayaran di Selat Hormuz akibat konflik Amerika Serikat (AS)-Israel dan Iran yang terus berlanjut.
Laporan terbaru dari Institut Strategi Keamanan Nasional (INSS) pada 10 April 2026 menyatakan bahwa minyak Afrika dapat membantu Korsel mendiversifikasi risiko, sekaligus menjembatani respons krisis jangka pendek dan strategi ketahanan energi jangka panjang.
Laporan memaparkan bahwa risiko saat ini telah bergeser dari sekadar fluktuasi harga menjadi risiko pasokan fisik, di mana ketersediaan volume minyak menjadi tidak pasti. Ketergantungan Seoul yang tinggi pada minyak Timur Tengah dinilai membuatnya rentan terhadap gejolak geopolitik.
1. Tantangan dalam pengadaan minyak mentah dari Afrika

Peneliti INSS, Kim Yun-hee, mengatakan minyak mentah dari Nigeria, Libya, Angola, dan Aljazair merupakan pilihan praktis untuk memperkuat ketahanan energi Korsel. Ia menekankan bahwa karakteristik minyak Afrika yang ringan dan rendah sulfur sangat efisien untuk penyulingan. Keuntungan utamanya adalah rute pengiriman yang dapat menghindari Selat Hormuz.
"Strategi yang efektif adalah mendiversifikasi sumber dan mendistribusikan risiko ke berbagai wilayah, daripada mencoba mengganti peran Timur Tengah sepenuhnya," ujar Kim, dilansir Korea Herald, Senin (13/4/2026).
Namun, laporan tersebut juga memberikan catatan mengenai kendala di Afrika, seperti risiko gangguan pipa dan fasilitas keamanan karena ketidakstabilan politik, dan infrastruktur terbatas karena pelabuhan yang belum berkembang menghambat ekspor skala besar. Serta, adanya persaingan global yang disebabkan perebutan pasokan dengan China, Eropa, dan India.
2. Korsel jamin pasokan minyak domestik tetap stabil meskipun terjadi blokade Selat Hormuz

Menteri Perindustrian Korsel, Kim Jung-kwan, memastikan bahwa pasokan minyak nasional masih stabil, meski tujuh kapal tanker yang membawa total 14 juta barel minyak saat ini tertahan di Selat Hormuz.
"Kami telah mengamankan sekitar 80 persen dari tingkat impor biasa hingga Mei, melalui stok perusahaan dan volume yang telah diamankan," ujar Kim dalam wawancara dengan KBS pada Minggu (12/4/2026).
Korsel diperkirakan mampu melewati April dan Mei tanpa langkah darurat, berbeda dengan situasi saat perang Rusia-Ukraina.
Kim menambahkan bahwa pemerintah belum merasa perlu melepaskan cadangan minyak strategis negara untuk saat ini. Menurutnya, inti dari menanggapi krisis energi adalah konservasi dan efisiensi. Korsel akan menggunakan situasi ini sebagai peluang untuk memperkuat rantai pasokan energi nasional, dilansir Korea JoongAng Daily.
3. Upaya pemerintah Korsel untuk mengurangi dampak negatif dari krisis energi

Untuk memitigasi dampak krisis, pemerintah Korsel mengambil langkah-langkah, seperti mengalihkan pengiriman ke Pelabuhan Yanbu Arab Saudi di Laut Merah. Pihaknya juga mempertimbangkan pengawalan kapal-kapal oleh unit militer Cheonghae untuk pengiriman.
Selain mempertimbangkan Afrika, Seoul juga sedang berupaya mendiversifikasi sumber impor minyak mentah dari Kazakhstan dan AS. Hasilnya akan diumumkan pekan depan.
Korsel juga mengalokasikan dana sebesar 869,1 miliar won (sekitar Rp10 triliun), guna menstabilkan pasokan nafta bagi industri petrokimia. Pasokan tersebut diperkirakan pulih hingga 80 persen dalam dua bulan ke depan. Seoul juga memastikan pasokan gas helium untuk industri semikonduktor tetap aman hingga akhir Juni, melalui impor dari AS.
















