Menurut keterangan seorang pejabat Irak anonim pada Kamis (14/5/2026), peminjaman uang ke IMF dan World Bank ini bertujuan untuk memulihkan krisis ekonomi dalam negeri. Sebab, situasi ekonomi di Irak kini sedang tidak baik-baik saja akibat perang Iran melawan Amerika Serikat dan Israel.
Krisis Ekonomi, Irak Cari Pinjaman Uang ke IMF dan World Bank

- Pemerintah Irak tengah bernegosiasi dengan IMF dan World Bank untuk memperoleh pinjaman guna memulihkan ekonomi yang terpukul akibat konflik antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel.
- Blokade penuh Iran di Selat Hormuz sejak Februari membuat Irak kehilangan pendapatan utama dari ekspor minyak, memperparah krisis ekonomi dalam negeri.
- Presiden AS Donald Trump sempat merencanakan operasi Project Freedom untuk membuka jalur pelayaran di Selat Hormuz, namun menundanya karena adanya peluang kesepakatan damai dengan Iran.
Jakarta, IDN Times - Irak dikabarkan telah mengajukan peminjaman uang ke International Monetary Fund (IMF) dan World Bank. Saat ini, Irak dikabarkan sedang berdiskusi dengan IMF dan World Bank terkait jumlah uang yang ingin mereka pinjam.
1. Irak tidak bisa mengekspor minyak karena Selat Hormuz ditutup Iran

Perang antara Iran dengan AS dan Israel ini membuat Irak tidak bisa menjual minyaknya ke luar negeri. Ini terjadi karena Iran kini masih memblokade Selat Hormuz secara penuh. Selat tersebut merupakan jalur utama yang digunakan Irak untuk mengekspor minyak ke pasar global.
Imbas blokade ini, Irak harus rela kehilangan sebagian besar pendapatannya dari sektor minyak. Hal inilah yang membuat kondisi ekonomi Irak memburuk. Sebab, negara mayoritas Islam Syiah itu sangat bergantung pada ekspor minyak ke luar negeri sebagai sumber pendapatan mereka.
2. Iran mulai memblokade Selat Hormuz pada Februari

Sebagai informasi, Iran mulai memblokade Selat Hormuz pada 28 Februari. Blokade ini dilakukan sebagai balasan atas serangan AS dan Israel di Teheran. Serangan tersebut menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei. Kala itu, kematian Khamenei menjadi duka mendalam bagi seluruh warga Iran.
Pada 17 April, Iran sebetulnya sudah bersedia membuka kembali Selat Hormuz secara penuh sebagai balasan karena AS bersedia menyetujui gencatan senjata. Namun, sehari setelahnya, tepatnya pada 18 April, Iran memutuskan untuk menutup lagi selat tersebut. Langkah ini dilakukan sebagai bentuk protes Iran karena AS tetap memblokade semua pelabuhan miliknya meski sudah ada gencatan senjata.
3. Donald Trump sempat berencana melakukan operasi Project Freedom

Untuk melawan blokade Iran di Selat Hormuz, Presiden AS, Donald Trump, sempat berencana melakukan operasi Project Freedom. Rencana tersebut disampaikan Trump lewat sebuah unggahan di Truth Social pada 3 Mei lalu. Operasi ini dilakukan untuk mengawal kapal-kapal agar bisa berlayar di Selat Hormuz dengan bebas tanpa ancaman dari Iran.
Namun, Trump akhirnya memutuskan untuk menunda operasi Project Freedom. Sebab, Trump mengklaim kesepakatan damai dengan Iran sudah semakin dekat. Trump bahkan mengklaim Iran akan segera menyetujui kesepakatan tersebut. Kendati begitu, ia menegaskan bakal meluncurkan operasi Project Freedom Plus di Selat Hormuz jika negosiasi perdamaian dengan Iran gagal lagi.

















